JATIMTIMES - Perang Suksesi Jawa Kedua pada paruh awal abad ke-18 bukan sekadar bentrok senjata antar-bangsawan di istana Kartasura. Perang itu menjadi pusaran dendam darah, retakan legitimasi, dan panggung di mana ajaran spiritual Jawa masih dihidupkan oleh rakyat yang geram terhadap kerakusan Kompeni.
Di sinilah jejak keturunan Susuhunan Pakubuwana I, putra Sunan Amangkurat I dari jalur Kajoran - Pajang, terbelah dan memekarkan perang saudara yang menentukan nasib Mataram.
Baca Juga : Warga Kabupaten Blitar Kini Bisa Urus Adminduk dari Rumah Lewat IKD
Pakubuwana I, yang lahir dengan nama Gusti Raden Mas Derajat, pernah menyaksikan ayahandanya, Amangkurat I, terjungkal dari Plered akibat badai Trunajaya. Ia sendiri sempat merebut Plered ketika sang kakak, Raden Rahmat, memilih diangkat menjadi Sunan Amangkurat II dan mendirikan pusat kekuasaan baru di Kartasura.
Di kemudian hari, Pangeran Puger, nama yang dipakainya kala itu, bangkit kembali merebut tahta Mataram dengan mengkudeta keponakannya sendiri, Amangkurat III, melalui persekutuan berdarah dengan VOC. Setelah turun-temurun berusaha memulihkan wibawa dinasti, Pakubuwana I wafat di Kartasura pada tahun 1719, meninggalkan pusaka kerajaan berupa 22 orang putra-putri yang di antaranya lahir dari darah Kajoran, Madura, Blitar, dan Kadilangu—garis kebesaran yang kelak berbaur dengan bara perebutan.
Lewat permaisurinya, Ratu Mas Blitar, bangsawan Madiun dari trah Pangeran Juminah, putra Panembahan Senapati, Pakubuwana I menanam jalur dinasti yang menyimpan benih perebutan. Dari rahim Ratu Mas Blitar lahirlah para putra terpenting: Gusti Raden Mas Suryo Putra yang kelak naik takhta sebagai Sunan Amangkurat IV; Raden Mas Sudomo yang dikenal sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Blitar; Raden Mas Gusti Sasangka yang bergelar Pangeran Adipati Purbaya; serta putri-putri sekandung mereka, di antaranya Kanjeng Ratu Timur dan Bandara Radin Ayu Demes.
Mereka, para saudara sedarah sekandung, mewarisi mahkota Mataram, tetapi di balik tembok Kartasura tumbuh pula saudara-saudara tiri: Pangeran Arya Dipanegara, Pangeran Arya Pamot, Pangeran Dipasanta, dan darah Madura, Kajoran, serta Kadilangu yang lahir dari garwa lain.
Maka, ketika Pakubuwana I mangkat pada tahun 1719, Amangkurat IV naik takhta sebagai penerus sah, putra sulung Ratu Mas Blitar. Namun sejarah mencatat, para saudara kandungnya sendiri tak semua rela bertekuk lutut. Pangeran Arya Blitar merasa haknya terpinggirkan; Pangeran Purbaya dan para pangeran Kapurbayan pun menolak tunduk, melihat istana Kartasura kian tersandera kepentingan Kompeni.
Di balai penghadapan Kartasari, para senapati rakyat, ulama, dan pangeran saingan berikrar menobatkan raja baru. Gelar kehormatan Sultan Ibnu Mustafa Pakubuwana terpatri, seolah hendak merestorasi nama besar leluhur yang direnggut oleh perang saudara. Ia diangkat di bawah panji-panji spiritual yaitu restu Kangjeng Ratu Ageng, Pangeran Purbaya, Garwakanda, dan para Kyai Wanagiri. Segenap pusaka ini menjalin aliansi rakyat dan bangsawan melawan Kompeni Belanda yang rakus meriam.
Versi lain menyebutkan penobatan berlangsung di Kartasekar, bekas keraton karya Sultan Agung yang terletak di Bantul, Yogyakarta.
Di situlah pusaran Perang Suksesi Jawa II mencapai puncaknya, panggung pertaruhan antara trah darah dan senjata sewaan, antara legitimasi langit dan perdagangan kuasa di antara tembok Kartasura yang sudah retak di dasar. Sejarah mencatat bahwa takhta Mataram kembali bergetar oleh putra-putra Pakubuwana I sendiri, saudara-saudara sedarah yang bertaruh kepala di medan pamengkang, di antara puing istana yang berlumur darah sesama.

Kartasura di Titik Goyah
Kita tidak dapat memahami episode ini tanpa merujuk pada latar sosial politik Kartasura yang rapuh. Sebagai salah satu cikal pewaris Mataram Islam, Kartasura memanggul luka sejarah semenjak keruntuhan Plered, Perjanjian Giyanti, hingga belenggu Kompeni VOC. Di balik tembok keraton, raja Pakubuwana II dan para patihnya menghadapi tekanan pajak, dendam bangsawan daerah, dan rongrongan para senapati muda yang merasa marwah ningrat dipermainkan.
Sumber primer Babad Kartasura II merekam bagaimana tokoh-tokoh seperti Pangeran Arya Blitar dan Pangeran Purbaya muncul dari pusaran kekecewaan. Pangeran Arya Blitar, saudara raja sendiri, memimpin pasukan rakyat Kablitaran yang didukung barisan Kapurbayan di bawah komando Pangeran Purbaya. Dalam nyanyian durma Babad Kartasura, barisan rakyat itu terdiri dari lurah-lurah desa Gendara, Ki Garwakanda, Subala, Subali, Banendra Sudira, Ki Anggendara, Jaladara, Secawira, Ganggapati, hingga Urawan. Mereka bukan sekadar prajurit, tetapi simbol amarah petani yang tertekan pajak, buruh tani yang kehilangan hak tanah, dan abdi dalem yang dikhianati tuannya.
Prajurit Desa Menyerbu Ibu Kota
Titik api meletus saat pasukan Kablitaran mengepung jantung Kartasura. Babad Kartasura II melukiskan dengan dramatik: “Hiruk-pikuk seisi istana, seluruh negara dalam keadaan kacau-balau… prajurit Kablitaran menembaki kemit istana, sambil bersorak, ‘Kartasura runtuh, Kartasura menyerah!’”
Garwakanda, salah satu senapati desa, menembus penjara istana demi membebaskan Ragum, putranya. Tangis kebapakan bercampur sorak kemenangan menandai betapa perang ini bukan hanya perebutan tahta, tetapi juga penebusan harga diri.
Sementara itu, pasukan Kompeni Belanda, yang awalnya bersikap ragu, mulai terlibat setelah Ki Mangunnagara menggugah sang luitenant Belanda di loji. Konon, kata-kata Ki Mangunnagara menggema seperti sabda: “Tidakkah kau sadar, mereka datang tidak hanya untuk menyerang sang Raja, tetapi kalian kumpeni juga"
Setelah keputusan diambil, pasukan Kompeni menurunkan barisan di Pamengkang dan menyerang dengan senapan serbu serta granat. Gelombang pasukan rakyat dihujani peluru. Secadirana, Panji Tohpati, dan Labasa gugur satu demi satu. Namun pasukan Blitaran tidak kunjung padam.
Retaknya Pertahanan, Pecahnya Dendam
Kekalahan beruntun memaksa Pangeran Arya Blitar mundur. Bersama sisa pasukan Kablitaran, ia menarik diri ke Kapurbayan, sebuah basis pertahanan spiritual yang masih menyimpan simpul loyalitas kerabat ningrat. Tangisan Kangjeng Ratu Ageng di Kapurbayan menjadi saksi bagaimana ikatan darah dan politik tidak selalu selaras: “Duhai Sribupati… lebih baik aku turut mati saja…” ratapnya. Di sinilah Pangeran Arya Blitar menyatu dengan kakandanya, Pangeran Purbaya, membentuk aliansi keraton tandingan.
Pangeran Purbaya menurut babad tidak sekadar senapati. Ia adalah penjelmaan Panembahan, peneguh marwah spiritual ningrat Mataram. Dengan kalimat pendek namun penuh getar, ia berujar, “Sudahlah adimas, jangan menangis, kanda bersedia membantumu.”
Penobatan Raja Tandingan: Kartasekar sebagai Simbol Legitimasi
Dari Kapurbayan, pasukan pemberontak berarak ke Kartawinatan lalu menempati bekas istana Karta peninggalan Sultan Agung di Bantul. Tempat itu mereka restorasi dan hidupkan kembali dengan nama Kartasekar, sebuah nagari atau kerajaan dadakan yang sarat dengan simbol penebusan kehormatan. Di balai penghadapan, Pangeran Purbaya menghimpun para kyai, petapa, dan ulama; mereka bukan sekadar penonton tetapi saksi hidup legitimasi spiritual.
Dalam tradisi Jawa, penobatan seorang raja tidak cukup ditentukan oleh pedang dan senapan, tetapi dimateraikan oleh doa dan restu para wali. Kiyai Wanagiri memimpin doa bersama, rakyat menengadah, para senapati menahan tangis.
Baca Juga : Getayu Mengamuk: Ketika Kuda Diponegoro Mengalahkan Kavaleri Kompeni
Di sanalah Pangeran Arya Blitar diangkat sebagai Sultan Ibnu Mustafa Pakubuwana Alagan Senapati Abdulrahman Sayid Panatagama, sebuah gelar panjang yang menandai restu bumi dan langit serta lahirnya raja tandingan pertama di Kartasura. Peristiwa ini menjadi penanda betapa rapuhnya legitimasi Pakubuwana resmi yang telah menggantungkan tahta pada persekutuan dengan Kompeni.

Gerakan Bercabang: Perang ke Toyamas dan Banyumas
Tak berhenti pada simbol, pemerintahan tandingan segera membagi pasukan: Ki Tumenggung Martasura dikirim menaklukkan Kedu, kemudian bergerak ke Toyamas (Banyumas). Prajurit rakyat merebut desa-desa di Parimana, Pamreden, Bandar, hingga Sigaluh. Sebagaimana tertulis dalam Babad Kartasura II: “Daerah-daerah yang sulit dijangkau banyak pula yang tunduk. Tumenggung Banyumas akhirnya menyerah, meski banyak prajurit yang gugur.”
Serangan ini membuktikan satu hal: bahwa perlawanan rakyat tidak lagi sekadar ‘gerombolan’, tetapi gerakan militer yang terstruktur. Tumenggung Sindusastra, Dipati Lumarap, hingga saudagar kaya Kartasura, Ki Prajasuta (gelar Tumenggung Sumabrata) — semua terlibat. Bahkan orang-orang Makasar, Bugis, Sumbawa, hingga Ambon, berjaga di sekitar pagelaran Kartasura, menandai bahwa Kartasura benar-benar menjadi labirin kepentingan lokal, regional, dan VOC.
Pusaka Spiritual, Genealogi Kekuasaan
Satu detail kecil menyingkap kunci spiritual gerakan ini yaitu Pangeran Arya Mangkunegara, putra raja Amangkurat IV, yang justru enggan kembali ke istana dan memilih bergabung bersama pamandanya, Pangeran Purbaya, ke Kartasekar, istana lama Sultan Agung yang direstorasi menjadi pusat perlawanan. Di sana, ia dijodohkan dengan putri Pangeran Blitar, Raden Ayu Wulan, sebuah perkawinan darah yang menegaskan bahwa legitimasi tahta tidak pernah benar-benar terlepas dari pusaka dan silsilah leluhur. Kyai Wanagiri pun diangkat martabatnya menjadi Kyai Gede Wanadadi, penasihat spiritual sang raja tandingan. Kelak dari rahim perkawinan Pangeran Arya Mangkunegara dan Raden Ayu Wulan inilah lahir seorang legenda tanah Jawa, Raden Mas Said, yang kelak masyhur sebagai Pangeran Sambernyawa, pendiri Kadipaten Mangkunegaran.
Dalam perspektif counter-history (sejarah tandingan), inilah bukti bahwa Kartasura tidak pernah benar-benar berkuasa secara mutlak. Sebuah raja hanya sah di mata rakyat bila pusaka spiritual, dukungan genealogis, dan restu ulama menyertainya. Sultan Ibnu Mustafa Pakubuwana lahir bukan hanya karena pedang, tetapi juga karena dendam dan doa.
Bagaimanakah ujung narasi ini? Sejarah resmi mencatat bahwa gerakan raja tandingan akhirnya runtuh akibat gabungan pasukan Kompeni, tekanan dari Surabaya, dan manuver diplomasi Kartasura yang memanggil Tumenggung Cakrajaya serta Tuan Amral. Babad Kartasura menulis bahwa para Dipati Surabaya pun tertegun dengan kematian Pamanda Kartanagara, yang dianggap sebagai bukti bahwa Kartasura pecah. Satu demi satu daerah taklukan ditarik kembali oleh VOC. Kartasura tetap bertahan, tetapi retaknya legitimasi telah menjadi bara abadi.
Pangeran Arya Blitar: Dari Putra Mahkota Harapan Menjadi Pemberontak Dinasti

Di ambang runtuhnya Dinasti Mataram awal abad ke-18, di jantung istana Kartasura lahirlah seorang pangeran berdarah biru yang kelak menyalakan bara pemberontakan: Pangeran Arya Blitar. Namanya kerap dipersempit hanya sebagai ‘pangeran Blitar’, padahal gelar ini sejatinya memikul silsilah agung. Ia adalah putra Susuhunan Pakubuwana I dengan Ratu Mas Blitar, seorang permaisuri keturunan Retno Dumilah, pendekar perempuan legendaris dari Madiun, sekaligus permaisuri Panembahan Senapati, pendiri Mataram Islam.
Retno Dumilah mewariskan api perlawanan. Itulah sebabnya sejak belia, Arya Blitar tumbuh bukan hanya di antara tembok istana, tetapi juga di bawah bayang pusaka pusaka spiritual. Sebagai putra mahkota potensial, ia pernah menjadi tangan kanan ayahandanya. Sumber-sumber Jawa mencatat perannya menumpas sisa-sisa loyalis Amangkurat III dalam Perang Suksesi Jawa I (1704–1708). Dari sinilah, nama ‘Arya Blitar’ menempel di pundaknya — bukan sekadar nama daerah, tetapi lambang kuasa baru.
Namun, sejarah selalu berbelok di simpang politik istana. Pada 1719, Pakubuwana I wafat. Takhta Kartasura jatuh ke tangan Sunan Amangkurat IV, putra sulung Ratu Mas Blitar. Di sinilah retakan muncul. Bagi Arya Blitar, perebutan wilayah apanage Jagaraga dan Blora oleh sang saudara tiri bukan semata soal tanah, tetapi penghinaan simbolis. Apanage dalam tradisi Jawa adalah sumber nafkah sekaligus legitimasi kedaulatan. Dicabutnya tanah itu sama artinya merampas hak lahiriah dan batiniah seorang pangeran darah utama.
Dalam catatan sejarah, Pangeran Arya Blitar bukan satu-satunya yang merasa terbuang. Saudara seayahnya, Pangeran Purbaya, dan para bangsawan Kapurbayan pun ikut gerah melihat Kartasura kian tunduk pada VOC. Maka, lahirlah benih pemberontakan.
Mereka menyingkir ke Kartasekar, istana tua Sultan Agung di Karta yang direstorasi menjadi Nagari Kartasari. Di sanalah Arya Blitar diangkat sebagai Sultan Ibnu Mustafa Pakubuwana, sebuah gelar yang menandai restu bumi dan langit bagi seorang raja tandingan.Penobatan itu bukan sekadar formalitas politik. Di balai penghadapan Kartasekar, Kyai Wanagiri memimpin doa penobatan, dinaikkan martabatnya menjadi Kyai Gede Wanadadi, penasihat spiritual raja tandingan. Dari catatan lisan para abdi dalem, inilah penanda betapa di Jawa, legitimasi tahta tidak hanya ditentukan pedang dan senapan, tetapi juga do’a dan restu para spiritualis.
Pemberontakan Arya Blitar bukan pemberontakan seorang diri. Ia menjalin koalisi luas dengan Pangeran Purbaya, Arya Dipanagara, hingga Arya Jaya Puspita di pesisir. Para senapati seperti Surapati, Suradilaga, Panji Surengrana, dan Panji Kartayuda mengikat sumpah setia di bawah panji Kartasekar. Dalam laporan VOC, gerakan ini disebut “ancaman terkoordinasi” — sinyal bahwa retakan Kartasura telah menjalar ke desa-desa, menembus pagar benteng loji Belanda.
Ironi pun terbit dari silsilah. Ialah Ratu Mas Blitar, sang ibu suri, yang menjadi jantung spiritual perlawanan. Bagi Pangeran Blitar, restu ibunda bukan sekadar ikatan darah, tetapi energi trah Retno Dumilah yang menolak tunduk pada tirani. Di sinilah narasi spiritual-kerakyatan hidup: dendam istana bercampur rindu akan tahta yang bersih dari cengkeraman Kompeni.
Kartasekar akhirnya jatuh pada tahun 1720 setelah didobrak pasukan Kartasura yang disokong VOC. Namun bara itu tidak padam begitu saja. Di ujung hidupnya, Arya Blitar wafat di Lumajang pada tahun 1721, wafat sebagai pangeran pemberontak tetapi tetap dimakamkan secara terhormat di Astana Panitikan, Yogyakarta, berdampingan dengan Ratu Mas Blitar.
Dari rahimnya, silsilah ini menetas kembali. Putrinya, Raden Ayu Wulan, menikah dengan Pangeran Arya Mangkunegara dan menurunkan Raden Mas Said, yang kelak masyhur sebagai Pangeran Sambernyawa, pendiri Mangkunegaran. Hal ini membuktikan bahwa pusaka darah pemberontak tetap menemukan jalannya.
Di mata istana, Pangeran Arya Blitar adalah pengkhianat. Tetapi dalam bisik rakyat, namanya adalah tanda bahwa ketika tahta dinodai penguasa lalim dan Kompeni serakah, selalu ada anak Retno Dumilah yang berani menantang.
