Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Hiburan, Seni dan Budaya

Patapan: Hadiah Raja Majapahit untuk Maulana Malik Ibrahim

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

07 - Jun - 2025, 15:38

Placeholder
Lukisan realis Maulana Malik Ibrahim, dikenal sebagai Sunan Gresik, pelopor dakwah Islam di tanah Jawa. (Foto: JatimTIMES)

JATIMTIMES - Dalam arus deras sejarah Nusantara, terdapat sebuah bab yang nyaris terlupakan namun menyimpan jejak-jejak penting dari peralihan kekuasaan dan transformasi spiritualitas masyarakat Jawa. 

Bab itu bernama "Patapan", sebidang tanah kecil di pinggiran kota Gresik yang menjadi penanda awal mula transformasi spiritual dari Majapahit Hindu-Buddha menuju peradaban Islam Jawa. Pemberian tanah ini bukan sembarang pemberian; ia merupakan hadiah resmi dari seorang raja besar Majapahit, Sri Maharaja Wikramawarddhana, kepada seorang ulama agung dari Timur: Maulana Malik Ibrahim.

Baca Juga : Berbagai Jenis Hewan yang Dijadikan Kurban di Seluruh Dunia, Tak Hanya Sapi

Ketika Sri Rajasanagara Hayam Wuruk wafat dan digantikan oleh menantunya, Nararya Ranamanggala, yang naik tahta dengan gelar Sri Maharaja Wikramawarddhana Bhatara Hyang Wisesa, terjadi sejumlah transformasi struktural yang sangat menentukan arah masa depan Majapahit. 

Pertama, terjadi perang saudara besar yang dikenal sebagai Perang Paregreg antara Wikramawarddhana dan Bhre Wirabhumi, penguasa Blambangan, yang tidak lain adalah adik iparnya sendiri. Kedua, dalam ketegangan dan kekacauan tersebut, Raja Wikramawarddhana mengeluarkan sebuah prasasti monumental, Prasasti Patapan, yang memuat titah kerajaan tentang penetapan hak ulama janggan (pandhita desa) atas tanah perdikan di desa Patapan, Gresik. Ketiga, lahirnya karya sastra metrum Majapahit Timur seperti Kidung Sudamala, yang mencerminkan geliat spiritual baru dan memunculkan tokoh-tokoh seperti Semar sebagai simbol kritik atas kemerosotan nilai-nilai lama.

Siapakah sang janggan, tokoh utama dalam prasasti Patapan tersebut? Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1371 M, dua ulama besar datang ke tanah Jawa: Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Mahpur. Mereka datang bersama Sayyid Yusuf Mahrabi dan rombongan 40 orang, melalui jalur laut, berlabuh di pelabuhan tua Gerwarasi, Gresik. 

Menurut sumber dari Babad ing Gresik, mereka merupakan bagian dari keluarga istana Gedah (Kedah) di wilayah Melayu. Maulana Malik Ibrahim segera menetap di Leran, dekat makam Fatimah binti Maimun, dan mulai berdakwah dengan mendirikan masjid serta pasar di Rumo, memperkenalkan Islam sebagai etika sosial dan spiritual.

Dalam perjalanan dakwahnya, Maulana Malik Ibrahim tidak hanya mendekati masyarakat akar rumput, tetapi juga menjalin komunikasi strategis dengan kekuasaan. Ia datang menghadap Raja Majapahit. Meski raja tidak memeluk Islam, ia menyambut baik kedatangan ulama tersebut dan memberinya sebidang tanah di perbatasan kota, yang kelak menjadi desa Gapura. Di tempat itulah Maulana Malik Ibrahim mendirikan pesantren, menyemaikan kader-kader ulama dan pemimpin masyarakat Islam masa depan.

Prasasti Patapan, yang ditulis pada tahun Saka 1307 (1385 M), merupakan dokumen sah dari kerajaan Majapahit yang menguatkan legalitas tanah perdikan bagi ulama Islam di Patapan. Dalam naskah tersebut, disebutkan bahwa tanah beserta sawah dan kebun diwariskan kepada keturunan sang janggan. Ini merupakan pengakuan resmi dan bentuk proteksi negara terhadap lembaga pendidikan Islam di tengah kerajaan Hindu-Buddha. Titah itu bukan sekadar perlindungan administratif, tetapi penanda perubahan arah kebudayaan Jawa.

Asal-usul pengaruh Islam di wilayah ini juga tak lepas dari kiprah para bangsawan muslim dari Lumajang. Dimulai dari Arya Wiraraja, penguasa Lumajang yang telah membela Raden Wijaya pada masa-masa awal berdirinya Majapahit. Setelah wafatnya Arya Wiraraja, tahta Lumajang jatuh ke tangan putranya Arya Menak Koncar, bergelar Sri Nararya Wangbang Menak Koncar. Ia dan keturunannya, seperti Arya Wangbang Pinatih, Arya Menak Sumendi, hingga keturunan perempuan kaya Gresik, Nyai Ageng Pinatih, semuanya memiliki jejak kuat dalam proses Islamisasi Jawa Timur.

Nyai Ageng Pinatih, seorang saudagar perempuan muslim yang sangat berpengaruh di Gresik, bahkan menjadi ibu angkat Sunan Giri, Raden Paku. Ia dipercaya merupakan keturunan langsung dari Arya Wangbang Pinatih dan Arya Wangbang Menak Koncar. Saudara dari Pinatih, yaitu Pangeran Arya Pinatih, dikenal dengan nama Syaikh Manganti, merupakan ulama besar yang juga memiliki koneksi dengan istana Majapahit.

Kedudukan keluarga Pinatih tidak lepas dari kebijakan Majapahit yang mulai akomodatif terhadap dakwah Islam. Hal ini terbukti dari perubahan status raja menjadi adipati setelah wilayah Lamajang Tigang Juru dimasukkan ke dalam administrasi Wilwatikta oleh Sri Wikramawarddhana. Sejak saat itu, Arya Menak Sumendi yang menjadi Adipati Lumajang tetap menjalankan loyalitas politik kepada Majapahit, namun membuka ruang besar bagi dakwah Islam.

Di tengah kemerosotan spiritual kerajaan akibat Perang Paregreg, kemunculan tokoh-tokoh Islam seperti Maulana Malik Ibrahim menjadi oase baru. Ia membangun bukan hanya institusi pendidikan, tetapi sistem nilai baru yang mengakar pada tauhid, egalitarianisme, dan kesetaraan sosial. Gapura Gresik menjadi pusat baru peradaban Islam—sebuah titik balik dari kejayaan masa lalu menuju arah masa depan yang baru.

Tidaklah berlebihan jika menyebut prasasti Patapan sebagai tonggak awal integrasi Islam ke dalam struktur sosial politik Jawa. Dengan dilindunginya tanah wakaf ulama, dengan restu dan prasasti dari raja, Islam tidak lagi dipandang sebagai ancaman, tetapi sebagai bagian dari solusi atas krisis spiritual dan sosial Majapahit.

Pemberian ini, jika dipahami lebih dalam, adalah bentuk pengakuan: bahwa di tengah kemunduran feodalisme lama, Islam membawa semangat pembaruan. Dari sinilah muncul generasi baru, seperti Raden Paku (Sunan Giri), Raden Patah (Demak), dan lainnya, yang merupakan manifestasi nyata dari kerja-kerja dakwah para pendahulu seperti Maulana Malik Ibrahim.

Prasasti Patapan adalah dokumen penting, karena dari sinilah legitimasi sejarah pesantren dimulai. Tanah wakaf, ulama, murid, dan sistem pendidikan menjadi fondasi baru yang kemudian mewarnai perjalanan sejarah Jawa. Patapan bukan sekadar desa kecil, tetapi simbol kemenangan spiritual dan kemenangan diplomasi para ulama di hadapan raja.

Warisan ini terus berlanjut. Putra-putra keturunan Majapahit yang memeluk Islam, seperti Arya Damar (Adipati Palembang), Bathara Katong (Panaraga), hingga Raden Patah (Demak), menunjukkan bahwa kesinambungan sejarah antara Majapahit dan Islam adalah kesinambungan yang hidup dan penuh dinamika. Di tangan mereka, ajaran Islam diterjemahkan dalam bentuk negara, madrasah, dan pesantren.

Dalam perspektif historiografi, kita harus membaca Patapan sebagai bukti awal konsolidasi sosial Islam di Jawa. Sebuah rekonsiliasi halus antara kekuatan politik Hindu-Buddha yang mulai meredup dan semangat baru Islam yang menjanjikan regenerasi spiritual. Dalam sejarah panjang Nusantara, Prasasti Patapan adalah mozaik penting dari transformasi besar itu. Dan Maulana Malik Ibrahim adalah pelaku sejarah yang peran dan pengaruhnya tak tergantikan.

Dengan demikian, hadiah dari raja Majapahit bukan hanya sebidang tanah. Ia adalah pengakuan atas arah baru peradaban. Ia adalah batu pertama dalam fondasi yang kelak menjulang sebagai menara cahaya Islam Nusantara. Dari Patapan, Gresik, cahaya itu menyebar ke seluruh penjuru Jawa.

Dari Kashan ke Gresik: Jejak Dakwah Sang Wali Pertama di Jawa

Dalam catatan sejarah Islamisasi Nusantara, nama Syekh Maulana Malik Ibrahim muncul sebagai figur pionir dalam menyemai benih Islam di tanah Jawa. Ia bukan sekadar pendakwah asing yang menumpang pelayaran dagang dari Persia ke Nusantara, melainkan arsitek awal dari proses transformasi spiritual dan sosial di bawah bayang-bayang keruntuhan Majapahit. Kisah hidupnya yang terekam dalam batu nisan bertanggal 12 Rabiul Awwal 822 H / 8 April 1419 M menjadi bukti dokumenter awal pertemuan Islam dengan masyarakat Jawa dalam bentuk yang terorganisasi, terpelajar, dan berakar pada tradisi keulamaan yang panjang dari dunia Islam klasik.

Baca Juga : Kang, Mak, dan Haul: Warisan Budaya Champa yang Dibawa Sunan Ampel

Sumber primer sejarah berupa inskripsi pada makamnya yang berlokasi di Kampung Gapura, Gresik, menyebutkan secara eksplisit bahwa Syekh Maulana Malik Ibrahim berasal dari Kashan, sebuah kota di wilayah Persia (kini Iran), yang dikenal sejak lama sebagai pusat keilmuan dan tasawuf. Pembacaan epigrafis oleh orientalis asal Prancis J.P. Moquette mengungkap dengan jelas asal-usul geografis sang wali: bi-Kashan. Maka, teori yang mengaitkan beliau dengan Maroko (disebut sebagai “Syekh Maghribi”) atau bahkan Samarkand—seperti yang termuat dalam Babad Tanah Jawi dan diturunkan secara turun-temurun dalam tradisi lisan—harus diletakkan dalam kerangka tafsir kultural, bukan sejarah dokumen.

Dalam penulisan yang lebih belakangan, muncul pula silsilah yang mengaitkan Syaikh Maulana Malik Ibrahim dengan garis keturunan Ahlul Bait, yakni Alawiyyin, dari jalur Sayyidina Husain bin Ali, cucu Rasulullah SAW. Rangkaian nasab yang diajukan mencakup nama-nama besar dalam sejarah Islam seperti Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja'far ash-Shadiq, hingga Ahmad al-Muhajir dan Alwi Ammi al-Faqih, sebelum sampai pada sosok Maulana Malik Ibrahim. Kendati silsilah ini masih menjadi perdebatan di kalangan akademisi, ia menunjukkan satu hal penting: bagaimana masyarakat Jawa sejak awal menempatkan figur sang wali dalam posisi spiritual yang agung dan penuh legitimasi keagamaan.

Terjemahan inskripsi makam oleh J.P. Moquette mencerminkan posisi istimewa sang wali dalam masyarakat Gresik pada masa itu. Ia digambarkan sebagai mafkharul-umara, yakni kebanggaan para pangeran; ‘umdatus-salāthin wal-wuzarā’, penopang bagi para raja dan menteri; ghaisul-masākīn wal-fuqarā’, penolong kaum miskin dan papa; serta as-sa’īd asy-syahīd, seorang syahid yang berbahagia.

Kata-kata ini bukan hanya penghormatan post-mortem, melainkan pengakuan akan kontribusi nyata Maulana Malik Ibrahim dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa kala itu—sebagai guru, penasihat politik, dermawan, dan pejuang spiritual.

Menurut G.W.J. Drewes dalam tulisannya New Light on the Coming of Islam to Indonesia, Maulana Malik Ibrahim adalah tokoh sentral dalam fase pertama Islamisasi Jawa. Beliau datang sebagai bagian dari misi dagang dan dakwah bersama rombongan dari Arab yang dipimpin oleh Maule Mahpur dan Sayyid Yusuf Mahrabi, mendarat di wilayah yang dikenal sebagai Gerwarasi atau Gresik sekitar tahun 1371 M, pada masa pemerintahan Raja Brawijaya dari Majapahit.

Sumber lokal menyebut bahwa setelah mendarat, ia pertama kali menetap di desa Sembalo, dekat Leran, kawasan Manyar di utara Gresik, yang saat itu sudah memiliki komunitas Muslim awal yang ditandai dengan kehadiran makam Fatimah binti Maimun (w. 1082 M), bukti paling awal eksistensi Islam di tanah Jawa. Di desa Pasucinan, ia membangun masjid pertama, menjadi tempat dakwah dan interaksi sosial keislaman.

Aktivitas ekonominya sebagai pedagang di pelabuhan Desa Rumo memberinya akses sosial yang luas, sementara kemampuannya dalam pengobatan dan spiritualitas menjadikan ia tokoh panutan. Dari sini, metode dakwahnya sangat kontekstual: pendekatan sosial, pendidikan, perdagangan, dan pengobatan berjalan seiring.

Setelah dirasa cukup menanam benih Islam di Sembalo, ia pindah ke kota Gresik, menetap di Desa Sawo, sebelum akhirnya mendapatkan anugerah tanah dari Raja Majapahit di kawasan Gapura. Di sinilah ia membangun pesantren—model pendidikan Islam yang kemudian diteruskan oleh para wali dan menjadi sistem utama dalam dakwah Islam tradisional di Nusantara.

Kehadiran pesantren Gapura di tengah menurunnya kekuatan Majapahit yang diguncang oleh perang saudara dan krisis politik internal menjadikan Maulana Malik Ibrahim sebagai figur alternatif pemimpin spiritual dan sosial yang menjanjikan harapan baru bagi masyarakat.

Salah satu julukan lokalnya yang bertahan hingga kini adalah "Kakek Bantal", yang kemungkinan mengacu pada benda-benda pusaka atau simbolik yang dikaitkan dengan keberkahan. Makamnya menjadi situs ziarah yang tidak pernah sepi, menjelma sebagai pusat spiritualitas Jawa-Islam. Bukan hanya masyarakat awam, tetapi juga kalangan elite—baik politik maupun agama—berziarah ke sana, menyiratkan legitimasi yang tidak luntur oleh zaman.

Pengaruhnya tidak berhenti di Gresik. Melalui murid-muridnya dan jaringan keulamaan yang kemudian dikenal sebagai Wali Songo, pengaruh pemikiran dan metode dakwahnya menyebar ke seluruh penjuru Jawa. Dalam historiografi Islam Jawa, ia sering disebut sebagai Wali Pertama, yang membuka jalan bagi dakwah yang lebih terstruktur dan lokal dalam dekade-dekade berikutnya.

Sebagian besar kerancuan identitas Maulana Malik Ibrahim—antara yang menyebutnya sebagai Syaikh Maghribi, Samarkandi, atau keturunan Raja Chermen—lebih mencerminkan dinamika konstruksi sejarah dalam masyarakat tradisional Jawa yang sangat menghargai asal-usul dan legitimasi spiritual. Namun, dengan hadirnya bukti epigrafis dan kajian-kajian modern seperti yang dilakukan oleh Moquette dan Drewes, kini identitasnya sebagai tokoh dari Kashan, Persia, dapat dikatakan memiliki dasar paling kuat.

Meski demikian, dalam narasi-narasi lokal seperti Babad Gresik, penggabungan antara unsur historis dan mitologis tetap lestari. Dalam konteks ini, sejarah Maulana Malik Ibrahim menjadi medan pertemuan antara sejarah dokumenter dan memori kolektif, dua entitas yang sering bersinggungan dalam historiografi Islam Nusantara.

Hampir enam abad setelah wafatnya, Syekh Maulana Malik Ibrahim tetap berdiri sebagai simbol awal Islamisasi yang elegan dan damai di Jawa. Melalui warisan pendidikan, etika sosial, dan tradisi dakwah yang merakyat, ia bukan hanya pelopor, tetapi juga pemangku nilai-nilai peradaban Islam yang menyatu dengan kearifan lokal.

Jejaknya dari Kashan ke Gresik bukan sekadar perjalanan geografis, melainkan lintasan peradaban—dari pusat ilmu ke tengah masyarakat agraris, dari jaringan ulama ke relung budaya lokal. Dan dalam setiap desir angin di pelabuhan Gresik, seakan gema langkah kaki sang wali masih terdengar, mengajarkan bahwa dakwah sejati tumbuh dari kasih sayang, keilmuan, dan keteladanan.


Topik

Hiburan, Seni dan Budaya Sejarah Sejarah Nusantara prasarana majapahit raja majapahit



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Sri Kurnia Mahiruni