MALANGTIMES - Hasil kunjungan Pemerintah Kabupaten (pemkab) Malang ke China, membawa buah tangan yang segera akan dibagikan ke beberapa wilayah. Khususnya, di wilayah-wilayah yang diproyeksikan menjadi lokasi uji coba dari hasil kunjungan dan ditindaklanjuti kerja sama antara Pemkab Malang dan China. Salah satunya adalah Wajak yang diproyeksikan sebagai lokasi uji coba peternakan sapi unggul.
Hal ini disampaikan oleh Plt Bupati Malang Sanusi, setelah kembali dari China. "Wajak kita proyeksikan untuk uji coba peternakan sapi unggul. Selain lokasinya cocok juga, Wajak merupakan sentra sapi terbilang besar di Kabupaten Malang," kata Sanusi, beberapa waktu lalu.
Baca Juga : Pertama Kalinya di Malang Ada Studio Apartemen Luas Harga Termurah Hanya di Kalindra
Seperti diketahui, perjanjian antara Pemkab Malang dengan China difokuskan pada sektor pertanian dan peternakan sapi. Dimana, dua sektor itu merupakan andalan di wilayah eks kerajaan Singosari ini.
Untuk peternakan sapi, baik potong maupun perah, misalnya, Kabupaten Malang menjadi kawasan sentra sapi terbesar daerah di skala nasional. Dengan jumlah populasi sapi sekitar 223.717 ekor dan untuk sapi perah mencapai 81.150 ekor. Dimana, Wajak menjadi salah satu sentra peternakan sapi terbilang besar. Dengan populasi sapi di tahun 2018 lalu mencapai sekitar 18 ribu ekor.
Sayangnya, potensi besar itu, menurut Sanusi masih belum dimaksimalkan, khususnya untuk sapi perah. Sehingga Pemkab Malang menggandeng China untuk lebih mampu mengoptimalkannya. "Bagian yang kita dapat di China adalah terkait pengembangan sapi unggul dengan cara pengambilan dan pemisahan sperma (straw) sapi jantan dan betina. Metode ini berhasil diterapkan di sana. Karenanya kita akan terapkan itu di Wajak sebagai lokasi uji coba," ujar Sanusi.
Di kesempatan terpisah, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang, Nurcahyo, menyampaikan, bahwa hasil yang didapat dari kunjungan ke China, memang difokuskan di peternakan dan pertanian. Mantan Kepala Disperindag Kabupaten Malang ini mengatakan hal yang sama dengan Sanusi, bahwa pihaknya akan menindaklanjuti hasil kunjungan itu. Khususnya dalam pengembangan sapi unggul dengan metode straw.
Nurcahyo menceritakan, sapi usia 14 bulan dari hasil straw di sana sudah siap dikawinkan dan dilaktasi. "Lewat metode straw itu rata-rata sapi di usia itu berbobot 1,4 ton. Dengan produksi susu dari satu sapi mencapai 42 liter," ucapnya.
Dirinya membandingkan dengan kondisi sapi perah di Kabupaten Malang yang rata-rata produksi susunya dari total 81.150 ekor sebanyak 135.100 ton pertahun. Artinya, bila dibandingkan dengan sapi di China, dengan total 81.150 ekor dan menghasilkan satu ekor sapi 42 liter. Maka total susu yang diproduksi bisa mencapai 3.651.750 liter per harinya.
Baca Juga : Belanja Lewat e-Commerce, Penjualan Tiga Produk Ini Melejit selama Pandemi Covid-19
"Untuk sapi perah sampai saat ini rata-rata dari satu ekor sapi hanya menghasilkan 14 sampai 15 liter setiap harinya," ucap Nurcahyo. Atau kalau dihitung dengan total sapi perah yang ada di Kabupaten Malang hanya menghasilkan susu sebanyak 1.217.250 liter per harinya.
Dengan kondisi inilah, lanjut Nurcahyo, pihaknya akan menerapkan metode straw dari China tersebut di Kabupaten Malang. Dengan lokasi uji coba sapi unggulan di wilayah Wajak.
