JATIMTIMES - Meninggalnya selebgram Lula Lahfah pada Jumat (23/1/2026) malam masih menuai perbincangan luas di media sosial. Salah satu isu yang ramai dibahas warganet adalah dugaan keterkaitan GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) dengan risiko kematian.
Sebelumnya, dalam salah satu unggahan tertanggal 2 Januari 2026, Lula mengaku bahwa dirinya sedang menjalani perawatan medis di rumah sakit. Lula bahkan menyebut mengalami beberapa gangguan kesehatan sekaligus.
Baca Juga : Bupati Sanusi Targetkan Seluruh Siswa di Kabupaten Malang Miliki Rata-rata Nilai 90 di 2026
“Borongan (sakitnya), infeksi saluran kemih, usus bengkak radang, batu ginjal, GERD,” tulis Lula saat membalas komentar warganet yang menanyakan alasan ia diopname.
Gegara hal ini, banyak warganet yang mengaitkan kematian Lula dengan penyakit GERD yang dideritanya.
Menanggapi hal tersebut, Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Rosandi Himawan Sp.PD menegaskan bahwa GERD bukan penyakit yang menyebabkan kematian secara langsung. “GERD ITU GA BIKIN MENINGGAL. GERD TIDAK SECARA LANGSUNG MENYEBABKAN KEMATIAN,” tegas dr. Rosandi, melalui akun Instagram pribadinya, Selasa (27/1/2026).
Menurutnya, anggapan bahwa GERD berbahaya hingga mematikan sering muncul karena banyak kasus keluhan dada yang disalahartikan sebagai asam lambung, padahal penyebabnya adalah kondisi medis lain yang lebih serius. “Kenapa banyak kasus ‘dikira GERD’ berakhir fatal? Karena bukan GERD-nya, tapi hal lain di baliknya,” jelasnya.
Dr. Rosandi menjelaskan, GERD adalah kondisi naiknya asam lambung ke kerongkongan akibat melemahnya katup lambung atau Lower Esophageal Sphincter (LES). “Normalnya, LES berfungsi seperti pintu satu arah. Saat lemah, asam mudah naik,” paparnya.
Dua gejala khas GERD adalah heartburn, yakni rasa panas atau terbakar di dada, serta regurgitasi, rasa asam atau pahit yang naik hingga ke mulut. Masalahnya, gejala ini kerap menyerupai keluhan penyakit lain.
“Nyeri GERD bisa MENYERUPAI serangan jantung. Lokasi nyeri mirip, sama-sama di dada atau ulu hati, dan bisa disertai mual serta keringat dingin,” kata dr. Rosandi.
Kondisi inilah yang disebut sebagai GERD-like, yaitu bukan GERD, tetapi tampak seperti GERD.
Dr. Rosandi mengungkapkan, ada beberapa kondisi berbahaya yang sering tertutupi oleh dugaan GERD. Salah satunya adalah serangan jantung akut yang keliru dianggap sebagai asam lambung.
Baca Juga : Semeru Institute Dukung Sikap Kapolri: Tegaskan Polri Harus Tetap Sebagai Alat Negara
Selain itu, ada pula kondisi ko-morbid, ketika GERD muncul bersamaan dengan penyakit lain, seperti penyakit jantung atau gangguan kecemasan. “GERD + penyakit lain dalam satu orang, misalnya penyakit jantung + anxiety. Gejalanya jadi makin berat dan makin tidak khas,” jelasnya.
Ia menambahkan, anxiety dapat memperparah keluhan karena meningkatkan produksi asam lambung dan sensitivitas nyeri dada. “Anxiety bisa menyebabkan sesak, berdebar, dan rasa ‘akan mati’. Akhirnya GERD terasa makin berat dan gejala jantung makin sulit dibedakan,” ujarnya.
Dr. Rosandi menegaskan, GERD kerap dijadikan kambing hitam atas kejadian fatal yang sebenarnya disebabkan oleh penyakit lain.
“GERD BUKAN PEMBUNUH. Tapi sering dikambinghitamkan. Yang berbahaya adalah salah mengira gejala,” tegasnya.
Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak menyepelekan keluhan tertentu, terutama nyeri dada yang tidak biasa.
“Kalau keluhan dada berat, menjalar, disertai sesak, keringat dingin, atau pingsan, JANGAN anggap cuma GERD. Segera periksa,” tandasnya.
Hingga kini, penyebab pasti meninggalnya Lula Lahfah belum disampaikan secara resmi oleh pihak berwenang. Namun, dokter menegaskan pentingnya edukasi publik agar GERD tidak lagi disalahartikan sebagai penyebab utama kematian, sehingga masyarakat lebih waspada terhadap gejala penyakit lainnya.
