JATIMTIMES - Vinda Maya Setianingrum, dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Unesa. Vinda Maya berhasil menyandang gelar doktor ilmu komunikasi spesialis komunikasi krisis setelah berhasil menjalani sidang terbuka di Program Studi (Prodi) S-3 Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta.
Dalam ujian terbuka tersebut, Vinda memaparkan disertasi berjudul “Pengelolaan Komunikasi dalam Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Perguruan Tinggi,” yang mengangkat topik penting mengenai bagaimana perguruan tinggi di Indonesia menangani dan mencegah kekerasan seksual di lingkungan kampus. Riset ini difokuskan pada tiga universitas besar di Indonesia, yaitu Universitas Riau (Unri), Universitas Andalas (Unand), dan Universitas Indonesia (UI), yang sudah memiliki pengalaman dalam menangani isu kekerasan seksual di kampus.
Baca Juga : Berita Duka: Connie Francis Penyanyi Pretty Little Baby Meninggal Dunia
Melalui disertasinya, Vinda Maya mengungkapkan bagaimana teori Strukturasi dan Communicative Constitution of Organization (CCO) dengan pendekatan Four Flows atau empat aliran komunikasi digunakan untuk meneliti dinamika pencegahan dan penanganan kasus kekerasan seksual. Ia juga mengintegrasikan teori Rhetorical Arena Theory (RAT) dalam menganalisis respon perguruan tinggi terhadap masalah ini.
“Dalam penelitian ini, saya tidak hanya mempelajari bagaimana kampus merespons kasus kekerasan seksual, tetapi juga merumuskan pendekatan komunikasi yang lebih efektif dalam mencegah dan menangani kasus tersebut,” ujar Vinda yang juga menjabat sebagai Direktur Humas dan Informasi Publik Unesa.
Menurut Vinda, di level pencegahan, strategi komunikasi yang terbuka dan partisipatif sangat penting untuk menciptakan budaya kampus yang empatik dan responsif terhadap isu kekerasan seksual. Sementara dalam penanganan kasus, komunikasi yang cepat, empatik, serta pro-korban dan anti-stigma, ditambah dengan kanal pelaporan yang aman, menjadi kunci penting.
Lebih lanjut, penelitian ini juga menekankan pentingnya komitmen struktural dan tata kelola komunikasi yang baik di tingkat perguruan tinggi serta Satgas PPKS (Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual). Proses komunikasi yang efektif di dalam universitas akan mempengaruhi keseluruhan strategi penanganan dan pencegahan kekerasan seksual di lingkungan kampus.
Menempuh studi doktor dengan berbagai peran sebagai dosen, peneliti, dan pimpinan di rektorat bukanlah hal yang mudah. Vinda mengakui bahwa proses ini penuh tantangan. "Sabar, punya target, dan mampu mengelola waktu dengan baik menjadi kunci. Saya harus menyelaraskan waktu untuk mengajar, bekerja di rektorat, kuliah di UNS, serta melakukan penelitian di UI, Unand, dan Unri," ungkapnya.
Sejak memulai kuliah doktor, Vinda hampir setiap pekan melakukan perjalanan jauh dari Surabaya ke Surakarta untuk mengikuti bimbingan. Ia juga harus mengunjungi berbagai universitas di Jakarta, Sumatera Barat, dan Riau untuk mengumpulkan data penelitian. Vinda memaparkan bahwa dalam kesehariannya, ia biasanya mengajar pada Senin hingga Kamis, lalu mengikuti bimbingan pada Jumat, sementara di malam hari ia menyisihkan waktu untuk membaca jurnal dan menyelesaikan riset.
Baca Juga : Marak Iklan Promosi Miras di Medsos, Begini Kata Akademisi UB
“Strategi saya itu biasanya, mengajar pagi sampe siang, sementara sorenya itu harus ke rektorat untuk rapat atau koordinasi dengan tim di Humas. Malamnya bersama keluarga. Nah, di sepertiga malamnya, baca paper dan mengerjakan riset,” bebernya.
Riset yang dikerjakannya itu mendapat apresiasi dari dewan penguji dan pimpinan Fisip UNS. Dekan Fisip UNS, Didik Gunawan Suharto, menyampaikan bahwa fokus kajian yang ditampilkan sangat relevan dengan kebutuhan kampus sekarang.
"Kita berharap ilmu yang diperoleh tidak berhenti pada gelar doktor, melainkan terus berkembang dan memberikan manfaat, baik bagi pengembangan ilmu komunikasi di Unesa dan UNS," harapnya
