JATIMTIMES - Pada tepian Sungai Kalimas, di balik jembatan, baluwarti, dan tembok kota yang dahulu disusuri gerobak rempah dan meriam, berdirilah Surabaya. Sebuah kota pelabuhan yang berdenyut sebagai poros dagang, tetapi di balik debur ombak Madura dan bau garam pesisir, Surabaya memelihara sebuah Astana, yaitu istana peninggalan para adipati, pusaka spiritual, dan jejak dendam sejarah. Di pusat pusaran nama-nama besar itu, seberkas bayangan Pate Sudayo menegaskan bahwa Surabaya bukan sekadar kota pelabuhan, melainkan benih kekuatan politik yang menyalakan api perlawanan pesisir sejak runtuhnya Demak hingga perlawanan sengit terhadap hegemoni Mataram.
Awal Pusaka Pesisir: Benih Surabaya dari Demak
Ketika Demak yang agung terpecah-belah di paruh abad ke-16, berhembuslah kabar malapetaka di Panarukan (1546) yang menandai runtuhnya poros maritim pesisir. Tumbangnya Panarukan tak hanya memotong jalur perdagangan ke timur, tetapi juga meretakkan persekutuan pesisir utara. Kala itu, Demak, Tuban, Jepara, hingga Surabaya terjalin dalam simpul longgar yang saling menopang, diikat oleh satu pusaka suci: barakah Sunan Ngampel Denta.
Baca Juga : Satpol PP Surabaya Tertibkan Pedagang di Trotoar Pasar Keputran
Sebagaimana dicatat De Graaf (2001: 74), para raja Surabaya sejak generasi pertama meyakini bahwa mereka adalah keturunan langsung Sunan Ampel. Babad Tanah Djawi (IX: 63) dan Serat Kandha (hlm. 842) pun mengafirmasi kepercayaan itu. Dengan runtuhnya Demak, Surabaya tampil sebagai penampung pusaka wali, meneruskan silsilah spiritual sekaligus membangun benteng fisik yang kokoh.
Di sinilah nama Pate Sudayo muncul, meski jejaknya tipis dalam babad, tetapi jelas dalam catatan Eropa. Dalam Peregrinação, Fernão Mendes Pinto mencatat bahwa seusai raja Demak terbunuh oleh putra Pate Pondan, delapan pembesar Jepara bersidang, sepakat memanggil seorang pangeran Surabaya bernama Pate Sudayo yang sedang berada di Pisammanes. Ia dibawa ke Demak, disambut sebagai pangueyram—kaisar dadakan untuk memulihkan tata tertib di kota yang dilanda perang saudara (Pinto, CLXXVI–CLXXIX).
Nama Sudayo memang memicu diskursus panjang. Ada yang menduga tokoh ini adalah Gusti Sidayu. Namun pembacaan silsilah Brandes No. 474 di Perpustakaan Nasional memunculkan hipotesis lain: bahwa Sudayo mungkin merujuk pada Pangeran Sunjaya, leluhur sebelum Pangeran Pekik. Hubungan genealogisnya memang remang, tetapi benang merahnya tegas: seluruh raja Surabaya sejak Sudayo menegaskan dirinya cucu-cicit Sunan Ampel.
Di sini, spiritualitas bukan sekadar hiasan legitimasi. Ziarah massal pada 1691 ke makam Sunan Ampel, yang bahkan disertai kesanggupan berkelahi melawan siapa saja yang menghalangi, menegaskan bahwa bagi para bangsawan Surabaya, pusaka wali adalah perisai rohani sekaligus senjata politik.
Astana Surabaya: Tembok, Parit, dan Baluwarti
Setelah Pate Sudayo, Surabaya tumbuh menjadi kota berkubu—sebuah entrepôt maritim dengan tata ruang yang memadukan seni Majapahit, pragmatisme pesisir, dan nuansa benteng Eropa. Catatan Artus Gijsels (1871) memberi gambaran detail: garis lingkar kota mencapai lima mil; separuh kota dikelilingi tembok, separuhnya lagi oleh baluwarti (earthen ramparts). Di antara tembok dan parit menghampar tanggul kokoh. Benteng-benteng bujur sangkar terpancang pada jarak setengah tembakan meriam, meniru desain Tiongkok dan Jepara. Setiap benteng memiliki 10–12 meriam, menegaskan bahwa Surabaya bukan sekadar pasar rempah, tetapi juga pangkalan artileri.
Dalam Oud en Nieuw Oost-Indiën karya François Valentijn (1724), Astana atau keraton Surabaya digambarkan sebagai istana batu yang terletak di ujung kota, berdiri dekat aliran sungai, dan dikelilingi taman yang rindang dengan pohon linde atau waringin besar. Bangku-bangku batu difungsikan sebagai singgasana bagi sang raja, sementara para bangsawan duduk di sekitar akar pohon, membentuk sebuah miniatur alun-alun yang menyerupai tata ruang keraton di Solo atau Yogyakarta. Tidak jauh dari Astana, terbentang alun-alun sebagai ruang multifungsi: tempat pengadilan, pasar, dan barisan artileri. Gijsels mencatat keberadaan sekitar dua puluh meriam dari besi dan perunggu, beberapa di antaranya ditempa oleh pengrajin Surabaya sendiri. Tingkat pengolahan logam yang relatif maju ini mempertegas bahwa keunggulan teknologi senjata turut menopang posisi Surabaya sebagai kota yang tangguh dan mandiri.
Peta Cornelis Speelman (1677) dan surat G. Cnoll (1708) menambahkan lapisan narasi penting: di dalam Astana yang megah, bangunan kuno peninggalan Pangeran Tua tetap berdiri, bahkan setelah Surabaya jatuh ke tangan Mataram. Ketika Sunan Amangkurat III hendak dijadikan tahanan di tempat itu, bekas keraton tersebut dianggap telah terlalu bobrok untuk dihuni. Namun justru kerusakan itulah yang memancarkan aura sakral—sebuah peninggalan tak tergantikan, seakan pusaka yang menetap di tempat asalnya, yang tetap membangkitkan rasa bangga sekaligus menyimpan kenangan dendam sejarah.

Perempuan di Balik Benteng
Dalam pusaran genealogis Surabaya, perkawinan menjadi salah satu simpul utama dalam strategi diplomasi. Panembahan Jaya Lengkara, raja terakhir Surabaya, memiliki dua istri: seorang Ratu Mas dari Kediri dan seorang lagi dari Mojoagung. Kedua wilayah itu bukanlah pilihan yang kebetulan, melainkan pos-pos strategis Surabaya di wilayah barat daya. Pangeran Pekik sendiri, yang kelak memainkan peran penting dalam konflik dengan Mataram, menikahi putri dari Lamongan, sebuah daerah kunci di jalur perdagangan pesisir utara. Istri keduanya bahkan merupakan adik Sultan Agung, yaitu Ratu Pandan Sari.
Pola perkawinan lintas wilayah ini bukan sekadar jalinan asmara. Dalam politik pesisir Jawa, setiap pernikahan meneguhkan aliansi, memagari Astana Surabaya dari penetrasi Mataram. Bahkan ketika Pangeran Pekik akhirnya harus tunduk di istana Sultan Agung, statusnya tetap unik: menantu sekaligus lawan politik, simbol dendam pesisir yang dipelihara dalam istana pedalaman.
Di Balik Ziarah: Spiritualitas, Perlawanan, dan Dendam
Tak dapat dimungkiri, genealogis Sunan Ampel menjadi penopang ideologi perlawanan. Dalam setiap rombongan ziarah ke Ngampel Denta, terkandung pengakuan diri sebagai pewaris wali. Ziarah bukan sekadar ritual sufistik, tetapi praktik politis: penguatan klaim bahwa di balik tembok Astana Surabaya, tersimpan restu sang penyebar Islam Jawa.
Memori kolektif ini memicu sikap keras kepala Surabaya di panggung perang Jawa Timur. Selepas 1589, Surabaya tampil sebagai lawan utama Mataram. Serangan Sultan Agung di awal abad ke-17 berkali-kali terhadang. Catatan Artus Gijsels (1620) mengungkap betapa padatnya Surabaya kala itu: 30.000 prajurit disiagakan, tetapi populasi sipil tetap penuh sesak. Ironisnya, di tengah garnisun bersenjata, jumlah perempuan melimpah, menandakan Surabaya juga berfungsi sebagai pusat migrasi dan pelarian di masa konflik.
Dalam kacamata historiografi kritis, resistensi Surabaya ini adalah antitesis dari sentralisasi Mataram. Jika Mataram mengusung ideologi tanah Jawa pedalaman dengan legitimasinya sendiri (pusaka Majapahit, gelar Sultan Islam), Surabaya menawarkan jalur wali yang menancap kuat di pesisir: keterbukaan pelabuhan, pluralitas etnis, dan jaringan saudagar Muslim dari Gujarat, Makassar, Malaka.
Astana yang Rubuh, Ingatan yang Bertahan
Kunjungan utusan Belanda pada 1607 yang dicatat Commelin menyingkap sekilas wajah Astana: raja yang tua, bahkan buta, menerima tamu di bangunan batu berukir, membagi hadiah pada para istri dan selir berbalut emas. Di sana, kesahajaan keraton Jawa bertemu kerumitan diplomasi maritim. Sang raja bertanya tentang anjing, kucing, tikus di Belanda—barangkali tanda ingin tahu, barangkali pula ejekan halus pada orang asing yang memboyong hewan tak berguna ke tanah Jawa.
Sayangnya, kebesaran Surabaya hanya seumur jagung di tangan generasi Pate Sudayo. Setelah jatuh di bawah Mataram sekitar 1625–1626, Astana perlahan luruh. Surat G. Cnoll (1708) menyebutkan, temboknya tetap berdiri, tetapi bagian dalamnya semak belukar. Ketika Sunan Mas akan dikurung di situ, para pejabat VOC meragukan keamanannya. Bekas Astana lebih menyerupai pusaka keramat ketimbang benteng modern. Seluruh Surabaya pun porak poranda pada Perang Besar 1719, menandai berakhirnya fase Astana sebagai simbol kedaulatan.
Kronik yang Tak Pernah Utuh
Upaya menyusun kronik Surabaya, yakni kumpulan tutur rakyat, pernah dilakukan, tetapi hanya sedikit yang berhasil diselamatkan. Sebagian fragmen termuat dalam Babad Tanah Jawi, sementara sebagian lainnya tetap hidup dalam cerita lisan di kampung-kampung. Sisa Astana yang hilang justru membentuk memori kebanggaan baru: Surabaya dikenang sebagai kota perlawanan.
Hingga abad ke-20, kota ini masih dikenali sebagai warisan seni bangunan Jawa kuno. Waringin di alun-alun, tata ruang baluwarti, serta jejak fondasi tembok dan parit merupakan artefak sunyi yang menyimpan kisah Pate Sudayo, Pangeran Sunjaya, Jaya Lengkara, dan Pangeran Pekik. Mereka satu per satu menapaki jalur dendam, spiritualitas, dan kehormatan pesisir.
Baca Juga : Hari Bhakti Adhyaksa Diperingati 22 Juli, Tapi Tahukah Kamu Sejarah Asli Kejaksaan RI?
Di Surabaya hari ini, Jembatan Merah, Tambakbayan, dan Gang Keraton adalah fragmen sisa Astana yang sunyi. Namun jika sejarah dibaca sebagai pusaka mental, Astana Surabaya adalah ingatan tentang kota pelabuhan yang bertahan di antara pusaka wali, dendam bangsawan, dan tembok parit. Dalam pusaran ini, Pate Sudayo tetap bergema: nama samar yang mewakili transisi dari Demak ke Surabaya, dari pusaka Sunan Ampel ke baluwarti pesisir, dari persekutuan ke perlawanan.
Astana memang telah rubuh, tetapi tembok batinnya tetap hidup di jantung kota, mengingatkan bahwa Surabaya bukan semata kota para pahlawan modern, melainkan Astana pusaka yang menolak tunduk dan menolak lupa.

Pate Sudayo: Pangeran Surabaya, Bayangan Sunan Ampel di Balik Tahta Demak
Pada paruh kedua abad ke-16, pesisir utara Jawa menjadi arena perebutan kekuasaan yang berdarah antara sisa-sisa wangsa Demak, Jepara, dan kekuatan baru yang bermunculan di Surabaya. Di tengah kabut dendam dan intrik politik masa itu, muncul satu nama samar: Pate Sudayo, seorang pangeran dari Surabaya yang dalam catatan Portugis, Peregrinação karya Fernão Mendes Pinto, disebut sebagai pangueyram, yakni seorang kaisar yang pernah berusaha memulihkan Demak dari reruntuhan perang saudara.
Tragedi bermula ketika Raja Demak terbunuh oleh putra Pate Pondan yang masih muda. Tindak pembalasan yang lahir kemudian menandai kekerasan sistematis yang jarang dicatat secara detail oleh sejarawan arus utama. Pinto menuliskan, bukan hanya pelaku pembunuhan yang dieksekusi, tetapi ayahnya, ketiga kakaknya, bahkan 62 orang anggota keluarga lainnya turut dimusnahkan. Dengan demikian, satu cabang garis keturunan Wangsa Demak terhapus dari peta genealogis Jawa (Pinto, Peregrinação, CLXXVI).
Tragedi berdarah ini, jika ditafsirkan dalam konteks kronik Jawa, hampir pasti merujuk pada wafatnya Sunan Prawata, raja keempat Demak, yang dibunuh pada sekitar 1547 M. Sosok yang disebut Pate Pondan dalam catatan Pinto diyakini tak lain adalah Pangeran Sekar Seda Lepen, paman Sunan Prawata sekaligus adik Sultan Trenggana, yang sebelumnya dibunuh atas perintah Prawata sendiri. Sementara “putra Pate Pondan yang masih muda” mengarah kepada Arya Penangsang, Adipati Jipang Panolan, putra Sekar Seda Lepen. Dialah yang kemudian membalas dendam dengan membunuh Prawata.
Catatan mengenai eksekusi massal atas ayah, saudara, dan puluhan anggota keluarga besar, jika dirunut dalam kerangka silsilah, menegaskan bagaimana dendam berdarah ini berujung pada pemusnahan cabang keturunan Sunan Prawata. Peristiwa tersebut sekaligus menutup riwayat Wangsa Demak dan membuka jalan bagi kemunculan Pajang di bawah kendali Jaka Tingkir.
Tragedi ini berujung pada tercerainya keturunan Sunan Prawata ke berbagai daerah pesisir dan pedalaman. Salah satunya ialah Arya Pangiri, yang diasuh oleh Ratu Kalinyamat di Jepara. Ada pula Panembahan Wirasmara, yang tercatat bermigrasi ke Kediri. Ironisnya, Sultan Hadlirin, suami Ratu Kalinyamat pun turut menjadi korban, terbunuh oleh orang suruhan Arya Penangsang—mencerminkan bagaimana spiral kekerasan dalam konflik Wangsa Demak merembet jauh melampaui istana, menorehkan dendam yang diwariskan lintas generasi.
Di tengah kevakuman kepemimpinan itu, delapan pembesar kerajaan di Jepara bermufakat untuk memilih seorang figur penengah: Pate Sudayo, seorang pangeran dari Surabaya yang saat itu berada di Pisammanes. Namanya, menurut sejumlah ahli, memang membingungkan. Ada yang pernah menduga bahwa Sudayo adalah Gusti Sidayu, tetapi secara logis, gelar tersebut menunjukkan bahwa Sudayo bukanlah nama tempat, melainkan nama pribadi. Dalam penafsiran lain, Sudayo diduga sebagai nama lain dari Pangeran Sunjaya, tokoh yang tercantum dalam daftar penguasa Surabaya dalam Koleksi Brandes di Perpustakaan Nasional (Brandes No. 474). Namun, Sunjaya sendiri digantikan oleh Pangeran Pekik pada pertengahan abad ke-17, sehingga terdapat jurang generasi yang sulit dijembatani.
Peristiwa pengangkatan Sudayo bukanlah sekadar manuver politik darurat. Ia diundang ke Demak dalam sebuah upacara penuh kehormatan dan dijemput sebagai pangueyram, atau maharaja. Gelar ini, yang berarti “kaisar”, mencerminkan bahwa Surabaya, meskipun pada masa itu belum sepenuhnya mampu menandingi kekuatan Mataram, mulai diakui sebagai tumpuan stabilitas bagi kawasan pesisir utara Jawa, termasuk wilayah Lawu, Bale, dan Madura. Pate Sudayo kemudian menetap di Demak, menata kembali kota yang luluh lantak akibat perpecahan internal, serta berupaya menegakkan tata tertib (Pinto, Peregrinação, CLXXIX). Namun, catatan sejarah berikutnya mengenai dirinya seolah terhapus dari rangkaian babad yang tersisa.
Jaringan genealogis Surabaya mengungkap petunjuk penting: di balik nama Pate Sudayo berdenyut ikatan spiritual dengan Sunan Ngampel Denta, Sang Susuhunan Rahmat, wali besar penyebar Islam di kawasan pesisir. Silsilah Surabaya yang tersimpan dalam Koleksi Brandes menyebutkan bahwa para pangeran Surabaya memandang diri mereka sebagai keturunan langsung dari wali agung tersebut. Keyakinan ini tidak bersifat simbolik semata. Dalam Babad Tanah Djawi, Pangeran Pekik, penguasa Surabaya generasi berikutnya, disebut sebagai “seorang keturunan pandita” (Meinsma, Babad, hlm. 139). Pandita yang dimaksud tidak lain adalah Raden Rahmat, atau Sunan Ampel. Ikatan spiritual ini menumbuhkan loyalitas yang kuat dari keturunan Surabaya terhadap makam leluhur mereka. Surat dari Surabaya tertanggal 18 September 1691 mencatat bagaimana rombongan bangsawan Surabaya melakukan ziarah ke makam Sunan Rahmat dengan semangat militan. Mereka bahkan menyatakan kesiapan untuk mengangkat senjata apabila ada pihak yang berupaya menghalangi jalannya ritual tersebut.
Dari sini kita melihat bagaimana ideologi spiritual dan dendam genealogis saling menjalin dalam struktur politik Surabaya. Ikatan darah dengan Sunan Ampel memberi legitimasi moral, sedangkan dendam pada pembantaian keluarga Demak menajamkan motivasi untuk mempertahankan otonomi pesisir. Bukan kebetulan jika Surabaya kemudian menjelma menjadi lawan abadi Mataram. Setelah era Pate Sudayo dan Pangeran Pekik, Surabaya memimpin koalisi pelabuhan-pelabuhan pesisir timur melawan agresi militer Sultan Agung. Benteng Surabaya, yang pada puncaknya menjelma menjadi kota dengan sistem pertahanan terkuat di Jawa Timur, menampung sisa ideologi perlawanan Demak dan sisa-sisa kebesaran Majapahit.
Penulis meyakini bahwa raja raja Surabaya menyimpan memori Majapahit dalam bentuk kebudayaan Jawa Kuno, yang jejaknya masih dapat ditemui hingga awal abad ke dua puluh. Di kota inilah semangat tutur lisan bertahan. Sejumlah cerita rakyat dan kronik setempat yang kemudian menjadi bagian dari Babad Tanah Djawi dipelihara sebagai warisan kolektif perlawanan pesisir.
Kisah Pate Sudayo memang tinggal serpihan. Sebagian tersembunyi di antara celah nama yang tidak selalu koheren. Namun dalam lintasan historiografi, namanya adalah cerminan dari sebuah babak krusial. Surabaya sebagai keturunan wali dan penerus Majapahit menjadi sandaran Demak di saat kejatuhan. Dalam sudut pandang ini, takhta Pate Sudayo di Demak bukan sekadar akomodasi politik, melainkan simbol pertemuan dua pusaka agung: darah Sunan Ampel dan ambisi lama pesisir untuk tetap merdeka di bawah bayang bayang imperium pedalaman.
Dari Sunjaya ke Pekik, dari ziarah ke Ngampel Denta hingga dendam yang mengakar pada perang saudara Demak, Surabaya meneguhkan diri sebagai rival abadi Mataram. Pate Sudayo, sang pangeran yang diundang sebagai pangueyram, menjadi jembatan rapuh antara keruntuhan Demak dan bangkitnya resistensi pesisir. Dan di situlah, jejak Sunan Ampel tetap hidup: bukan sekadar pada batu nisan, melainkan pada dendam sejarah yang berurat di aliran darah penguasa Surabaya.
