MALANGTIMES - Kota Batu selama ini dikenal sebagai daerah penghasil sayur. Namun, kini komoditas sayuran di Kota Batu mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi.
Baca Juga : Pertama Kalinya di Malang Ada Studio Apartemen Luas Harga Termurah Hanya di Kalindra
Tingginya harga dipengaruhi jarangnya sayuran itu. Sebab, petani jarang menanam akibat kualitasnya jelek kena hujan saat ini.
Bahkan kenaikan harga bisa dibilang hingga dua kali lipat. Misalnya sayur yang biasanya ada di menu masakan lalapan, yakni andewi.
Saat ini harga andewi mencapai Rp 12 ribu per kilogram. Padahal jika musim kemarau, harga andewi hanya mencapai Rp 5-6 ribu per kilogram.
Kemudian sayuran lain seperti sawi daging saat ini mencapai Rp 8 ribu per kilogram. Padahal, biasanya hanya Rp 5-6 ribu per kilogram.
“Iya beberapa komoditas sayuran yang banyak mengalami harga tinggi karena pengaruh hujan,” ungkap Sri Tias, pedagang di Pasar Besar Kota Batu, Sabtu (16/2/2019).
Sementara, bawang prei yang mencapai Rp 12 ribu per kilogram. Harga sebelum mengalami kenaikan itu hanya mencapai Rp 6-7 ribu per kilogram.
Baca Juga : Tips Aman Ambil Uang di Mesin ATM Saat Pandemi Covid-19
Dengan naiknya harga sayuran itu, lanjut Tias, para konsumen terpaksa memangkas jumlah sayuran yang diberi. Misalnya jika biasanya membeli 2 kilogram sayur, tetapi karena harga tinggi hanya membeli 1 kilogram.
Ngarpun, petani asal Dusun Santrean, Desa Sumberejo, Kecamatan Batu, menambahkan, kenaikan harga itu dipengaruhi kualitas sayuran yang kurang bagus dikarenakan musim penghujan saat ini. Sebab, tidak banyak sayuran yang tahan di tengah cuaca musim hujan.
“Saat ini kualitasnya banyak turun karena sayuran itu terserang penyakit. Sehinga banyak yang jelek ketika dipanen,” ujar Ngarpun.
Karena mudah terserang hama, banyak petani yang beralih menanam tanaman yang lain. Hal itu berimbas pada sedikitnya petani yang panen sayur yang kemudian harganya melambung.
“Kalau sudah petani yang tanam jarang, jadinya barangnya ya sedikit. Kalai sudah begitu, harganya jadi tinggi,” ucapnya.
