MALANGTIMES - Munculnya informasi mengenai masuknya barang-barang impor ke Indonesia melalui pasar online (marketplace) menimbulkan kekhawatiran sejumlah pihak. Namun, Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) membantah adanya banjir barang impor tersebut karena platform yang masih terbatas. 

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI dalam website resminya mengungkapkan bahwa ada disinformasi yang terjadi di media sosial. Beredar foto di salah satu unggahan Facebook dengan narasi:

"Sahabat, jorjoran toko online di Indonesia, anjir barang promo, tapi SAYANG 93% BARANG IMPOR, hanya 7% lokal. Cinta Indonesia? Kenapa rela jika toko online atau ecommerce menjadi penyebab banjirnya barang impor di Indonesia?"

Faktanya, Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) membantah industri e-commerce sebagai penyebab banjirnya barang impor di Indonesia. Ketua idEA Ignatius Untung mengklaim, nilai impor e-commerce masih kecil.

Selain itu, impor barang yang dilakukan oleh retail online atau melalui e-commerce juga tidak berbeda dengan retail offline. Seperti pengiriman barang secara ’gelondongan’ yang nantinya akan dijual secara retail. Sedangkan untuk impor barang per paket yang penjualnya berasal dari luar negeri, juga jumlahnya masih kecil, hanya 0,42 persen.

Dikutip dari CNBC Indonesia, Ignasius Untung mengklaim belanja online melalui pedagang luar negeri (impor e-commerce) atau impor paket tercatat hanya di bawah 1 persen. "lni sudah jadi isu nasional, impor e-commerce masuk ke Indonesia sekitar 0,42 persen untuk impor paket," ujarnya di Jakarta, pekan lalu. 

Dia menjelaskan, ada dua jenis impor dalam hal ini. Yang pertama pengiriman barang secara gelondongan yang nantinya akan dijual secara retail. Kemudian, penjualan langsung secara paket dengan pembeli berasal dari Indonesia, sementara penjualnya ada di luar negeri.

Menurut Ignasius, pengiriman paket langsung dari luar negeri masih minim karena keterbatasan penyedia layanan. "Ini tidak akan sampai dominan karena platform yang menyediakan itu (seller luar negeri) hanya ada di tiga platform, yaitu Lazada, JD ID, dan Shopee," sebutnya.

Sementara itu, di Kota Malang sendiri sepanjang Januari hingga Mei  2019 lalu terdapat setidaknya 190 item barang paket kiriman yang disita oleh Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Malang. Paket-paket itu dikirim melalui Kantor Pos Malang dari berbagai wilayah, baik dalam maupun luar negeri. 

Isi paket tersebut berupa sex toys atau alat bantu seks hingga senjata airsoft gun dan anak panah. Barang-barang ilegal tersebut telah dimusnahkan oleh Bea Cukai Malang. 

Kepala Bea Cukai Malang Rudy Hery Kurniawan mengungkapkan bahwa pihaknya menerbitkan sebanyak 63 surat bukti penindakan (SBP) untuk penindakan barang kiriman pos. "Total keseluruhan nilai barang hasil penindakan barang kiriman pos sebesar Rp 47,16 juta," ujarnya. 

Rudy menyebut, barang-barang kiriman pos tersebut dicekal karena dinilai berbahaya apabila lolos dan beredar di masyarakat. Rata-rata, para pembeli melakukan transaksi online dari luar negeri. "Kami bekerja sama dengan Kantor Pos Malang. Jadi, ada pengecekan kalau kiriman luar negeri yang mencurigakan saat melalui screening mereka," ucapnya.