Taufik, Pakdhe korban dugaan aksi bullying siswa di SMPN 16 Kota Malang saat ditemui awak media (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Taufik, Pakdhe korban dugaan aksi bullying siswa di SMPN 16 Kota Malang saat ditemui awak media (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Korban dugaan aksi perundungan atau bullying siswa SMPN 16 Kota Malang berinisial MS, hingga saat ini masih menjalani perawatan di RS Lavalette. Aksi yang dikabarkan dilakukan oleh tujuh temannya tersebut, menyebabkan tubuh MS mengalami luka lebam di bagian kaki, punggung, tangan, bahkan jari tengah korban bakal diamputasi sore ini (Selasa, 4/2).

Mengacu pada kronologis kejadian, informasi yang beredar di masyarakat jika kejadian itu dilakukan karena gurauan temannya. Namun, hal itu ramai menjadi perbincangan publik lantaran aksi gurauan yang seolah dianggap tak masuk akal karena menyebabkan seseorang mengalami luka parah.

Sayangnya, MS sendiri hingga saat ini masih belum mau banyak bicara terkait apa yang dialaminya. Hal itu, dibenarkan oleh pihak keluarga korban jika sang keponakan tidak mau menceritakan secara detail atas apa yang dialaminya itu.

"Kronologisnya tetap kami tidak bisa menyimpulkan dan tidak tahu persisnya. Ponakan kami pun ya ceritanya nggak bisa kami konfirmasi, masih ada traumatik kayaknya," ungkap pakdhe korban, Taufik saat dikonfirmasi awak media.

MS sendiri di sekolah aktif dalam beberapa kegiatan, mulai Paskibra, Pramuka, dan BDI (Badan Dakwah Islam), hingga menjadi ketua kelas. Namun, menurut Taufik selama ini sang keponakan memang dinilai sebagai sosok yang pendiam.

"Dia ketua kelas, aktif Pramuka juga. Tipe anak pendiam ponakan kami itu, bukan pengadu. Bahkan sampai saat ini soal tangannya dia masih belum mau bicara. Dia nggak pernah mengalami apapun terus mengadu," jelasnya.

Bahkan, ketika mendapat kunjungan di rumah sakit, Taufik menyatakan jika ponakannya sempat histeris. Seiring berjalannya waktu, dengan terus menerus diajak ngobrol pelan-pelan MS hanya mengaku kalau mendapat perlakuan tidak menyenangkan di sekolah.

"Terbaru ya (yang diungkapkan MS) itu aja yang dialami. Jatuh, dijatuhin. Dia dijatuhin temennya, ada perlakuan-perlakuan tidak mengenakkan ke dia. Cuma seperti apa enggak dibilang," imbuhnya.

Bahkan, hingga sebelum MS dibawa ke rumah sakit pihak keluarga hanya diberitahu jika luka lebam di tubuhnya akibat jatuh di sekolah. Dari situ, memang keluarga belum menaruh curiga hingga MS mengeluh kesakitan dan menangis. Sehingga, inisiatif dari keluarga untuk langsung membawa ke rumah sakit.

"Kita nggak curiga awalnya, karena kita tanya anak ini ngakunya jatuh. Sekitar satu mingguan kayaknya sebelum masuk rumah sakit itu, dia nangis ngeluh sakit nggak tahan sepertinya, kita lihatnya ya langsung kita bawa ke rumah sakit," paparnya.

Hingga saat ini perihal aksi dugaan bullying yang menyebabkan keponakannya harus menjalani perawatan, pihak keluarga mengaku masih menghormati proses mediasi yang telah dilakukan dengan pihak sekolah. Yang terpenting, bagi mereka kondisi kesehatan MS bisa pulih dan ada pertanggungjawaban.

"Kami menghormati proses mediasi secara kekeluargaan, dan sudah berjalan. Kami menjaga ponakan kami, sekolahnya, dan menghormati prosesnya," tandasnya.