Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Ekonomi

Harga Singkong Masih Perlu Didongkrak, Pakar UB: Harus Didorong Optimal ke Industri dan Milenial Perlu Terlibat

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

07 - Aug - 2025, 12:14

Placeholder
Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UB, Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, MP (foto: Anggara Sudiongko/ MalangTimes)

JATIMTIMES - Di tengah status Indonesia sebagai salah satu produsen singkong terbesar di dunia, nasib petani ubi kayu justru memprihatinkan. Harga komoditas ini masih bertahan di bawah Rp 1.350 per kilogram secara nasional, jauh dari nilai ekonomis yang seharusnya bisa diperoleh petani. 

Kondisi ini memantik perhatian berbagai pihak, termasuk akademisi dari Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (FTP UB), yang mendorong inovasi hilirisasi dan keterlibatan generasi muda dalam pengolahan dan pemasaran singkong.

Baca Juga : Viral TikToker Jual Bento Nasi Timun Rp 75 Ribu, Ternyata Ini Alasannya 

Sebelumnya, Wakil Menteri Pertanian RI, Harvick Hasnul Qolbi, dalam pernyataan resminya dibeberapa media mengungkap, bahwa rendahnya harga singkong dipengaruhi oleh kualitas panen yang belum seragam, serta belum terhubungnya produksi petani dengan industri hilir.

Dalam beberapa bulan terakhir, harga jual di tingkat petani hanya berkisar antara Rp 1.000- hingga  Rp 1.350 per kilogram. Menurutnya, harga singkong belum bisa optimal karena sistem budidaya yang masih tradisional dan kurang memperhatikan aspek kualitas. Padahal pemerintah telah menetapkan harga singkong perkilo minimal Rp 1.350. Hal ini tentunya masih selisih jauh, dimana di pasar eceran, harga olahan berbasis singkong bisa mencapai Rp 5.000 bahkan Rp 10.000 per kilogram.

Namun di sisi lain, akademisi menilai bahwa permasalahan tidak hanya berhenti di kualitas saja, tapi juga menyangkut sistem tata niaga dan nilai tambah produk.

Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, MP, Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, Bidang ilmu Statistika dan Digital Agroindustri menyoroti bahwa sebenarnya singkong memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Namun, potensi ini belum dimanfaatkan secara maksimal karena belum banyak yang mengolahnya menjadi produk bernilai tambah.

“Singkong itu sangat potensial, tidak hanya sebagai makanan pokok, tapi bisa dikembangkan jadi snack, tepung, atau produk-produk industrial lain yang punya nilai jual tinggi,” ujarnya, saat diwawancarai JatimTIMES, Rabu, (6//8/2025).

Menurutnya, solusi kunci terletak pada pengolahan pasca-panen. Ia menilai perlunya peran aktif teknologi pertanian dalam menghasilkan intermediate product, yaitu produk olahan setengah jadi yang bisa langsung diserap industri, seperti tepung singkong, gaplek, atau bahan baku bioetanol.

"Kalau sudah bisa disiapkan intermediate product yang dibutuhkan industri, maka nilai ekonominya akan otomatis meningkat. Tidak akan ada lagi kasus petani jual murah sementara harga di pasar tinggi," jelasnya.

Baca Juga : Ospek UTM Ricuh, Panitia Terjatuh dari Panggung hingga Dilarikan ke RS

Namun ia juga menyoroti panjangnya rantai distribusi sebagai salah satu akar masalah. Tengkulak atau perantara kerap mengambil keuntungan terlalu besar, sementara petani tetap menjadi pihak yang paling dirugikan. “Di petani bisa Rp500, tapi di pasar bisa sampai Rp5.000. Ini karena rantai pasoknya terlalu panjang,” tambahnya.

Dalam konteks pembangunan pertanian modern, ia menekankan pentingnya melibatkan generasi muda, terutama dalam hal pemasaran dan inovasi produk. “Kalau bisa dikemas dengan gaya kekinian, dijual dengan sentuhan milenial, potensi ekonomi singkong bisa sangat besar,” katanya.

Ia juga mengajak kelompok tani dan gabungan kelompok tani (Gapoktan) untuk mulai memanfaatkan teknologi tepat guna yang bisa mengolah singkong menjadi produk olahan siap jual. Keterhubungan dengan industri, baik kuliner maupun manufaktur, menurutnya adalah langkah penting untuk melepaskan petani dari ketergantungan pada tengkulak.

Sementara itu, Triasih salah satu pedagang Singkong keliling dikawasan Kedungkandang, mengatakan, bahwa harga singkongnya bervariasi, mulai dari Rp 2.000 hingga Rp 7.000 perkilogram. Menurutnya, harga dinasional tak terlalu berpengaruh pada harga lokal, dimana sektor pasarnya memang berbeda.

"Nggak terlalu pengaruh di daerah. Apalagi saya juga menanam sendiri. Mungkin yang harga murah itu di nasional, dengan pasar yang lebih besar. Malahan ada yang sampai diatas Rp 10.000 yang dijual lagi," paparnya.


Topik

Ekonomi Singkong harga singkong Guru Besar FTP UB ubi kayu



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Sri Kurnia Mahiruni