Wali Kota Malang Sutiaji (kenakan seragam purih) saat meninjau langsung temlat tinggal semi permanen di bawah kolong Jembatan Kahuripan Kota Malang (Humas Pemkot Malang for MalangTIMES).
Wali Kota Malang Sutiaji (kenakan seragam purih) saat meninjau langsung temlat tinggal semi permanen di bawah kolong Jembatan Kahuripan Kota Malang (Humas Pemkot Malang for MalangTIMES).

MALANGTIMES - Dua perempuan paruh baya, Sunarmi (65 tahun) dan Tumi Astuti (59) sengaja tinggal di bawah jembatan Kahuripan Kota Malang sejak puluhan tahun lalu. 

Mereka yang menempati bangunan semi permanen itu tak hanya berdua saja, melainkan juga bersama puluhan anjing.

Saat ditemui MalangTIMES, Tumi Astuti bercerita jika ia sejak lama tinggal di bawah jembatan bersejarah itu. 

Namun dia tak secara spesifik menyebut angka tahun pertama kali ia menempati kawasan tersebut. 

Di sana, ia menernak puluhan anjing yang kemudian dijual di Pasar Burung Spleended yang jaraknya tak jauh dari tempat tinggalnya tersebut.

"Tapi yang saya jual yang kecil-kecil. Harganya Rp 100 ribu per ekor. Kalau yang besar nggak saya jual," katanya.

Kondisi bangunan semi permanen di bawah jembatan kahuripan kota malang (Pipit Anggraeni/MalangTIMES)

Di rumah yang diberi pembatas kayu dan seng itu, Tumi setiap harinya tinggal dan tidur. 

Di sana bahkan terdapat dapur, kamar tidur, dan tempat untuk mengasuh anjing. Terdapat juga penerangan dan saluran air yang diperoleh dari perkampungan yang tak jauh dari tempat tinggalnya tersebut.

Saat ditanyai lebih jauh, Tumi menyampaikan jika ia memiliki rumah permanen di Mergosono Gang 9. 

Namun sehari-hari ia tetap menempati rumah tersebut dengan alasan menjaga anjing yang ia ternak. Setiap harinya ia pun memberi makan puluhan anjingnya itu dengan nasi dan tulang.

"Saya tinggal berdua sama Sunarmi. Masih saudara, sepupu," tambahnya.

Sementara itu, Sunarmi yang kesehariannya tingga bersama Tumi bercerita jika ia tinggal di kolong jembatan itu sejak lama, sekitar tahun 1972. 

Sedangkan untuk anjing yang diternak bersama sepupunya itu baru di bawa ke bawah jembatan sejak awal tahun 2000 an.

"Kami sepupuan, sudah lama tinggal di sini," katanya.

Meski tinggal berdua saja, Sunarmi dan Tumi mengaku sama sekali tak takut. Karena mereka telah terbiasa tinggal di sana. Bahkan, mereka juga telah memiliki penerangan atau listrik.

Sunarmi dan Tumi pun pada Rabu (4/12/2019) didatangi langsung Wali Kota Malang Sutiaji. 

Sutiaji berdiskusi langsung dengan ke duanya dan meninjau setiap titik rumah semi permanen tersebut.

Sutiaji pun menyarankan agar keduanya kembali ke rumahnya masing-masing dan tak lagi menempati kolong jembatan Kahuripan. 

Sebab ke duanya memiliki keluarga dan tempat tinggal yang lebih layak untuk dihuni.

"Kami minta untuk kembali," jelasnya.

Lebih jauh Sutiaji menyampaikan, kolong jembatan merupakan area yang dilarang untuk ditempati. 

Dia pun meminta pengertian Sunarmi dan Tuti untuk segera meninggalkan lokasi tersebut. Dia memberi waktu selama satu minggu terhitung sejak hari ini, Rabu (4/12/2019) untuk kemudian meninggalkan lokasi.

"Nanti Dinas Sosial akan lakukan pendataan lebih lanjut dan agar langsung ditangani. Karena semua tugas dan kewajiban ada di Liponsos dengan segala skemanya," jelasnya.

Saat kunjungan itu, puluhan anjing yang berada di dalam bangunan semi permanen itu pun mengonggong cukup keras. 

Selain anjing, juga terdapat puluhan ekor kucing yang berada di kawasan yang sama.