Papan penunjuk arah ke Saritem. Dulunya merupakan salah satu tempat lokalisasi di Bandung.
Papan penunjuk arah ke Saritem. Dulunya merupakan salah satu tempat lokalisasi di Bandung.

MALANGTIMES - Prostitusi memang sudah ada sejak zaman dahulu. Bahkan kegiatan ini berkembang menjadi ajang sebuah bisnis, sehingga berdirilah tempat-tempat lokalisasi untuk melangsungkan kegiatan tersebut. 

Namun kini sudah banyak lokalisasi yang berubah fungsi menjadi sarana publik. Inilah enam tempat prostitusi yang dulu terkenal sekarang ditutup dan jadi sarana publik.

1. Taman Hiburan Gelora

Taman hiburan ini merupakan tempat wisata untuk tempat rekreasi keluarga. Namun, karena kumuh dan tidak terawat, taman ini menjadi tempat prostitusi liar. Akhirnya pada tahun 1986, Pemerintah Kota Samarinda mengubah tempat tersebut menjadi kawasan objek wisata belanja Citra Niaga di Samarinda. Sebuah pusat seni kerajinan tangan dan oleh-oleh khas Samarinda. Pusat oleh-oleh ini bahkan pernah mendapatkan penghargaan atas arsitekturnya yang luar biasa. 

2. Silir

Lokalisasi Silir sudah ada sejak era pendudukan Jepang. Tahun 1947, prostitusi Silir diresmikan oleh Pemkot Solo. Dan keberadaannya menjadi  perhatian khusus pemerintah. Bangunan khusus didirikan dan tenaga medis disediakan untuk mengatasi pelerja-pekerja seks komersial. Saat ini daerah Silir sudah bersih menjadi pasar barang bekas atau Pasar Klitikan Notoharjo. 

3. Sanggarahan

Tahun 1970-an, selain Pasar Kembang (Sarkem), ada lokalisasi yang cukup terkenal di Jogjakarta. Yakni Sanggrahan atau disebut SG. Lokasinya ada di Kecamatan Umbulharjo. 

Katanya SG dikelola Pemkot Jogjakarta. Setelah lokalisasi itu ditutup tahun 1997, pemerintah membeli semua  lahan yang dijadikan lokalisasi dan mengubahkan menjadi Terminal Bus Giwangan. Dulu SG yang dihiasi perempuan berlenggak-lenggok penjajah kesenangan kini dihiasi angkutan umum atau bus kota.

4. Kramat Tunggak

Lokalisasi itu diresmikan oleh Gubernur Jakarta Ali Sadikin tahun 1970 agar pemerintah lebih mudah mengontrolnya. Setelah 20 tahun berdiri, Kramat Tunggak yang berada di Koja, Jakarta Utara, itu dianggap sebagai lokalisasi terbesar di Asia Tenggara pada zamannya. 

Konon PSK di sana ada lebih dari 2 ribu orang. Pelanggannya datang dari lokal hingga turis mancanegara.

Pada tahun 1999, Kramat Tunggak resmi ditutup oleh Gubernur Sutiyoso. Kini lahan yang lebih dari 10 hektare itu dibangun Jakarta Islamic Center yang bukan hanya tempat ibadah umat muslim, tapi juga pusat pengkajian Islam di Jakarta dan Indonesia.

5. Saritem

Sama seperti Pasar Kembang Jogjakarta, Bandung juga memiliki lokalisasi yang ada sejak era Belanda. Lokalisasi Saritem terletak di dekat stasiun kereta di daerah Gardu Jati. Karena akrabnya dengan masyarakat Bandung, sampai ada penunjuk jalan terang-terangan.

 Saritem yang sudah ada sejak tahun 1980-an itu resmi ditutup tahun 2007 lalu melalui keputusan Wali Kota Dada Rusada. Di depan gang Saritem sudah berdiri pondok pesantren.

6. Gang Dolly

Seperti diketahui Gang Dolly di Surabaya merupakan tempat lokalisasi tertua di Indonesia. Pernah disebut-sebut lokalisasi terbesar di Asia Tenggara. 

Setelah beroperasi lebih dari setengah abad, Dolly akhirnya resmi ditutup tahun 2014 lalu oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Gang sepanjang 200 meter yang terletak di pusat kota kini dijadikan sebagai pusat industri untuk memulihkan perekonomian keluarga.

 Kelompok usaha bersama dibentuk untuk menampung orang-orang yang dulunya bergantung pada bisnis prostitusi tersebut. Mulai dari perajin sepatu, batik, hingga pusat batu akik. Mereka menempati wisma-wisma yang dulu jadi tempat prostitusi.