Plt Bupati Malang Sanusi luncurkan program Smart Health dalam melawan penyakit tidak menular di wilayahnya dan menggandeng UB Malang, dan George Institute Global Health dan Universitas Manchester UK (Nana)

Plt Bupati Malang Sanusi luncurkan program Smart Health dalam melawan penyakit tidak menular di wilayahnya dan menggandeng UB Malang, dan George Institute Global Health dan Universitas Manchester UK (Nana)



MALANGTIMES - Kegaduhan Pemerintah Kabupaten (pemkab) Malang terkait penyakit tidak menular yang menjadi ancaman masyarakat di Kabupaten Malang, akhirnya menghasilkan sebuah program berbasis digital. 

Program yang dibesut secara ramai-ramai oleh Pemkab Malang, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB), George Institute Global Health dan Universitas Manchester UK itu dinamakan Smart Health. Serta diluncurkan dalam upaya melawan penyakit tidak menular, yaitu sakit jantung yang berakibat kematian pada warga Kabupaten Malang.

Plt Bupati Malang Sanusi, menyatakan, dengan diluncurkan program Smart Health di pendapa Kabupaten Malang, Senin (05/08/2019), memang ditujukan dalam melawan berbagai penyakit tidak menular mematikan, seperti penyakit jantung.

"Tujuannya melawan penyakit tidak menular mematikan di Kabupaten Malang. Selain tentunya program smart health berbasis digital yang bisa diakses melalui Smartphone juga sebagai upaya memperbaiki layanan kesehatan secara dini, integral dan menyeluruh kepada masyarakat," kata Sanusi.

Seperti diketahui, hampir sekitar 50 persen penduduk di empat desa (Kepanjen, Pakisaji, Pakis, dan Gondanglegi) sebagai wilayah perkotaan di Kabupaten Malang terkena diabetes melitus (gula darah) atau kencing manis,  hipertensi (tekanan darah), kolesterol dan asam urat. Penyakit tidak menular yang bisa berakibat pada stroke dan jantung.

Tidak menutup kemungkinan, bahwa berbagai penyakit tidak menular yang eksesnya bisa menghancurkan produktivitas masyarakat  juga terjadi di berbagai wilayah lainnya, lanjut Sanusi.

"Dari data yang ada, satu dari tiga orang dewasa di Indonesia meninggal karena jantung dan stroke akibat diabetes. Fenomena  itu yang sedini mungkin kita cegah dan minimalisir. Dengan upaya pencegahan dan proses pengobatan secara rutin atau berkala," ungkap Sanusi.

Program Smart Health ini akan diujicobakan di 4 sampel desa, sementara ini. Yakni, di Desa Sidorahayu, Kecamatan Wagir, Desa Karangduren, Kecamatan Pakisaji, Kelurahan Kepanjen Kecamatan Kepanjen dan Desa Sepanjang, Kecamatan Gondanglegi.

Tentunya, selain di empat desa sebagai sampel tersebut, melalui aplikasi digitalnya program ini bisa juga diakses oleh seluruh masyarakat Kabupaten Malang. Khususnya terkait promosi kesehatan serta hal lain terkait kesehatan.

Sedangkan bagi sampel dari program Smart Health, nantinya para petugas kesehatan bisa melakukan monitoring kondisi pasien dengan penyakit tidak menular tersebut. Sehingga, hal tersebut, lanjut Sanusi, masalah yang dihadapi dalam layanan penyakit jantung atau bahkan penyakit lainnya, yaitu kurangnya tenaga dokter, bisa teratasi.

"Selama ini dokterlah yang bisa mendiagnosis seseorang memiliki risiko penyakit jantung atau tidak. Selain itu hambatan geografis juga menjadi faktor utama masih rendahnya akses masyarakat terhadap layanan kesehatan, bisa diatasi dengan program ini," ungkapnya.

Dimana, melalui layanan itu mampu mengintegrasikan layanan jantung mulai dari kader, perawat dan dokter yang ada di Puskesmas. Setelah pemeriksaan tersebut, para kader, perawat dan dokter akan bersama-sama memberikan layanan terutama bagi mereka yang beresiko tinggi. 

"Jadi melalui aplikasi tersebut, memungkinkan kader, perawat dan dokter untuk memonitor pasiennya apakah sudah minum obat serta apakah sudah ke Poskesdes dan Puskesmas serta lainnya," ujar Sanusi yang menegaskan program smart health ini nantinya akan dikembangkan dan diterapkan ke seluruh wilayah desa/kelurahan yang ada di Kabupaten Malang.

Selain OPD Kabupaten Malang dan Camat, launching program Smart health, juga dihadiri oleh Dekan Fakultas Kedokteran UB, Dr. dr. Wisnu Barlianto, komisioner peneliti dari Universitas Manchester UK, Prof. Gindo Tampubolon, perwakilan BPJS Kabupaten Malang, serta para relawan Smarthealth yang tersebar di wilayah Kabupaten Malang. 
 

 

End of content

No more pages to load