MALANGTIMES - Sebagai Komandan Pleton (Danton) 4 Sub Detasemen B Pelopor Brimob Polda Jatim, Ipda Slamet Subagyo punya cara unik untuk merangkul masyarakat. Ditengah kesibukannya menjaga stabilitas keamanan wilayah Malang Raya dari tindak kejahatan, pria asal Sidoarjo ini menyempatkan waktu diluar jam dinasnya, memberi pelatihan kepada masyarakat cara menghadapi serangan hewan buas jenis reptil.
Baca Juga : Tiga Tenaga Kesehatan Positif Covid-19 di Kota Malang Sembuh
Ia pun kerap bekerjasama dengan komunitas eksotik animal, memberi materi edukasi kepada masyarakat. Secara rutin, setiap Sabtu malam di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Slamet Subagyo menggelar pelatihan cara menghadapi ular.
"Kami rutin memberi pelatihan cara praktis menangkap ular setiap malam di Stadion Kanjuruhan," ucapnya.
Selain memberi pelatihan kepada masyarakat umum, Slamet Subagyo bersama komunitas eksotik animal juga sering memberi materi edukasi pengenalan beragam hewan reptil di lingkungan sekolah.
"Selain masyarakat umum, kami juga mengenalkan beragam hewan reptil kepada pelajar, tujuannya bukan eksploitasi, tapi mengedukasi mereka supaya mengetahui jenis dan cara menghadapi hewan reptil," imbuhnya.
Awalnya, Slamet Subagyo tidak memiliki ketertarikan dengan hewan reptil, karena sering dimintai tolong masyarakat menangkap ular, akhirnya, pria yang dikenal ramah ini terbiasa menaklukkan hewan berbisa dan jenis reptil lainnya.
Bahkan saat berdinas di Satuan Brimob Detasemen Pelopor C, Kediri, dia pernah menangkap ular liar jenis piton di halaman rumah salah satu komandan kompi, Slamet Subagyo pun berhasil menaklukkan piton besar tersebut dalam waktu singkat.
"Tidak sulit menangani ular liar, asal mengetahui karakternya ularnya dan menguasai teknik menangkapnya," ucap Slamet Subagyo penuh percaya diri.
Ia melanjutkan, teknis praktis menangkap ular, bisa menggunakan dua cara, yaitu memakai alat bantu ranting kayu berbentuk V dengan cara menekan bagian kepala ular. Langkah kedua bisa menggunakan tangan kosong, dengan cara memegang bagian ekor terlebih dahulu hingga ke bagian kepala ular.
Baca Juga : Tanggap Covid-19, Fraksi PKS DPRD Kota Malang Bagikan Ratusan APD ke Petugas Medis
Menurutnya, cara kedua hanya bisa dilakukan oleh pawang ular. Namun khusus ular berbisa, harus menggunakan google (pelindung mata), karena semburan racunnya sangat mematikan.
"Jenis ular berbisa, seperti cobra, memiliki insting menyerang manusia dibagian wajah, jadi harus menggunakan google, agar racunnya tidak masuk mata," ujar trainer SAR Brimob ini.
Ia memberi saran, jika terkena gigitan ular berbisa, jangan panik, karena kepanikan mempercepat detak jantung, lalu ikat kuat bagian tubuh disekitar gigitan ular, buka setiap lima menit ikatan tersebut, sambil dikeluarkan racunnya dengan cara diurut.
Namun menurutnya, cara tersebut tetap harus ditindaklanjuti dengan penanganan medis, supaya racunnya benar benar hilang.
"Penanganan medis tetap menjadi prioritas, agar darah korban benar benar bersih dari racun," ucapnya.
Jika ada masyarakat yang membutuhkan keahliannya sebagai pawang ular, Ia pun siap membantu secara sukarela, asal tidak mengganggu tugas utamanya sebagai Komandan Pleton Satuan Brimob.
"Kapanpun saya siap membantu masyarakat, sepanjang tidak mengganggu tugas utama di Brimob," pungkas Slamet Subagyo. (*)
