JATIMTIMES - Nama Sya’wanah al-Ubullah mungkin tidak setenar tokoh sufi laki-laki dalam sejarah Islam, namun kisah hidupnya meninggalkan jejak mendalam tentang arti tobat dan ketulusan. Imam Abdurrahman al-Sulami dalam Thabaqat al-Shufiyyah mencatatnya sebagai seorang perempuan yang dikenal dengan bacaan Al-Qur’an yang indah, penuh penghayatan, dan menyentuh hati siapa pun yang mendengarnya.
Sebelum dikenal sebagai seorang ahli ibadah, Sya’wanah menjalani kehidupan yang jauh dari nilai spiritual. Ia pernah larut dalam kesenangan duniawi dan kemewahan hidup. Namun suatu hari, perjalanan hidupnya berubah total. Saat mendengar bacaan Surah Al-Furqan ayat 12–13, ia merasakan getaran batin yang luar biasa. Ayat itu berbunyi, “Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka akan mendengar kegeramannya dan suara nyalanya. Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit dengan belenggu, di sana mereka mengharapkan kebinasaan.”
Baca Juga : Mahasiswa KKN Unisba Blitar Dorong UMKM Sentul Menuju Sertifikasi Halal
Tangisan pun pecah dari dirinya. Ia merasakan seolah ayat tersebut diturunkan khusus untuk menegurnya. Sejak saat itu, ia meninggalkan kehidupan lama dan menapaki jalan penuh keikhlasan menuju Allah. “Ayat itu membuatku sadar, betapa rapuhnya manusia ketika berhadapan dengan murka Allah,” demikian pengakuan yang dikisahkan dalam riwayat tasawuf.
Perubahan Sya’wanah bukan hanya sebatas meninggalkan kebiasaan lama, melainkan benar-benar mengisi hari-harinya dengan ibadah. Ia dikenal selalu menangis ketika membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Air matanya menjadi bahasa hati yang menyampaikan ketakutan, penyesalan, sekaligus kerinduan pada Sang Pencipta. Al-Sulami menulis, “Ia selalu menangis ketika membaca Al-Qur’an, seolah ayat-ayat itu diturunkan hanya untuk dirinya.”
Riwayat mengenai Sya’wanah kemudian menyebar luas melalui karya-karya tasawuf lain dan juga dituturkan ulang dalam berbagai kisah hikmah yang beredar di masyarakat. Situs Kisah Muslim mencatat bahwa tangisan Sya’wanah bukan sekadar penyesalan, melainkan bentuk kecintaan mendalam kepada Allah. Air matanya justru menjadi tanda kebahagiaan, sebab ia merasa dekat dengan Sang Maha Pengampun.
Kisah ini meninggalkan pelajaran besar: bahwa pintu tobat selalu terbuka, seberapa pun jauh seseorang terjerumus dalam kesalahan. Al-Qur’an bukan hanya kitab bacaan, tetapi juga sumber cahaya yang mampu mengubah jalan hidup. Sya’wanah mengajarkan bahwa keindahan sejati bukan terletak pada harta atau kemewahan, melainkan pada hati yang jernih dan rela kembali kepada Allah.
Baca Juga : Pesan Kemerdekaan Rektor Unikama: Kemerdekaan Harus Diisi Kolaborasi dan Inovasi
Dalam konteks kehidupan modern, kisah Sya’wanah memberi cermin bahwa manusia kerap tergoda oleh gemerlap dunia. Namun, sebagaimana dialaminya, satu ayat saja bisa menjadi titik balik. Refleksi ini semakin relevan ketika banyak orang mencari ketenangan batin di tengah hiruk pikuk kehidupan. Kisahnya menunjukkan bahwa perubahan itu mungkin, meski dimulai dari satu kesadaran kecil.
Sya’wanah bukan hanya perempuan sufi dalam catatan sejarah. Ia adalah simbol keberanian untuk berbalik arah, teladan tentang bagaimana seseorang mampu merenda hidup baru dengan ketulusan. Air mata yang dahulu mengalir karena dosa, kini berubah menjadi saksi cinta kepada Allah. Dari sinilah kita bisa belajar, bahwa tobat sejati bukan sekadar ucapan, melainkan perjalanan panjang menuju cahaya.
