Ilustrasi wisata air (Ist)
Ilustrasi wisata air (Ist)

MALANGTIMES - Wilayah perkotaan Kepanjen sebagai ibu kota Kabupaten Malang, terus bergegas dalam berbagai penataan ruang dan wilayahnya. Terutama, tata ruang dan wilayah di sekitar sempadan Sungai Molek yang membelah perkotaan Kepanjen.

Wilayah tepian sungai Molek, seperti diketahui sampai saat ini masih belum tertata sesuai dengan perencanaan detail tata ruang Kecamatan Kepanjen. Sehingga menimbulkan berbagai persoalan tersendiri dalam mewujudkan konsep Kota Kepanjen sebagai wilayah hijau yang memiliki fungsi lain. Misalnya, menjadi ruang terbuka masyarakat untuk relaksasi.

Berangkat dari hal itulah, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang berencana melakukan revitalisasi wilayah di sepanjang tepian Sungai Molek. Dimana, sampai saat ini wilayah tersebut terisi berbagai bangunan usaha maupun diisi para pedagang kaki lima (PKL).

"Rencana ke depan, kita ubah peruntukkannya. Yakni menjadikan wilayah tepian Sungai Molek sebagai kawasan wisata air terpadu," kata Kepala Bidang Bina Manfaat dan Kemitraan Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (DPUSDA) Kabupaten Malang, M Fauzi.

Rencana menyulap wilayah tepian Sungai Molek Kepanjen menjadi destinasi wisata air terpadu, masih menurut Fauzi, sangat dimungkinkan terwujud. Hal ini didasarkan dengan potensi yang telah ada, yaitu sepanjang sungai telah terlihat asri dengan beberapa taman kota. Walaupun, belum semua wilayah terjamah dan mengarah pada dasar terwujudnya rencana besar tersebut.

"Rencananya sepanjang tepian sungai nantinya akan diisi dengan infrastruktur pendukung wisata air itu sendiri. Misalnya ada kafe atau pujasera dan tentunya wahana wisata air seperti perahu dan sepeda air," urainya.

Dalam mewujudkan rencana besar itulah DPUSDA Kabupaten Malang memulainya dengan melakukan identifikasi wilayah sepanjang tepian Sungai Molek. Mulai dari hulu sungai di Dam Blobo, Desa Sukoraharjo, Kepanjen hingga Karangkates, Sumberpucung. 

Selain hal tersebut, penertiban bangunan permanen di sepanjang Sungai Molek pun dilakukan dengan cara pembongkaran sesuai aturan yang ada. "Kegiatan tersebut sudah mulai kita lakukan dan akan dilakukan terus secara bertahap pada titik yang harus dibongkar,” tegas Fauzi.

Dalam mewujudkan rencana pembangunan wisata air terpadu tersebut, DPUSDA Kabupaten Malang juga berpedoman pada tiga program strategis yang akan selesai di tahun 2020 datang. Yakni pengentasan kemiskinan, optimalisasi pariwisata dan daya dukung lingkungan hidup.

Ke depan, lanjut Fauzi, Pemkab Malang tentunya akan merangkul para pedagang kaki lima (PKL) dan masyarakat dalam meramaikan wisata air terpadu itu. 

"Jadi masyarakat tetap dilibatkan nantinya. Sehingga tiga program strategis bisa dirangkul semua. Ada peningkatan ekonomi warga melalui pariwisata dan lingkungan hidup pun terjaga," ujarnya.

Rencana Pemkab Malang tersebut, mendapat dukungan positif dari paguyuban masyarakat Kepanjen peduli Sungai Molek yang dinamakan Molek Comunity. 

"Kita tentu sangat mendukung rencana itu. Apalagi program itu akan juga semakin menguatkan ikon Kepanjen. Sekaligus akan membantu perekonomian warga juga," ucap Budi Wiryawan Ketua Molek Comunity.

Budi juga menegaskan siap untuk menjaga kebersihan dan lingkungan sepanjang tepian Sungai Molek. "Siap tentunya bersama Pemkab Malang untuk menyukseskan program itu," pungkasnya.