Kepala Dishub Kota Malang, Handi Priyanto (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Kepala Dishub Kota Malang, Handi Priyanto (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Malang untuk menerapkan angkutan berbasis online semakin serius. Usai melakukan kerja sama dengan salah satu perusahaan penyedia aplikasi 'Tron' beberapa waktu lalu, uji coba angkot online itu bakal dilakukan pada April 2020 mendatang.

Nah, kawasan uji coba tersebut rencananya bakal memakai beberapa jalur. Jalur-jalu itu, di antaranya merupakan jalur angkot yang sudah tidak pernah difungsikan.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang, Handi Priyanto menyatakan dari 19 jalur angkot di Kota Malang, setidaknya 10 di antaranya telah mati. Namun, pihaknya optimis kawasan yang sudah tidak difungsikan ini bakal kembali hidup jika angkutan sudah berbasis online.

"Itu jalur mati, angkotnya sudah nggak ada. Nanti itu diujicobakan di jalur yang mati itu. Optimis ya, karena di situ ada permukiman dan ada masyarakatnya juga," ujar dia.

Apalagi, ia menilai dari kawasan yang jalurnya telah mati itu tetap ramai dengan adanya transportasi online. Dari 10 kawasan, kata Handi, sebetulnya hanya tujuh jalur yang mati total. Sisanya, masih dalam kondisi setengah mati, artinya masih ada supir tetapi penumpang sudah amat jarang ditemui.

Matinya jalur-jalur tersebut, karena para sopir menilai pasarnya sudah tidak potensial. Yakni meliputi jalur Mulyorejo-Klayatan-Sukun (MKS), Arjosari-Sarangan-Dinoyo (ASD), Tawangmangu-Soekarno Hatta-Gasek (TSG), Tlogowaru-Sarangan-Tasikmadu (TST), Madyopuro-Karang besuki (MK), TTG,TLA.

"Ya mereka ada yang izin pindah jalur. Ada yang menjual angkotnya, diganti plat hitam. Ada yang jual angkot se-trayeknya," imbuhnya. 

Meski tidak mudah, pihaknya optimis uji coba pada April 2020 mendatang bisa dijalankan dengan maksimal. Saat ini, di Kota Malang masih ada sekitar 1.600 sopir angkot yang beroperasi. 

Mereka rata-rata memiliki pendapatan Rp 25-Rp 40 ribu saat kondisi sepi. Jika kondisi ramai, bisa mencapai Rp 50 ribu ke atas  setiap harinya.

Dengan hadirnya sistem angkutan berbasis online tersebut, menurut Handi sebagai bentuk terobosan baru dalam meningkatkan pendapatan sopir angkot di Kota Malang. Di sisi lain, embel-embel mati suri bagi angkot di masyarakat lantaran ada transportasi online akan terhindarkan.

"Kalau ada angkot online, bisa lebih meningkat pendapatannya. Saat ini kan kami sosialisasikan. Nanti, ada aplikasi khusus yang bisa di-download penumpang. Penumpang gak perlu nunggu, angkot gak perlu ngetem lama sudah tau siapa yang akan dijemput," tandasnya.