Ilustrasi telur ayam. (Foto: istimewa)
Ilustrasi telur ayam. (Foto: istimewa)

MALANGTIMES - Jelang akhir tahun 2019, masyarakat dihebohkan dengan isu telur ayam yang mengandung dioksin 100 kali lipat dibandingkan telur yang ada di Eropa.

Kabar tersebut mencuat setelah penelitian dari International Pollutants Elimination Network (IPEN) menyatakan bahwa telur ayam kampung di Desa Bangun Kabupaten Mojokerto dan Desa Tropodo Kabupaten Tuban, Jawa Timur mengandung dioksin.

Dioksin sendiri adalah zat berbahaya yang dapat mengganggu pertahanan tubuh hingga pemicu tumor dan kanker.

Sumber dioksin utama berasal dari pembakaran sampah plastik, hasil samping proses produksi pestisida, industri baja, industri kertas, pembakaran hutan, serta aktivitas gunung merapi.

Industri yang menggunakan klorin dengan pemanasan tinggi akan menyebabkan dioksin. Penyebarannya dapat melalui udara dan tanah.

Menanggapi hal tersebut, Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Fapet UB) mengadakan sarasehan bekerja sama dengan Paguyuban Peternak Ayam Ras Petelur Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Sarasehan digelar di ruang rapat senat Fapet di lantai 6 gedung 5, Minggu (24/11/2019).

Turut hadir Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Malang, Kabupaten Blitar, Kabupaten Kediri, serta Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN).

Dekan Fapet UB, Prof Suyadi mengatakan hasil penelitian IPEN yang telah dipublikasi media asing seperti CNN dan New York Times kurang relevan.

"Karena sample dari tiga butir telur ayam yang dipelihara dekat dengan tempat pembakaran sampah plastik belum dapat mewakili keseluruhan telur ayam di Jawa Timur," katanya.

Ia menambahkan, mengkonsumsi telur yang berdioksin lebih aman dari pada berkendara sepeda motor tanpa menggunakan masker. 

Sebab, paparan polusi hasil pembakaran kendaraan, khususnya bus dan truk akan terhirup langsung dan sangat buruk untuk paru-paru.

"Kalau pun ayam yang dipelihara terkena dioksin maka kandungan dioksin dalam telur lebih sedikit. Sebab telur mendapat saringan dari ayam dan bukan lagi bagian dari tubuh ayam," terangnya.

Oleh karenanya, salah satu upaya pemerintah yang dilakukan oleh Dinas Peternakan tingkat Provinsi maupun Kabupaten di Jawa Timur untuk meyakinkan masyarakat ialah menggalakkan acara makan telur bersama. 

Selain itu juga mendatangkan media untuk melakukan press conference yang menyatakan bahwa telur ayam di Jawa Timur aman dikonsumsi.

Menyikapi isu pencemaran dioksin ini,  Gubernur dan Wakil Gubernur sempat bertolak ke lokasi yaitu Desa Bangun Kabupaten Mojokerto yang dekat dengan pabrik tahu.

Mereka menyimpulkan bahwa hasil penelitian IPEN dianggap kurang relevan. 

Sebab sampel telur ayam kampung didapat dari populasi lima ekor. Sedangkan Jawa Timur merupakan gudang ayam petelur nasional dengan populasi 45 juta atau setara 29 persen.

Dinas Peternakan Jatim memastikan bahwa 22 persen peternak rakyat secara nasional telah sesuai Good Farming Practices sehingga ayam dan telur yang beredar aman konsumsi.