Pasukan Bravo Malang bersiap perang di The Jaten Park Kebonsari, Minggu (03/02/2019) (Nana)

Pasukan Bravo Malang bersiap perang di The Jaten Park Kebonsari, Minggu (03/02/2019) (Nana)


Pewarta

Dede Nana

Editor

A Yahya


MALANGTIMES - Bagi Anda para pencinta war game's atau permainan perang-perangan di alam terbuka, maka The Jaten Park Kebonsari, Desa Ngebruk, Kecamatan Sumberpucung, bisa jadi pilihan terbaik. Terletak di lokasi hutan jati perhutani, The Jaten Park, menyediakan lahan bagi para pecinta war game's yang representatif. Selain alami, luas lahan perhutani di Kebonsari, Ngebruk, juga menyajikan lahan eksplorasi yang bisa mengasyikkan, yaitu seluas 108 hektar (ha).

Bravo Malang, komunitas war game's yang memiliki anggota sekitar 30 orang, serta aktif secara berkala melakukan kegiatan berbau militer. Baik war game's, speed shooting maupun lainnya, terpincut di The Jaten Park. Untuk melakukan peperangan terbuka di hutan Jaten. Dengan senjata yang mirip dengan aslinya, baik bobot dan ukurannya, mereka berlatih untuk melakukan peperangan. 

Bobby Gahara Charitas (31) salah satu dari Bravo Malang menyampaikan, bahwa dirinya baru pertama kali mencoba lahan The Jaten Park Kebonsari. "Baru satu kali ini. Menurut beberapa komunitas air soft maupun fineball di sini mengasyikan untuk war game's," kata lelaki dari Pasuruan tersebut kepada MalangTIMES, Minggu (03/02/2019).

Bobby dan beberapa anggota Bravo Malang mencoba juga arena tembak jitu yang ada di The Jaten Park Kebonsari, Ngebruk. Mereka dengan asyik menembakkan senjatanya. Baik jenis Barreta M9, Aka 47 dan lainnya. "Pemanasan sambil tunggu teman lainnya datang, mas," ujar salah satu anggota Bravo Malang bertubuh kekar sambil menembakkan senapan Aka 47 ke sasaran taget.

Persiapan senjata dimulai, saat beberapa anggota Bravo Malang hadir. Mereka sibuk dengan peralatan tempurnya. Mengujicoba senapan yang siap untuk dibidikkan nantinya kepada lawan. Peluru-peluru plastik berbentuk bulat serupa kelereng pun dimasukan pada berbagai jenis senapan yang dibawa.

Saat semua selesai, mereka pun membagi kelompok menjadi dua. Serta memilih arena atau medan perang di hutan jati perhutani. Luasnya area berperang di The Jaten Park, membuat mereka lebih bebas bergerak dan saling kejar untuk memuntahkan peluru.
Bak perang beneran, satu sama lain saling menyerang di lebatnya hutan jati. "Asyik, tempatnya luas dan cocok untuk war game's," kata Bobby sambil mengatur nafasnya setelah tertembak lawan perangnya. Seperti diketahui, dalam war game's setiap peserta akan langsung meninggalkan arena perang kalau dirinya terkena senjata lawan.

Lewat beberapa menit pertempuran antara dua kelompok, satu persatu lawan yang terkena tembak menepi ke sisi arena. Percakapan yang diselingi tawa kerap pecah antara mereka, setelah satu game diselesaikan. "Medannya asyik dan cocok di sini. Luas dan menarik, tapi mungkin butuh pembatas untuk arena perang. Di sisi sebelah dalam hutan juga bagus untuk pertempuran. Medannya lebih menantang," ujar Ferry salah satu anggota Bravo Malang.

Di kesempatan yang sama Dodit Sugiarto, penggagas dan penasihat Maju-58 Community atau Maju Mapan sebagai pengelola The Jaten Park Kebonsari, mengatakan, pihaknya memang sedang terus mengenalkan salah satu potensi di wilayahnya kepada pihak-pihak luar. Salah satunya adalah komunitas soft gun's.

"Ini bagian dari tujuan kami. Kita punya potensi di hutan jati yang telah mendapat ijin juga dari Perhutani untuk aktifitas masyarakat. Dulu, sebelum ada penataan, di sini juga sering dipakai oleh komunitas air gun's maupun soft gun's," ujarnya.

Dengan adanya pengelolaan di The Jaten Park yang rencana akan dibentuk sebagai destinasi wisata desa ke depannya. Dodit memulai dengan berbagai kelebihan yang bisa dipakai untuk aktifitas masyarakat atau komunitas. "Bravo Malang ini yang mencoba pertama untuk war game's di sini. Mereka terlihat gembira dan menyukai arena perang di hutan jati ini," pungkas Dodit.

End of content

No more pages to load