Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Ruang Sastra

Lumajang dan Awal Islamisasi Jawa:  Arya Pinatih, Sunan Giri, dan Arya Tepasana

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Nurlayla Ratri

06 - Jun - 2025, 08:56

Placeholder
Situs Biting, Lumajang – Reruntuhan bata merah ini diyakini sebagai bekas benteng ibu kota Kerajaan Lamajang Tigang Njuru. Lamajang digadang sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa sebelum era Demak. (Foto: Aunur Rofiq/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Dalam arus besar sejarah Jawa, narasi tentang Islamisasi kerap menempatkan pusat-pusat kekuasaan besar seperti Demak, Cirebon, dan Giri sebagai poros utama. Namun, di balik pusat-pusat kekuatan itu, berdiri wilayah-wilayah pinggiran yang menjadi sumbu mula pertemuan antara politik lokal dan gelombang Islamisasi. Salah satu daerah yang memegang peranan penting namun kerap terlupakan adalah Lumajang. Di sinilah benih-benih Islam tumbuh, berbaur dengan dinamika istana, konflik pewarisan tahta, dan diplomasi antar kerajaan.

Jejak ini bermula dari sosok Arya Wiraraja, raja pertama Lumajang Tigang Juru setelah runtuhnya Kerajaan Singhasari dan awal berdirinya Majapahit. Setelah Arya Wiraraja wafat, tampuk kekuasaan berpindah kepada putranya, Arya Menak Koncar, yang bergelar Sri Nararya Wangbang Menak Koncar. Ia merupakan tokoh penting dalam garis genealogis raja-raja Lumajang dan dikenal sebagai pemimpin yang mulai membuka jalur pergaulan politik dan spiritual Lumajang dengan jaringan Islam yang lebih luas. Makamnya yang berada di Situs Biting, Lumajang—bersebelahan dengan makam ayahandanya—menjadi penanda penting dalam sejarah lokal, sarat makna transisi budaya dan kekuasaan.

Baca Juga : Rekomendasi Hidangan Olahan Daging Kurban, Lengkap dengan Resep dan Cara Membuatnya 

Setelah Arya Menak Koncar, kekuasaan berlanjut kepada Arya Wangbang Pinatih, yang dikenal sebagai seorang muslim. Inilah fase penting dalam narasi Islamisasi Lumajang, ketika dinasti lokal tidak hanya bersinggungan dengan kekuasaan Majapahit, tetapi juga dengan jaringan penyebaran Islam. Arya Wangbang Pinatih kemudian digantikan oleh penerusnya, Arya Wangbang Pinatih II. Di era inilah, tokoh-tokoh seperti Arya Damar dan Arya Pinatih turut serta dalam ekspedisi militer ke Bali yang dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada—sebuah fakta yang mencerminkan hubungan erat antara politik ekspansi Majapahit dan peran para bangsawan muslim dari daerah Lumajang.

Kisah keluarga Arya Wangbang Pinatih berlanjut di wilayah Gresik melalui salah satu keturunannya, yakni Nyai Ageng Pinatih atau Nyai Ageng Gresik, seorang saudagar perempuan kaya raya yang juga menjadi ibu angkat Raden Paku—kelak dikenal sebagai Sunan Giri.Nyai Ageng Pinatih bukan hanya simbol dari peran perempuan dalam jaringan dakwah Islam awal di Jawa, tetapi juga representasi dari transformasi sosial di wilayah pesisir yang menjadi simpul lalu lintas perdagangan dan penyebaran agama.

Adik dari Nyai Ageng Pinatih, yang dikenal sebagai Pangeran Arya Pinatih atau Syekh Manganti, mencerminkan lebih jauh keterhubungan antara aristokrasi Lumajang dan Gresik dalam jaringan Islamisasi awal Jawa. Peran mereka bukan hanya sebagai aktor politik, tetapi juga sebagai figur religius yang ikut serta dalam membentuk wajah Islam Nusantara pada abad ke-14 hingga ke-15.

Transformasi politik Lumajang semakin kentara ketika Arya Wangbang Pinatih II mangkat dan digantikan oleh Arya Menak Sumendi. Pada masa pemerintahannya, Sri Prabu Wikramawarddhana—penguasa Majapahit dari Paguhan, Lumajang—mengintegrasikan Lamajang Tigang Juru ke dalam wilayah Wilwatikta. Ini menandai perubahan struktur kekuasaan di mana gelar "raja" diganti menjadi "adipati", menandakan subordinasi wilayah terhadap Majapahit. Maka, Arya Menak Sumendi menjadi Adipati Lumajang yang pertama dalam sistem pemerintahan baru.

Sepeninggal Arya Menak Sumendi, jabatan Adipati Lumajang diteruskan oleh putranya, Arya Tepasana. Kepemimpinan Arya Tepasana menandai babak baru yang sarat dinamika, karena dari garis keturunannya lahir tokoh-tokoh penting yang berperan dalam penyebaran Islam dan pembentukan kekuasaan Islam di berbagai wilayah Jawa.

Arya Tepasana dikaruniai enam anak—tiga laki-laki dan tiga perempuan—yang seluruhnya memainkan peran penting dalam lanskap politik dan keagamaan abad ke-15 dan ke-16. Putrinya yang bernama Nyimas Ayu Tepasari menikah dengan Sunan Gunungjati, salah satu dari Wali Songo yang kelak menjadi pendiri Kesultanan Cirebon. Dari pernikahan ini lahirlah Pangeran Ratu, leluhur para sultan Cirebon. Sementara itu, putri bungsunya, Nyimas Ayu Waruju, dinikahkan dengan Raden Mahmud Pangeran Sapanjang, putra dari Sunan Ampel. Dari mereka lahirlah Nyai Wilis, sosok penting yang kemudian menjadi istri Raden Kusen Adipati Terung, putra Arya Damar, penguasa Palembang.

Dari garis keturunan Nyai Wilis dan Raden Kusen ini kemudian lahir para bangsawan penting: Pangeran Arya Suradireja (Adipati Palembang), Pangeran Arya Terung (Adipati Sengguruh), Pangeran Arya Balitar (Adipati Blitar), serta Pangeran Singhasari. Keturunan-keturunan inilah yang menyebar ke berbagai wilayah di Jawa, membawa serta semangat pemerintahan Majapahit dan ajaran Islam yang baru berkembang.

Peran Arya Menak Sumendi dalam sejarah menjadi semakin penting jika dilihat dari posisi strategisnya sebagai penghubung antara kekuasaan lama dan struktur baru. Ia bukan hanya bagian dari jaringan elite Majapahit, melainkan juga leluhur dari tokoh-tokoh Islam terkemuka. Melalui garis keturunan dan aliansi pernikahan yang dijalin anak-cucunya, Menak Sumendi berkontribusi dalam membentuk jembatan budaya dan spiritual antara Hindu-Buddha Majapahit dan Islam Nusantara.

Nama Arya Menak Sumendi mungkin tak sering muncul dalam narasi besar sejarah Nusantara seperti Raden Patah atau Sunan Giri. Namun dalam sejumlah naskah kuno dan silsilah bangsawan Jawa, jejaknya tetap hidup sebagai figur transisi—seorang pemuka masa peralihan yang menjaga kesinambungan di tengah perubahan zaman. Ia adalah salah satu simpul dalam jaringan aristokrasi Majapahit yang ikut membidani lahirnya generasi baru penguasa Islam di Jawa.

Kisah keturunan Arya Menak Sumendi dan Arya Tepasana juga menjadi penanda kesinambungan kekuasaan yang panjang. Pangeran Arya Terung, yang semula menganut agama Hindu, akhirnya memeluk Islam dan menjadi tokoh penting dalam dakwah Islam di pedalaman Jawa. Sementara Pangeran Arya Balitar dan Pangeran Singhasari memimpin wilayah masing-masing dengan kekuatan yang tetap berakar pada legitimasi Majapahit, tetapi membuka diri terhadap perubahan zaman yang diwarnai ajaran Islam

Dari Lumajang ke Demak: Jaringan Darah dan Dakwah Menyatukan Jawa

Naiknya Nararya Ranamanggala sebagai Maharaja Majapahit dengan gelar Sri Maharaja Wikramawarddhana Bhatara Hyang Wisesa merupakan babak baru dalam konsolidasi Majapahit pasca-Hayam Wuruk. Namun, masa kekuasaannya juga ditandai oleh krisis internal berupa Perang Paregreg, pertikaian saudara antara dirinya dan Bhre Wirabhumi, penguasa Blambangan sekaligus iparnya. Bhre Wirabhumi, meskipun putra selir Sri Rajasanagara, adalah suami Bhre Lasem Sang Alemu, adik kandung Sri Wikramawarddhana.

Wikramawarddhana sendiri adalah putra Bhre Paguhan Singhawarddhana, cucu Bhatara Kertawarddhana, yang menikahi Rani Paguhan, seorang muslimah asal Lumajang. Ini memperlihatkan adanya integrasi antara keluarga istana Majapahit dan elite lokal muslim. Bahkan, kebijakan-kebijakan Sri Wikramawarddhana banyak yang mencerminkan kompromi dan pengakuan terhadap keberadaan komunitas Islam.

Salah satu bukti konkret adalah Prasasti Patapan yang dikeluarkan pada tahun 1307 Saka atau 1385 M. Prasasti ini menetapkan pemberian tanah kepada seorang "janggan" atau pandhita desa di Patapan, yang juga dikenal sebagai ulama Islam. Dokumen ini memuat pengakuan terhadap status kepemilikan tanah oleh ulama dan keberlanjutan hak tersebut secara turun-temurun. Prasasti Patapan menjadi penanda administratif dan spiritual bahwa Islam telah mendapat tempat dalam sistem pemerintahan Majapahit.

Kehadiran Maulana Malik Ibrahim ke Gresik sekitar tahun 1371 M memberikan dimensi baru dalam proses Islamisasi. Ia bersama Maulana Mahpur dan Sayyid Yusuf Mahrabi mendarat di Gresik, tepatnya di Gerwarasi. Aktivitas dakwahnya dimulai dari desa Sembalo dan kemudian meluas ke desa Sawo dan akhirnya Gapura. Di Gapura, ia mendirikan pesantren yang menjadi embrio pendidikan Islam di Jawa Timur. Beberapa sejarawan menduga bahwa tanah di Gapura tersebut adalah bagian dari anugerah yang diberikan oleh Sri Wikramawarddhana, sebagaimana tertuang dalam Prasasti Patapan.

Narasi Islamisasi Gresik dan sekitarnya ini juga berkait erat dengan dinamika budaya dan agama di pusat kekuasaan Majapahit. Pada masa itu, ajaran Syiwa-Buddha mengalami kemunduran yang ditandai dengan munculnya karya sastra rakyat seperti Kidung Sudamala. Tokoh Sembadra dalam kisah tersebut digambarkan berhasil menundukkan kekuatan Durga, simbol dari ajaran lama. Interpretasi ini banyak ditafsirkan sebagai simbol kemenangan nilai-nilai baru yang lebih membumi, termasuk ajaran Kapitayan dan Islam.

Anak-anak Sri Wikramawarddhana seperti Maharani Suhita dan Sri Kertawijaya menunjukkan afinitas terhadap kepercayaan yang berbeda dari pendahulunya. Hal ini terlihat dalam keunikan arsitektur candi yang mereka bangun seperti Candi Sukuh dan Candi Cetho, yang lebih bercorak kejawen daripada Hindu-Buddha ortodoks. Lebih menarik lagi, putra bungsu Sri Kertawijaya, yang menjadi raja Majapahit dari 1448 hingga 1451, diketahui memiliki dua istri muslimah dan menjadi leluhur dari raja-raja Islam di berbagai wilayah seperti Arya Damar Adipati Palembang, Bhattara Katong Adipati Ponorogo, Arya Lembu Peteng Adipati Madura, Ratu Retno Pembayun Pengging, dan tentu saja Raden Patah Adipati Demak.

Salah satu keturunannya adalah Raden Patah, Adipati Demak yang mendirikan Kesultanan Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa. Jejak Raden Patah yang bersambung ke Lumajang dan Gresik melalui garis ibunya dan jaringan wali seperti Sunan Giri dan Sunan Ampel, semakin memperkokoh asumsi bahwa daerah-daerah seperti Lumajang bukan hanya menjadi titik pinggir dalam peta sejarah Islamisasi, tetapi justru simpul awal yang menyiapkan fondasi sosial-politik keislaman di Jawa.

Baca Juga : Makan Daging Kurban Sendiri, Boleh atau Haram? Begini Penjelasannya

Dengan demikian, kajian historiografi tentang Lumajang dan Gresik menunjukkan bahwa proses Islamisasi Jawa bukanlah peristiwa tunggal yang linier, melainkan hasil dari jejaring kompleks antara aristokrasi lokal, misi dagang, dakwah ulama, dan adaptasi budaya yang melibatkan seluruh strata masyarakat. Jejak Arya Pinatih hingga Nyai Ageng Gresik adalah bukti nyata bagaimana elite lokal memainkan peran sentral dalam transformasi spiritual dan politik Jawa pra-Islam hingga Islam sepenuhnya menjadi bagian dari sistem kekuasaan di Nusantara.

Lamajang Tigang Njuru: Kerajaan Islam Pertama di Jawa dan Warisan Abadi Situs Biting

Di tengah lanskap spiritual dan sejarah Pulau Jawa, terdapat sebuah tempat yang tidak hanya menyimpan memori masa silam, tetapi juga menjadi pusat ziarah lintas keyakinan: Situs Biting. Terletak di Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang, situs purbakala ini diyakini sebagai bekas ibu kota Kerajaan Lamajang Tigang Njuru, sebuah entitas politik dan keagamaan penting pada akhir abad ke-13 hingga pertengahan abad ke-14, yang oleh banyak sejarawan lokal dan tradisi lisan disebut sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa.

Situs Biting, yang secara harfiah berarti “benteng” dalam bahasa Madura, bukan sekadar hamparan tanah kuno. Ia adalah tanah yang ditaburi makam para raja dan pembesar kerajaan Lamajang, terutama Arya Wiraraja, pendiri kerajaan tersebut. Kehadirannya sebagai pemimpin yang beragama Islam membedakan Lamajang dari kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di sekitarnya. Tradisi ziarah yang berlangsung di situs ini mencerminkan pluralitas spiritual: umat Islam dari kawasan Tapal Kuda berdatangan untuk berdoa, sementara penganut Hindu dari Bali melakukan ritual penghormatan. Harmoni inilah yang membuat Situs Biting bukan hanya tempat sejarah, tetapi juga cerminan kerukunan Nusantara.

Penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta (1982–1991) mengungkap bahwa Situs Biting merupakan struktur pertahanan monumental: tembok benteng selebar 6 meter, tinggi 10 meter, dan panjang sekitar 10 kilometer mengelilingi kawasan seluas ±135 hektar. Kompleks ini terbagi dalam enam blok: Blok Keraton, Jeding, Biting, Randu, Salak, dan Duren. Sebutan “Ketonon” dalam cerita rakyat lokal—yang berarti “terbakar”—mengingatkan kita pada peristiwa besar yang barangkali terjadi menjelang kehancuran pusat kerajaan ini. Meski sebagian kawasan rusak akibat pembangunan Perumnas pada tahun 1995, tapak-tapak monumental ini masih menyimpan jejak kehidupan metropolitan masa lalu.

Historiografi Nusantara mencatat peran sentral Arya Wiraraja dalam pembentukan Kerajaan Majapahit. Sebagai mantan Demung Kerajaan Singasari yang diasingkan ke Madura karena konflik ideologis dengan Raja Kertanegara (terutama menyangkut ekspansi ajaran Tantrayana), Arya Wiraraja justru memainkan peran kunci dalam pelarian dan kebangkitan Raden Wijaya. Peristiwa Perjanjian Sumenep tanggal 10 November 1293—setahun pasca pengusiran pasukan Mongol dari Jawa—menjadi dasar pembagian kekuasaan antara keduanya: Majapahit di barat, Lamajang Tigang Njuru di timur.

Arya Wiraraja tidak hanya mendukung berdirinya Majapahit, tetapi juga membangun basis kekuasaannya sendiri di wilayah Lumajang, Blambangan, Madura, dan Patukangan. Ini menandai kelahiran budaya Pendalungan, sintesis antara kultur Madura dan Jawa, yang hingga kini masih terasa di kawasan Tapal Kuda.

Arya Wiraraja, menurut beberapa tradisi dan naskah lokal seperti Tedhak Poesponegaran, adalah seorang muslim. Islam yang dianutnya bukanlah Islam yang ditampilkan secara ekspansif, melainkan hadir bersamaan dengan kebijaksanaan lokal dan toleransi tinggi terhadap pluralitas spiritual. Perlawanan ideologisnya terhadap Kertanegara memperlihatkan bahwa Islam sudah menjadi identitas spiritual Arya Wiraraja sebelum runtuhnya Singhasari.

Setelah wafatnya Arya Wiraraja, kekuasaan Lumajang dilanjutkan oleh Arya Menak Koncar, yang juga dimakamkan di Situs Biting. Tahta kemudian beralih ke Arya Wangbang Pinatih, yang menurut historiografi Islam di Gresik merupakan leluhur dari Nyai Ageng Pinatih, ibu angkat dari Sunan Giri. Di sinilah terlihat keterhubungan antara Islamisasi Jawa bagian timur dan pusat-pusat dakwah Islam di pesisir utara.

Putra Arya Wangbang Pinatih, Arya Damar dan Arya Pinatih, dikenal memimpin ekspedisi ke Bali, menunjukkan kekuatan militer dan pengaruh kerajaan Lamajang hingga luar Jawa. Setelah era ini, terjadi transformasi status kerajaan menjadi kadipaten di bawah Majapahit, khususnya sejak naiknya Sri Maharaja Wikramawarddhana (Nararya Ranamanggala). Penyatuan Lamajang Tigang Njuru ke dalam Wilwatikta secara administratif menandai akhir dari kedaulatan penuh kerajaan, namun bukan akhir dari pengaruh budayanya.

Prasasti Patapan yang dikeluarkan oleh Wikramawarddhana juga mengindikasikan bahwa ulama lokal (janggan) telah diakui secara resmi dalam sistem pemerintahan Majapahit. Istilah janggan, yang bisa merujuk pada ulama Kapitayan maupun Islam, menegaskan keterbukaan struktur kekuasaan Majapahit terhadap unsur-unsur keagamaan baru.

Situs Biting kini menjadi ruang spiritual lintas generasi, meskipun banyak bagian makam yang sudah tidak dikenali karena pengabaian. Nama Sayyid Abdurrahman Basyaiban, yang kini disematkan pada makam Arya Menak Koncar, menunjukkan adanya reformulasi identitas spiritual untuk melindungi warisan sejarah dari potensi fanatisme lokal. Meski demikian, nisan-nisan kuno yang tak bertuan tetap menjadi saksi akan lapisan-lapisan sejarah yang belum sepenuhnya tergali.

Sosok-sosok seperti Arya Wiraraja, Arya Menak Koncar, Arya Wangbang Pinatih, dan keturunannya tak hanya meninggalkan kerajaan, tetapi juga jejak Islamisasi awal yang senyap namun kokoh. Mereka menjembatani transformasi budaya Hindu-Buddha ke Islam, tanpa kekerasan, dengan merangkul nilai-nilai lokal.

Situs Biting bukan sekadar tapak sejarah. Ia adalah cermin bagaimana Islam, Hindu, dan kepercayaan lokal hidup berdampingan di masa lampau. Dalam setiap langkah ziarah, dalam setiap dupa yang dibakar, dalam setiap doa yang dibacakan, situs ini menghidupkan kembali ingatan kolektif akan sebuah kerajaan yang lahir dalam semangat kebijaksanaan, toleransi, dan integritas.

Lamajang Tigang Njuru bukan hanya kerajaan pertama bercorak Islam di Jawa, tetapi juga fondasi etika multikultural yang relevan hingga kini. Dalam heningnya Situs Biting, kita diajak untuk mendengarkan bisikan sejarah: bahwa kekuasaan sejati dibangun atas dasar kebijaksanaan, bukan ambisi semata; dan bahwa Islam Nusantara lahir dari kedalaman budaya, bukan penaklukan.


Topik

Ruang Sastra Lamajang Tigang Juru Lumajang islam di jawa



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Nurlayla Ratri