JATIMTIMES - Pada akhir abad ke-16, di tengah perubahan tatanan kekuasaan politik di tanah Jawa, muncul satu nama yang kerap tenggelam dalam hiruk-pikuk historiografi: Senapati Kediri. Sosok ini tidak hanya hadir sebagai tokoh militer, tetapi juga sebagai aktor sejarah yang memainkan peran penting dalam pembentukan hegemoni Mataram Islam di bawah Panembahan Senapati. Pertempuran berdarah, pembelotan elite lokal, dan rekayasa kekuasaan mewarnai narasi tentang bagaimana Senapati Kediri menantang takdir demi satu tujuan: menaklukkan Ratu Jalu dan menyerahkan Kediri ke pangkuan Mataram.
Keretakan dalam Dinasti Kediri
Runtuhnya Dinasti Demak dan kemunculan Pajang menciptakan ruang kekuasaan baru yang berupaya diisi oleh berbagai penguasa lokal, termasuk di Kediri. Selepas kematian Pangeran Mas, bupati Kediri, terjadi kekosongan kepemimpinan yang segera dimanfaatkan oleh Pangeran Surabaya dengan mengangkat Ratu Jalu sebagai pengganti. Namun pengangkatan ini tidak diterima oleh para saudara kandung mendiang Pangeran Mas, termasuk Senapati Kediri, Saradipa, Kentol Jejanggu, dan Kartimasa. Mereka memandang pengangkatan Ratu Jalu sebagai bentuk intervensi politik luar yang merusak legitimasi kekuasaan keluarga asli Kediri.
Baca Juga : Memprihatinkan! Bangunan Kelas Nyaris Ambruk Bikin SDN di Jombang Hanya Dapat 2 Murid Baru
Situasi ini menciptakan bibit pemberontakan internal. Empat saudara kandung itu kemudian mengambil keputusan drastis: membelot dari Kediri dan mengabdi kepada Panembahan Senapati di Mataram. Inilah titik balik yang menentukan arah sejarah politik Jawa pada akhir abad ke-16.
Mataram dalam Bayang-Bayang Kemunduran
Meskipun Mataram berhasil merebut Madiun pada 1590, kejayaan itu tidak bertahan lama. Hegemoni Mataram melemah. Secara politik, Mataram kehilangan pijakan dengan Pati setelah Panembahan Senapati menikah dengan Retno Dumilah dari Madiun. Kekosongan aliansi ini menempatkan Mataram dalam posisi defensif, bahkan di mata para elite wilayah wetan (timur).
Namun, pembelotan empat bersaudara dari Kediri mengubah peta permainan. Mereka tidak hanya membawa loyalitas, tetapi juga pengetahuan wilayah, pasukan, dan legitimasi lokal. Panembahan Senapati menyambut pembelotan ini dengan gembira. Ia mengutus Pangeran Wiramenggala untuk menyambut mereka. Dalam pertemuan itu, Senapati Kediri menyampaikan tekadnya untuk mengalahkan Ratu Jalu.
Perebutan Kediri: Pertempuran di Krakal
Pasukan Mataram yang berkemah di Pakuncen mendapat kabar bahwa Ratu Jalu telah bersiap mempertahankan tahta. Namun, sekitar 200 pembelot Kediri telah meninggalkan kota secara diam-diam dan bergabung dengan pasukan Mataram. Ratu Jalu yang geram mengejar mereka ke Krakal.
Pertempuran sengit pun terjadi. Pasukan Mataram mendukung para pembelot, dan meskipun Ratu Jalu sempat melarikan diri ke dalam benteng dan menutup pintu gerbangnya, peristiwa ini menandai kejatuhan pengaruh Surabaya di Kediri. Kemenangan di Krakal menjadi awal dari integrasi Kediri ke dalam hegemoni Mataram.
Senapati Kediri yang terluka dibawa kembali ke Mataram. Ia disambut sebagai pahlawan. Panembahan Senapati mengangkatnya sebagai anak dan menganugerahkan tanah sebanyak 1.500 petak. Saudara-saudaranya juga menerima jabatan dan hadiah. Di tengah suasana damai pasca-pertempuran, Mataram mengonsolidasikan wilayah barunya.
Arsitek Kekuasaan: Membangun Kuta Bacingah
Kemenangan di medan perang tidak membuat Senapati Kediri berhenti berkontribusi. Ia menjadi salah satu arsitek penting dalam pembangunan tembok pertahanan Mataram, Kuta Bacingah, yang kemudian dikenal sebagai Kuta Gede. Tembok ini dibangun tanpa lubang-lubang senjata—sebuah simbol kepercayaan diri dan keyakinan akan superioritas militer.
Senapati Kediri mengawasi langsung proyek ini. Menurut Babad Tanah Djawi, ia menggunakan batu bata putih dan merah, dan menyelesaikan pembangunan pada 1587. Tiga tahun masa damai setelah pembelotan Kediri digunakan dengan optimal untuk memperkuat pusat kekuasaan baru. Kota ini kemudian menjadi simbol kekuatan dan identitas arsitektural Mataram.
Balas Dendam Ratu Jalu: Koalisi Timur Menyerang
Namun kemenangan itu belum final. Dua hingga empat tahun setelah peristiwa Krakal (1593 atau 1595), kekuatan Jawa Timur bangkit. Adipati Gending dari utara Lawu dan Adipati Pesagi dari selatan memimpin pemberontakan besar terhadap Mataram. Kedua tokoh ini diduga memiliki hubungan erat dengan faksi Ratu Jalu yang belum tersingkir sepenuhnya.
Pasukan Mataram kembali siaga. Panembahan Senapati membagi pasukan: Pangeran Purbaya memimpin dari utara, sementara Senapati Kediri memimpin dari selatan. Di Uter—kemungkinan di dekat Madiun atau Wonogiri—dua kekuatan besar bertemu. Pasukan dari Jawa Timur berjumlah sekitar 50.000 prajurit, sementara Mataram hanya mengerahkan sekitar 20.000 orang.
Dalam pertempuran di Jatisari, Senapati Kediri berhadapan langsung dengan pamannya sendiri, Adipati Pesagi. Pertempuran ini menjadi ajang perang tanding yang legendaris. Keduanya gugur di medan laga. Jenazah Senapati Kediri dibawa kembali ke Mataram dan dimakamkan dengan kehormatan tinggi di Wedi, dekat makam Sunan Bayat.
Kematian Senapati Kediri menandai titik krusial dalam sejarah militer Mataram. Ia tidak hanya gugur sebagai panglima, tetapi juga sebagai simbol peralihan kekuasaan dari tatanan lama Kediri menuju konstruksi baru kekuasaan Islam-Jawa di tangan Mataram.
Warisan dan Makna Historis
Pembelotan Senapati Kediri dan peran aktifnya dalam menumbangkan Ratu Jalu bukanlah sekadar tindakan oportunistik. Ia memanifestasikan pergolakan sosial-politik Jawa pasca-Demak: runtuhnya otoritas lama dan lahirnya negara baru berbasis Islam, spiritualitas kejawen, serta militerisme terpusat.
Dari sudut pandang historiografi kritis, tindakan Senapati Kediri merefleksikan dinamika kekuasaan lokal yang membentuk wajah awal negara Mataram. Ia bukan sekadar pion Panembahan Senopati, melainkan aktor otonom yang memilih bergabung dengan kekuatan yang lebih menjanjikan.
Ideologi dendam, loyalitas kekerabatan, serta keinginan membalas pengangkatan sepihak Ratu Jalu menjadi motif utama pembelotannya. Dalam proses ini, Senapati Kediri telah mengorbankan Kediri sebagai entitas otonom demi mengamankan posisi dalam kekuasaan baru.
Secara spiritual, proyek pembangunan kota Mataram dan Kuta Bacingah bukan hanya simbol kekuatan militer tetapi juga upaya sakral untuk mewujudkan konsep "Nagari" sebagai perwujudan dunia mikrokosmos dari tatanan kosmos. Senapati Kediri, sebagai tukang bangun kota dan panglima perang, berada pada posisi strategis dalam mitos penciptaan negara.
Baca Juga : Kantongi Perunggu, Wali Kota Malang Apresiasi Perjuangan Tim Voli Putri
Senapati Kediri bukan sekadar pelaku militer dalam kronik Mataram. Ia adalah cermin dari pergulatan elite lokal di masa transisi Jawa. Ia menantang takdir, menggulingkan pemimpin yang dinilai tidak sah, dan menyerahkan wilayahnya kepada kekuatan baru demi stabilitas dan kepentingan politik yang lebih besar.
Perjalanan hidupnya—dari pengkhianat bagi Kediri, pejuang bagi Mataram, hingga arsitek kota dan syuhada medan laga—membentuk satu narasi penting dalam sejarah Indonesia: bahwa lahirnya negara tidak hanya ditentukan oleh ide besar, tetapi juga oleh darah, ambisi, dan pertarungan antar saudara.
Warisan Senapati Kediri tetap hidup di balik tembok-tembok tua Kotagede dan dalam memori sejarah Jawa, sebagai tokoh yang melampaui kategorisasi pahlawan atau pengkhianat. Ia adalah gambaran otentik tentang bagaimana sejarah dibentuk oleh mereka yang berani memilih sisi, bahkan jika itu berarti melawan takdir.
Jejak Ratu Jalu di Tanah Kediri: Silsilah Dinasti Demak dan Warisan Spiritualitas di Mataraman
Langit mendung menyelimuti kompleks pemakaman Setono Gedong di Kota Kediri. Di tengah lalu lintas padat Jalan Raya Dhoho, suasana sunyi menyeruak dari pusara tua yang dikeramatkan masyarakat sekitar. Inilah makam Panembahan Wirasmoro, sosok yang merupakan salah satu keturunan langsung dari Sunan Prawoto, raja ketiga Kesultanan Demak. Tak jauh dari pusara itu, bersemayam pula Raden Djalu atau Ratu Jalu, Adipati Kediri pertama pasca-Demak, yang dalam sejarah lokal Kediri dikenal sebagai Sunan Demang. Dari kompleks inilah, silsilah panjang kekuasaan, spiritualitas, dan perlawanan Jawa Mataraman bermula.
Kesultanan Demak, yang berdiri sejak akhir abad ke-15, adalah kerajaan Islam pertama di Jawa. Didirikan oleh Raden Patah (1451–1518), Demak menjadi simbol peralihan kekuasaan dari Majapahit ke elite Muslim Jawa pesisir. Dinasti ini dilanjutkan oleh Sultan Trenggana (berkuasa 1521–1546), seorang penguasa ekspansionis yang menaklukkan sebagian besar wilayah Jawa Timur. Di bawah Trenggana, kekuasaan Islam menyebar hingga Mataram dan Pasuruan.
Namun, setelah kematian Trenggana dalam ekspedisi ke Panarukan, perebutan kekuasaan melanda Demak. Sultan Mu’min atau Sunan Prawoto menggantikan ayahandanya, tetapi kepemimpinannya tak bertahan lama. Ia dibunuh pada 1549 dalam perseteruan internal melawan Arya Penangsang dari Jipang. Tragedi politik ini menjadi titik balik runtuhnya Dinasti Demak sebagai kekuatan utama di Jawa. Pusat kekuasaan Islam mulai bergeser ke wilayah pedalaman, dan Kediri menjadi salah satu lokus pentingnya.
Panembahan Wirasmoro, putra Sunan Prawoto, memilih keluar dari lingkaran konflik Demak dan menetap di Kediri. Dalam manuskrip lokal, ia disebut sebagai seorang bangsawan buangan yang mendirikan basis spiritual baru di jantung tanah Mataraman. Di sinilah ia wafat dan dimakamkan di Setono Gedong. Putranya, Raden Djalu atau Ratu Jalu, meneruskan garis trah itu dan dilantik sebagai Adipati Kediri oleh Pangeran Surabaya pada tahun 1586.
Ratu Jalu bukan sekadar adipati administratif. Ia adalah simbol kontinuitas dinasti Demak yang hidup di luar lingkar kekuasaan pusat. Sebagai pemimpin spiritual dan politik, ia membangun basis kekuasaan baru berbasis pesantren, ketokohan ulama, dan pemaknaan kembali darah Demak sebagai warisan sakral. Kediri di bawahnya tumbuh menjadi pusat keulamaan dan spiritualitas yang memadukan politik Islam dan tradisi lokal Jawa.
Putranya, Pangeran Demang II, dimakamkan di Badal Nambangan, Ngadiluwih. Dari sini, silsilah Ratu Jalu menyebar ke berbagai penjuru Jawa Timur. Keturunannya dikenal dengan gelar Kyai Ageng, yang memegang peranan penting dalam penyebaran Islam dan pendidikan pesantren. Di antara tokoh sentral adalah Kyai Ageng Abdul Mursyad, yang dikenal juga sebagai Syekh Abdul Mursyad dari Kediri. Ia adalah cucu dari Pangeran Jalu dan menjadi figur transformatif dalam sejarah spiritual Jawa.
Syekh Mursyad menjadi titik penting dalam perluasan jaringan kekuasaan spiritual Demak-Kediri ke wilayah Mataraman dan pesisir utara. Dari keturunannya lahir Ki Ageng Anom Besari, seorang ulama besar yang menetap di Caruban, Madiun. Ia menikah dengan Nyai Anom Caruban dan menurunkan tiga tokoh penting: Kiai Ketib Anom, Kiai Mohammad Besari, dan Kiai Nur Sadiq.
Salah satu cucunya, Kiai Muhammad Hasan Besari, mendirikan Pesantren Tegalsari di Ponorogo, yang kemudian menjadi pusat intelektual santri pada abad ke-18. Tegalsari adalah titik temu antara warisan Demak, tradisi pesantren, dan perlawanan budaya terhadap kolonialisme. Bahkan, dari garis ini pula lahir Kiai Zainal Abidin, yang kemudian diangkat sebagai raja di Selangor, Malaysia. Ini menunjukkan bahwa silsilah Ratu Jalu tak berhenti pada batas administratif Jawa, tetapi menjalar ke dunia Melayu sebagai ekspansi soft power warisan Jawa-Islam.
Warisan Ratu Jalu tak hanya berbentuk nama dan jabatan. Ia menyimpan memori sejarah yang berlapis: dari pengkhianatan di Demak, keterasingan di Kediri, hingga kebangkitan melalui pesantren. Para keturunannya—seperti Kyai Ageng Djabar Tjorekan, Kyai Tambak Agung, dan Kyai Abd. Salim di Pasuruan—menjadi simbol perlawanan ideologis terhadap dominasi kolonial Belanda.
Dalam sebuah catatan lokal disebutkan bahwa Kyai Abd. Djabar Tjorekan “dipun labuh dening Gouvernement Walandi,” atau dibuang oleh pemerintah kolonial Belanda melalui pelabuhan Kediri. Ia kemudian menetap di Dukuh Ngelam dan dikenal sebagai Kyai Ageng Ngelam Suroboyo. Dari tempat inilah lahir dua tokoh spiritual penting: Kyai Supanjeng dan Kyai Bagong, yang kelak berkiprah di Surabaya.
Melalui garis perempuan, keturunan Ratu Jalu juga menempati posisi penting dalam struktur keagamaan dan pemerintahan kolonial. Beberapa tokoh seperti R. Ng. Burnadi menjabat sebagai juru serat di Masjid Agung Kediri, sementara R. Ng. Bukori dikenal sebagai Kyai Bendungan Brebeg. Kehadiran mereka menegaskan bahwa trah Demak–Kediri tetap berperan dalam struktur kekuasaan lokal, meski dalam bentuk simbolik dan kultural.
Setono Gedong bukan sekadar kompleks pemakaman tua. Ia adalah naskah terbuka tentang transisi kekuasaan, ideologi, dan spiritualitas Jawa pasca-Demak. Di balik pusara Panembahan Wirasmoro dan Ratu Jalu tersimpan kisah panjang tentang bagaimana darah biru Demak tak pernah benar-benar padam, tetapi menyala dalam bentuk pesantren, ulama, dan perlawanan spiritual terhadap kolonialisme.
Silsilah Ratu Jalu adalah bukti bahwa sejarah tidak hanya bergerak lewat perang dan penaklukan, tetapi juga melalui pendidikan, doa, dan ketekunan menjaga nilai. Dari Kediri ke Ponorogo, dari pesantren ke istana Melayu, warisan ini terus hidup—dalam ingatan, dalam nama, dan dalam tanah.
