Cerita Tutur Kerajaan Lodoyo, Jejak Peradaban Kuno di Blitar Selatan

MALANGTIMES - Nama daerah Lodoyo mungkin sudah cukup popular di kalangan orang Blitar dan sekitarnya. Nama ini masih biasa digunakan untuk menyebut daerah di selatan Sungai Brantas Blitar, walau secara administratif tidak ada lagi daerah di Blitar Selatan yang bernama Lodoyo.

Saat ini daerah yang biasa disebut Lodoyo yakni wilayah Kecamatan Sutojayan. Dulunya nama Lodoyo merupakan sebuah nama kawedanan, yakni wilayah administrasi pemerintahan yang berada di bawah kabupaten dan di atas kecamatan yang berlaku pada masa Hindia Belanda dan beberapa tahun setelah kemerdekaan Indonesia. Saat ini kawedanan Lodoyo hanya mengambil peran sebagai pemangku budaya.

Jauh sebelum itu, nama Lodoyo merupakan nama kuno yang sudah dikenal sebelum adanya kawedanan. Bahkan lebih kuno dari pada era Surakarta dan mitos-mitos bentukannya yang menggambarkan Lodoyo sebagai daerah bromocorah.

Bahkan nama Lodoyo sudah ada dan disebut dalam Kakawin Desa Warnnana/ Negara Krtagama (kakawin karangan Mpu Prapanca yang menyingkap kejayaan Kerajaan Majapahit). Dalam kakawin tersebut, terungkap bahwa Maharaja Rajasa Nagara (Hayam Wuruk) pernah melakukan perjalanan dan bermalam beberapa hari di Lodoyo. 

Berikut Kutipan dari Kakawin Negara Krtagama tersebut: "Janjan sangke balitar angidul tut margga, sangkan poryyang gatarasa tahenyadoh wwe, ndah prapteng lodhaya sira pirang ratryangher, sakterumning jaladhi jinalah tut pinggir ("Tidak peduli dari Blitar menuju ke selatan sepanjang jalan, mendaki kayu-kayu mengering kekurangan air tak sedap dipandang, maka Baginda Raja tiba di Lodaya beberapa malam tinggal disana, tertegun pada keindahan laut dijelajahi menyisir pantai.")

Perjalanan yang dilakukan oleh Maharaja Hayam Wuruk tentunya bukanlah perjalanan yang main-main. Perjalanan tersebut merupakan agenda perjalanan tahunan Hayam Wuruk untuk berkeliling hingga ke luar ibu kota.

Perjalanan sang raja tersebut dilakukan pada akhir musim dingin atau setelah panen. Beliau pergi menggunakan pedati yang ditarik sapi dan diiringi rombongan. Perjalanan tersebut tercatat dalam Kitab Nagarakertagama karya Mpu Prapanca, pujangga yang turut dalam perjalanan tersebut.

Candi Simping, Candi Bacem, dan Kekunaan Jimbe yang dikunjungi di awal perjalanan menunjukkan kesan bahwa Lodoyo merupakan daerah yang cukup istimewa di mata Maharaja Hayam Wuruk. Seperti dalam kutipan Kitab Negarakertagama tersebut disebutkan bahwa Raja Hayam Wuruk sempat bermalam beberapa hari di Lodoyo dan juga menikmati pemandangan indah di pantai selatan.

Budayawan lokal Bambang Tri Bawono mengatakan daerah Lodoyo dulunya merupakan sebuah kerajaan kecil yang berdiri sejak abad ke-11 yang bernama Kerajaan Lodoyo. Kerajaan tersebut diperkirakan berada di wilayah selatan Jawa Timur yang sekarang disebut dengan daerah Sutojayan.

"Jadi. di Jawa Timur itu dulunya ada sebuah kerajaan kecil. Namanya Kerajaan Lodoyo yang berdiri sekitar abad ke-11 Masehi. Dengan kekuasaan ke timur hingga wilayah Malang Donomulyo dan wilayah barat hingga daerah Tulungagung, termasuk Kalidawir," ungkapnya.

Bambang mengatakan, keberadaan kerajaan itu berdasarkan beberapa catatan sejarah. Disebutkan Kerajaan Lodoyo berkuasa cukup lama, yakni sekitar satu abad dan mencapai puncak kejayaan pada masa Raja Singokusumo. Pada masa pemerintahannya, Lodoyo terkenal dengan kemajuan seni budayanya, yakni dengan kesenian 'jaranan jur' yang masih terus dilestarikan hingga saat ini.

"Jadi,  cerita terjadinya jaranan jur dari Lodoyo berawal dari kisah perseteruan antara Lodoyo dan Ponorogo. Jadi, konflik sayembara perebutan Dewi Songgo Langit, putri Kediri, mau dipersunting siapa pun yang bisa menyuguhkan suatu kesenian yang belum pernah ada di penjuru dunia mana pun," ungkap Bambang.

Bambang menuturkan, sayembara kesenian tersebut terjadi di tengah perjalanan prajurit Kerajaan Lodoyo dengan pasukan berkudanya bertemu dengan prajurit Bantaran Ponorogo dan akhirnya terjadilah pertempuran. Dalam pertempuran dua kerajaan yang sama-sama kuat tersebut, tersisa babak antara dua adipati yang bersaing memperebutkan Dewi Songgo Langit.

Adipati Singokusumo dengan kekuatannya yang bisa berubah menjadi seekor macan bertempur habis-habisan dengan Adipati Klono Klewandono dengan senjata andalannya, pecut Samandiman.

"Jadi, dalam cerita tutur tersebut! Adipati Singokusumo gugur dan menjelma menjadi seekor macan. Kepalanya terpenggal oleh kesaktian pecut Samandiman milik Adipati Klono Klewandono. Di situlah merak klangenan (kesayangan) Adipati Singokusumo datang menghampiri kepala tuannya dan mengembangkan ekornya," tutur Bambang.

Melihat kejadian tersebut, Adipati Klono Klewandono lantas membawa kepala Adipati Singokusumo bersama burung merak klangenan untuk dipersembahkan menjadi sebuah kesenian yang belum pernah ada sebelumnya, yakni kesenian dadak merak, kepada Dewi Songgo Langit.

"Jadi, sebenarnya kepala dadak merak reog Ponorogo adalah kepala Adipati Singokusumo dari Lodoyo. Vesi cerita ini, sebagian masyarakat Ponorogo ada yang mengakui dan ada yang tidak. Mungkin karena masalah politik pada waktu itu," terangnya.

Menurut beberapa sumber sejarah, Kerajaan Lodoyo runtuh setelah terjadi peperangan dengan Kerajaan Kadiri. Beberapa situs peninggalannya kemudian banyak digunakan untuk kepentingan masa Kerajaan Kadiri, seperti Situs Besole yang berupa reruntuhan sebuah pintu gerbang yang tersusun dari bata kuno.

"Situs ini pernah digali dan ditemukan selasar yang cukup panjang di kanan kirinya. Situs ini berada sangat dekat dengan Sungai Brantas, sehingga kuat dugaan bahwa situs ini merupakan sisa-sisa pelabuhan kuno di Lodoyo," ungkapnya.

Mungkin kini tepian Brantas merupakan daerah puritan. Tapi dulu tepian Brantas merupakan pintu gerbang dari tlatah Lodoyo. Seperti yang kita ketahui bahwa Brantas merupakan jalur transportasi kuno dan di tepiannya tersebar bandar-bandar perdagangan yang penting. Dan jejak bandar tersebut dapat dijumpai di Situs Besole.

"Jejak-jejak peninggalan tersebut semakin memperkuat dugaan posisi Lodoyo sebagai kota kuno di Blitar selatan meski kebenarannya belum diketahui secara pasti. Tetapi cerita tutur tersebut masih melekat pada masyarakat di wilayah Blitar selatan," tutup Bambang.

Top