JATIMTIMES - Tak terasa, tahun 2025 sudah berada di penghujung perjalanan. Waktu berlalu begitu cepat, meninggalkan berbagai cerita kehidupan yang telah dijalani umat manusia sepanjang tahun ini. Mulai dari usaha, doa, perjuangan, hingga suka dan duka yang silih berganti menghiasi perjalanan hidup.
Dalam khutbah Jumat ini, khatib mengingatkan jemaah agar tidak melewatkan momentum ini hanya sebagai pergantian angka kalender semata. Akhir tahun menjadi waktu yang tepat untuk berhenti sejenak, merenung, dan melakukan introspeksi diri atas apa yang telah dijalani.
Baca Juga : Kalender Jawa Weton Jumat Pahing 26 Desember 2025: Hindari Bepergian ke Selatan
Khutbah I
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِن سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن، قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، وَقَالَ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا ، عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ، صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ، أَمَّا بَعْدُ
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Swt atas limpahan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya. Berkat karunia-Nya pula, hingga hari ini kita masih dianugerahi nikmat iman dan Islam, nikmat kesehatan, usia yang dipanjangkan, serta kekuatan lahir dan batin. Semua itu menjadikan hati kita tetap tergerak untuk memenuhi panggilan Allah, melangkahkan kaki menuju rumah-Nya, dan duduk bersimpuh di tempat yang insyaallah penuh keberkahan ini.
Padahal, tidak sedikit di antara saudara-saudara kita yang secara fisik tampak sehat, namun belum diberi kemampuan untuk melangkah ke masjid Allah. Semoga Allah segera menganugerahkan taufik dan hidayah kepada mereka. Sementara kita yang telah mendapatkan nikmat ini, semoga senantiasa dijaga oleh Allah dan dikaruniai keistikamahan hingga akhir hayat. Aamiin ya Allah, aamiin rabbal ‘alamin.
Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad Saw. Beliau adalah sosok mulia yang telah mengantarkan umatnya menuju cahaya kebenaran, sehingga kita dapat merasakan berbagai nikmat, terutama nikmat iman dan Islam. Semoga kita termasuk umat yang terus berusaha mengamalkan ajarannya dan meneladani akhlak mulianya.
Selawat dan salam juga semoga tercurah kepada keluarga beliau, para sahabat, serta kepada kita semua yang senantiasa berharap rida dan syafaatnya kelak di hari kiamat. Aamiin ya mujibas-sa’ilin.
Melalui mimbar yang mulia ini, khatib mengingatkan diri khatib pribadi dan seluruh jemaah salat Jumat untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Menguatkan iman dan takwa di tengah kondisi zaman yang kian berat seperti sekarang tentu bukan perkara mudah.
Namun, setidaknya apa yang telah kita miliki dan raih dalam keimanan jangan sampai terlepas hanya karena godaan duniawi. Kita perlu terus waspada dan berhati-hati agar tidak tergelincir ke dalam kesesatan yang berujung penyesalan abadi. Sebab, tidak ada benteng paling kokoh menghadapi beratnya zaman selain memperkuat iman dan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hadirin hafizhakumullah,
Sebagai manusia biasa, tidak ada seorang pun yang dijamin terbebas dari dosa. Kondisi ini tentu telah diketahui oleh Allah Swt sebagai Dzat Yang Maha Menciptakan dan Maha Mengetahui keadaan hamba-Nya. Karena itu, Allah memerintahkan kita untuk senantiasa bertaubat, sebagaimana firman-Nya dalam Surah at-Tahrim ayat 8 yang telah dibacakan pada mukadimah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.”
Melalui ayat tersebut, meskipun tidak disampaikan secara langsung, Allah sejatinya sedang menyampaikan pesan bahwa pintu ampunan-Nya selalu terbuka bagi para hamba. Tidak mungkin Allah memerintahkan taubat, sementara Dia menutup pintu ampunan bagi yang melakukannya.
Namun demikian, ampunan Allah tidak serta-merta diberikan tanpa usaha sungguh-sungguh dari hamba-Nya. Salah satu jalannya adalah dengan melaksanakan taubat nasuha. Dalam lanjutan ayat tersebut disebutkan:
عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ
Artinya: “Mudah-mudahan Tuhanmu menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya.”
Kata ‘asâ’ yang berarti “mudah-mudahan” menunjukkan bahwa ampunan Allah tidak dinyatakan secara pasti. Para ulama menjelaskan bahwa ketidakpastian ini bukan berarti taubat menjadi sia-sia, melainkan agar seorang hamba benar-benar bersungguh-sungguh, berupaya sekuat tenaga, dan membuktikan keseriusannya dalam kembali kepada Allah. Ampunan adalah hak prerogatif Allah, sementara kewajiban kita adalah berusaha seoptimal mungkin untuk meraihnya.
Taubat nasuha dimaknai sebagai taubat yang dilakukan secara total, tidak setengah-setengah, dan bukan sekadar formalitas. Bukan taubat yang hari ini dilakukan, lalu esok kembali terjerumus dalam dosa yang sama. Para ulama pun menjelaskan beberapa syarat taubat nasuha.
Pertama, niat taubat harus murni dan ikhlas karena Allah, bukan karena ingin dipuji atau sekadar terlihat saleh. Taubat harus dilandasi keinginan tulus untuk meraih rida dan ampunan-Nya.
Kedua, adanya penyesalan mendalam atas dosa yang telah dilakukan. Inilah bagian yang sering kali paling berat, karena hati manusia kerap enggan mengakui kesalahan. Padahal, taubat tidak akan sempurna tanpa penyesalan yang jujur.
Ketiga, menghentikan segala bentuk dosa semampu mungkin, baik dosa kecil maupun dosa besar. Tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus-menerus, dan tidak ada dosa besar jika disertai taubat yang sungguh-sungguh. Menghentikan dosa bukan hanya pada satu kesalahan tertentu, melainkan seluruh bentuk kemaksiatan jika ingin mencapai derajat nasuha.
Selain itu, seseorang yang bertaubat harus bertekad kuat untuk tidak mengulangi dosa di masa mendatang. Bahkan, para ulama menjelaskan pentingnya mengganti atau menebus kewajiban yang pernah ditinggalkan. Jika pernah meninggalkan salat atau puasa, maka wajib mengqadhanya. Jika dahulu tidak menunaikan zakat, maka tunaikanlah sekarang. Taubat bukan berarti menghapus tanggung jawab terhadap kewajiban yang telah ditinggalkan.
Baca Juga : Bawa Energi Rezeki di Awal Tahun! 5 Tanaman Hias Pembawa Keberuntungan 2026
Hadirin rahimakumullah,
Taubat seorang muslim berbeda dengan taubat non-muslim yang memeluk Islam. Bagi seorang muslim, kewajiban yang pernah ditinggalkan tetap harus diganti menurut pendapat yang kuat. Sedangkan non-muslim yang masuk Islam, kewajiban masa lalunya tidak dibebankan kepadanya.
Syarat taubat nasuha berikutnya adalah dilakukan pada waktunya. Taubat memiliki batas waktu, baik secara umum maupun khusus. Secara umum, taubat diterima selama matahari masih terbit dari timur dan terbenam di barat. Jika matahari telah terbit dari barat, maka taubat tidak lagi bermanfaat, karena itu merupakan tanda berakhirnya zaman.
Allah berfirman yang artinya:
“Pada hari datangnya sebagian tanda Tuhanmu, tidak bermanfaat lagi iman seseorang yang belum beriman sebelumnya atau belum mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.” (QS. al-An‘am: 158)
Adapun waktu khusus taubat adalah sebelum ajal tiba. Ketika sakaratul maut datang, taubat tidak lagi diterima, sebagaimana firman Allah dalam Surah an-Nisa’ ayat 18.
Hadirin sekalian, syarat-syarat tersebut berlaku untuk dosa yang berkaitan langsung dengan hak Allah. Sementara jika dosa berkaitan dengan hak sesama manusia, maka wajib terlebih dahulu meminta maaf atau mengembalikan hak orang yang dizalimi sebelum memohon ampun kepada Allah. Jika pernah merampas sesuatu, segeralah kembalikan. Jika orang yang dizalimi telah wafat atau sulit ditemui, perbanyaklah memohonkan ampunan untuknya agar kelak amal kita tidak diambil sebagai tebusan kesalahan.
Allah tidak pernah memerintahkan sesuatu kecuali demi kemaslahatan hamba-Nya. Perintah taubat pun semata-mata demi kebaikan kita, agar kita menyadari kesalahan dan memperbaiki keadaan. Boleh jadi berbagai kerusakan, bencana, dan musibah yang terjadi merupakan akibat dari pelanggaran terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana peringatan-Nya:
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Artinya: “Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah atau azab yang pedih.” (QS. an-Nur: 63)
Hadirin rahimakumullah,
Demikianlah cara Allah melindungi hamba-Nya dari berbagai kerusakan, baik agama, jiwa, akal, keturunan, maupun harta. Untuk tujuan inilah syariat Islam diturunkan. Contohnya, larangan zina ditetapkan untuk menjaga kehormatan dan keselamatan manusia, baik di dunia maupun di akhirat.
Namun saat ini, perzinaan sering dianggap hal biasa. Akibatnya, banyak anak lahir tanpa kejelasan, bahkan menjadi korban pembunuhan dan aborsi. Padahal Islam hadir untuk menjaga hak asasi manusia dengan cara melarang perbuatan yang merusak martabat manusia itu sendiri.
Karena itu, jika kita masih mencintai keselamatan diri, keluarga, dan umat manusia, maka bentengilah diri dengan berpegang teguh pada tuntunan Allah. Upaya menjaga diri dan keluarga ini termasuk bentuk jihad dan pembelaan terhadap kehormatan agama.
Seiring berakhirnya tahun 2025, marilah kita melakukan introspeksi, membersihkan diri, menjernihkan hati dengan taubat, serta menata langkah menyongsong masa depan dengan lebih optimis. Insyaallah, dengan kembali kepada tuntunan Allah, kehormatan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta akan lebih terjaga, dan kehidupan menjadi lebih tertata.
Demikian khutbah yang dapat khatib sampaikan. Semoga kita mampu mengambil pelajaran dari setiap peristiwa dan diberi kesempatan untuk bertaubat atas segala kekhilafan, demi kebaikan dunia dan akhirat. Aamiin ya rabbal ‘alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِوَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِوَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
