Ilustrasi metode pendidikan dalam belajar mengajar yang dituntut untuk terus berubah secara kreatif dan inovatif (Ist)
Ilustrasi metode pendidikan dalam belajar mengajar yang dituntut untuk terus berubah secara kreatif dan inovatif (Ist)

MALANGTIMES - Dinas Pendidikan Kabupaten Malang terus berlari di era revolusi industri 4.0 saat ini. 

Khususnya para pendidik di berbagai satuan pendidikan yang dituntut terus berkreasi secara kreatif dan mampu melahirkan berbagai inovasi dalam proses belajar mengajar.

Era yang berubah, tak bisa hanya dihadapi dengan konsep konvensional. Tak terkecuali pola belajar mengajar para siswa saat ini, sebuah perubahan nyata dan tentunya perlu dijawab oleh para pendidik atau guru di Kabupaten Malang.

Hal ini pula yang membuat Dinas Pendidikan Kabupaten Malang terus juga menggelar berbagai kegiatan bagi para guru untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan kreatif dalam belajar mengajar yang tak hanya bersifat monolog. 

Termasuk tak hanya mengandalkan satu media saja dalam penyampaian materi pelajaran kepada anak didiknya saat ini.

"Zaman telah berubah dan tentunya juga kita harus berubah. Tak terkecuali di sektor pendidikan, dimana guru juga dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam pembelajaran. Karena itu ajang lomba karya inovasi pembelajaran (Inobel)  bisa jadi ruang untuk itu," kata Rachmat Hardijono Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang melalui Sujarwo Kasie Penilik dan Pengawas, Selasa (3/12/2019).

Inobel yang digelar Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, bisa dikatakan cukup memberikan ruang bagi para guru untuk memperlihatkan berbagai inovasinya. Juga memberikan asa kepada dunia pendidikan, khususnya para siswa untuk bisa mendapatkan metode pembelajaran yang mampu membangkitkan rasa penasaran, dilakukan dengan gembira serta tepat tujuan dengan kondisi saat ini.

Peluang untuk saling tukar pengalaman dan pengetahuan antar guru pun bisa terjalin dengan adanya Inobel. 

Replikasi inovasi bisa jadi salah satu dari tujuan acara digelar. Tentunya dengan penilaian yang ketat pula, nantinya berbagai inovasi akan tersaring dan bisa dipergunakan dalm proses belajar mengajar di sekolahan.

"Kemarin sudah sampai tahap kedua Inobel. Dimana ada sebanyak 25 guru dari jenjang TK, SD dan SMP yang berlomba menampilkan karyanya," ujar Sujarwo.

Tak hanya hasil inovasi yang disaring ketat oleh juri. Tapi juga ada keterampilan menyampaikan presentasi, penguasaan materi, kreativitas penyajian, sikap serta kemampuan berargumentasi.

Hal ini didasarkan, hasil inovasi yang ditampilkan oleh 25 guru dari berbagai jenjang itu benar-benar bisa dipraktekkan dalam keseharian mereka dalam belajar mengajar siswanya.

Dimana, untuk menerapkannya tentu butuh penguasaan lain yang tak hanya bertumpu pada produk inovasi yang dibuat para guru.

Hal ini dibenarkan oleh salah satu juri Inobel jenjang TK/SD bernama Titik Purwanti. 

Dimana dirinya mengatakan, terdapat lima aspek dengan masing-masing lima indikator dalam penilaian presentasi dalam Inobel. 

"Dalam penguasaan materi, misalnya, apakah inovasi yang diangkat  itu aktual atau tidak. Didukung teori atau tidak. Lalu adakah pendukungan bukti empirisnya atau tidak," ujarnya. 

Begitu pula, lanjut Titik, bagaimana seorang guru juga mampu menyampaikan inovasi pembelajarannya kepada siswa dalam kelas.

Dimana siswa bisa tertarik dengan pola pembelajaran tersebut. 

"Jadi kita nilai secara komprehensif, baik inovasinya maupun pencetus dan pembuatnya juga. Karena yang dihadapi nantinya dalam menerapkan itu adalah para siswa," urainya.

Ia juga mengatakan dari 25 guru yang beradu inovasi itu nantinya akan disaring sesuai kriteria juri menjadi tiga penyaji terbaik dari jenjang TK, SD, dan SMP. 

"Tak hanya itu nantinya dari 3 guru itu juga akan dinilai langsung praktiknya dalam proses belajar mengajar di sekolahnya masing-masing," imbuh Titik.

Lantas inovasi apa sajakah yang dilahirkan para guru dalam Inobel tersebut?

Di jenjang TK, inovasi yang cukup kreatif diperlihatkan oleh Rinda Candra Puspita dari TK Restu PGRI 03 Pujon. 

Dimana dirinya menampilkan inovasi yang disebutnya Jus Alpabet Ayang (Anak Tersayang).

Inovasi yang terkesan sederhana ini yaitu melibatkan anak membuat jus buah, bila ditarik dalam proses belajar mengajar di sekolah terbilang menarik.

"Anak akan tertarik belajar buah-buahan. Dengan inovasi ini anak-abak tak hanya mengenal berbagai jenis buah hanya di buku. Atau hanya memberi warna pada gambar buah saja. Tapi anak-anak juga langsung berhadapan dengan berbagai buah, serta dikenalkan secara langsung cara memproduksinya jadi minuman atau jus," urai Rindra.

Ia juga mengatakan lewat inovasinya juga anak-anak TK dikenalkan juga manfaat dari buah-buahan tersebut bagi kesehatan.

Lain lagi dengan yang ditampilkan Melia Fitriani, guru SDN 1 Sidodadi, Ngantang. 

Melalui inovasi pembelajaran berupa Rainbow Balls Throwing, Melia mengajak siswa permainan lempar bola.

Tapi, lanjutnya, bukan hanya lempar bola saja tujuan dari inovasinya tersebut. 

"Lewat inovasi ini siswa diajari membuat rangkaian seri atau rangkaian paralel. Dimana teknisnya dari bola warna warni sebagai media inovasi kita lemparkan ke siswa. Para siswa yang mendapat bola warna sama wajib membentuk grup untuk membuat rangkaian," ucap Melia.

Berbagai inovasi lainnya pun tak kalah menarik dari para guru dalam Inobel tersebut. 

Sebuah upaya yang tentunya patut untuk terus diapresiasi dalam menghadapi berbagai tantangan di era saat ini dalam proses belajar mengajar yang tak lagi bisa konvensional.