MALANGTIMES - Binatang dengan mata belok, telinga panjang dan wajah imut ini, kerap membuat manusia jatuh cinta. Dialah kelinci, binatang yang namanya dipakai Kabupaten Malang sebagai salah satu julukan yang melekat sejak tahun 2013, yaitu Kota Kelinci.
Dari kelinci yang menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat Kabupaten Malang inilah, julukan Kota Kelinci disematkan. Tercatat, dari data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Malang tahun 2017 lalu, ada sekitar 730 peternak yang menggantungkan hidupnya pada sang kelinci.
Baca Juga : Emposan Tikus Diyakini Efektif dan Direkomendasikan Menteri Pertanian Bisa Atasi Hama
Singosari, Lawang, Gondanglegi serta beberapa wilayah lain di Kabupaten Malang, tercatat sebagai sentra kelinci. Masyarakat beternak kelinci untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging hewani.
Seperti diketahui, masih dari data DPKH Kabupaten Malang kebutuhan pasar daging kelinci sangat terbuka. Setiap bulannya pasar membutuhkan 20 ton daging kelinci setiap bulannya. Harga daging kelinci pun menggiurkan, yaitu kisaran Rp 60 ribu per kilogram nya. "Sayangnya, kebutuhan pasar daging kelinci masih belum bisa dipenuhi peternak di sini. Karenanya kita terus tingkatkan bantuan kelinci kepada para peternak di berbagai wilayah," kata Nurcahyo Kepala DPKH Kabupaten Malang.
Bukan hanya dagingnya saja yang masih belum terpenuhi di pasaran. Kelinci yang memiliki keistimewaan lain di urine-nya, masih belum teroptimalkan. Urine kelinci ternyata memiliki kandungan sangat baik untuk keperluan pertanian. Dimana saat tanah pertanian setiap tahunnya mengalami kerusakan dengan terkikisnya unsur hara serta mikroba baik di dalamnya oleh pestisida atau pupuk berbahan zat-zat kimia. Urine kelinci menjadi alternatif tepat untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
"Sayangnya masih banyak yang belum mengetahuinya. Padahal urine kelinci ini sangat bermanfaat sekali dalam menyuburkan tanah pertanian," ucap Rois Rosiin Anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Anggrek, Dusun Sipring, Desa Pagelaran.
Rois melanjutkan, orang hanya mengetahui kelinci hanya diambil dagingnya saja atau dijadikan ternak hiasan saja. Sedangkan keistimewaan lainnya, seperti urine-nya, banyak yang tidak mengetahui. "Urine kelinci itu sumber bahan organik yang mempunyai kandungan dan manfaat tinggi bagi tanaman. Kandungan urinenya memiliki unsur hara mikro dan makro melebihi kandungan yang dimiliki hewan ternak lainnya, " ujar Rois.
Dari beberapa penelitian kandungan urine kelinci memiliki kadar Nitrogen paling tinggi dibandingkan air kencing kuda, sapi, kerbau, domba, kambing dan babi. Yakni, antara 1,7-2,7 persen mengandung Nitrogen yang merupakan unsur yang membantu mensuplay kebutuhan pupuk N yang dibutuhkan oleh tanaman.
Baca Juga : Pemkot Batu Siapkan Strategi Bantu Petani, PKL, UMKM, Tukang Ojek yang Terdampak Covid-19
Selain memiliki kandungan Nitrogen, urine kelinci juga mengandung unsur Fosfor dan Kalium. Hasil riset penelitian Badan Penelitian Ternak (Balitnak) menuliskan, urine kelinci memiliki kandungan Fosfor (P) 1,1%, dan kandungan Kalium (K) 0,5%. Jika dikombinasikan dengan kotorannya, persentase unsur hara yang terdapat di dalam urine kelinci ini bisa lebih meningkat. Untuk Nitrogen menjadi 2,20%, Fosfor 87%, Potassium 2,30%, 36% untuk Sulfur, 1,26% untuk Kalsium dan 40% untuk Magnesium. "Jadi dari urine kelinci banyak sekali berkahnya bagi petani. Kita telah lama memanfaatkannya untuk bahan pembuatan pupuk organik," ujar Rois yang juga menyampaikan, kebiasaan kelinci saat kencing tidak pernah berpindah-pindah tempat.
"Di satu tempat. Jadi kita bisa buatkan wadah saja di tempat kelinci kencing tersebut, " ucapnya yang juga menambahkan kelinci bisa menghasilkan urine sebanyak 2 liter perhari dari jumlah 10 ekor kelinci.
Disinggung manfaat urine kelinci bagi petani, Rois menyatakan, dapat membantu pertumbuhan tanaman pada masa vegetatif. Baik untuk pembentukan akar, daun, batang dan anakan jika diaplikasikan ke tanaman padi. Selain itu manfaat urine kelinci juga dapat membantu membentuk zat hijau pada daun yang berfungsi untuk proses fotosintesis.
Rois pun menjelaskan cara membuat pupuk atau pestisida organik dari bahan dasar urine kelinci. Dengan asumsi dipergunakan untuk tanaman dipolyback. Urine kelinci sebanyak 1 liter ditambah air kepala 1 gelas minuman kemasan, serta dicampur bawang putih 1 ons, jahe satu siung, merica 2 gram. Juga ditambah tetes tebu sebanyak 10 mililiter dan silitech 1 gram. "Jadikan satu dalam wadah tertutup sampai 3 hari. Setelah itu buang buih putihnya dengab cara disaring kain halus. Pupuk organik dari urine kelinci sudah bisa dipakai, " pungkasnya.
