JATIMTIMES - Berbicara tentang gangguan kesehatan pada anak, salah satunya yang sering dialami adalah gusi bengkak. Gusi bengkak bisa menjadi masalah yang cukup serius, anak-anak biasanya merasa tidak nyaman dan tidak nafsu makan ketika menyentuh gusinya yang bengkak. Namun, sebagai orang tua tidak harus cemas berlebihan. Gusi bengkak pada anak umum terjadi, sehingga membutuhkan pengobatan dengan segera. Prevalensi gusi bengkak pada anak di Indonesia berkisar 14%.
PAFI dengan alamat website https://pafikabupatenindramayu.org adalah salah satu organisasi kesehatan terbesar di Indonesia, yang sangat peduli dengan kesehatan masyarakat. Persatuan Ahli Farmasi Indonesia berusaha untuk meningkatkan profesionalisme anggotanya, sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan, distribusi obat-obatan yang mudah serta harga yang lebih terjangkau bagi masyarakat.
Baca Juga : Khasiat Daun Sirsak vs Daun Kelor untuk Tumor, Mana yang Lebih Ampuh?
Organisasi kesehatan PAFI aktif dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai penyebab gusi bengkak pada anak, serta rekomendasi obat yang bisa dikonsumsi bagi penderitanya.
Apa saja faktor penyebab terjadinya gusi bengkak pada anak?
Pada umumnya, gusi bengkak pada anak adalah kondisi yang cukup sering dialami, terutama pada bayi dan balita. Kondisi ini bisa menjadi tanda tumbuh gigi yang normal, tapi juga bisa menandakan adanya masalah kesehatan mulut yang perlu perhatian khusus, seperti infeksi atau radang gusi. Berikut adalah beberapa faktor penyebab utama terjadinya gusi bengkak pada anak yang perlu diperhatikan meliputi:
1. Adanya tumbuh gigi baru atau teething
Proses tumbuh gigi adalah penyebab paling umum gusi bengkak pada bayi dan anak kecil, terutama pada usia 4-12 bulan. Saat gigi mulai menembus permukaan gusi, jaringan gusi menjadi meradang dan bengkak karena iritasi mekanis. Gusi yang bengkak biasanya berwarna kemerahan dan terasa lunak saat disentuh. Anak sering menunjukkan tanda-tanda rewel, sulit tidur, banyak mengeluarkan air liur, dan suka menggigit benda untuk meredakan rasa gatal dan nyeri. Meski tumbuh gigi adalah proses alami, pembengkakan gusi bisa menyebabkan ketidaknyamanan yang cukup signifikan bagi anak.
2. Adanya radang gusi atau gingivitis
Gingivitis adalah peradangan pada jaringan gusi yang terjadi akibat infeksi bakteri. Penyebab utama adalah penumpukan plak, lapisan lengket berisi bakteri yang menempel pada gigi dan gusi akibat kebersihan mulut yang kurang terjaga. Plak yang tidak dibersihkan akan mengeras menjadi karang gigi (tartar) yang sulit dihilangkan dengan sikat gigi biasa dan memperparah peradangan.Gejala gingivitis meliputi gusi merah, bengkak, mudah berdarah, dan terkadang nyeri ringan. Jika tidak diobati, gingivitis bisa berkembang menjadi periodontitis yang merusak jaringan penyangga gigi dan berpotensi menyebabkan gigi tanggal.
3. Adanya abses gigi
Abses gigi merupakan infeksi bakteri yang menyebabkan terbentuknya kantong nanah di sekitar akar gigi atau gusi. Abses gigi dapat terjadi pada anak, akibat gigi berlubang yang sudah mencapai saraf gigi atau trauma pada gigi. Gusi di sekitar gigi yang terinfeksi membengkak sangat nyeri, berwarna merah gelap atau kebiruan, dan dapat disertai demam tinggi.
4. Kebersihan mulut yang kurang baik
Anak-anak yang belum terbiasa menyikat gigi dengan benar atau kurang diawasi dalam menjaga kebersihan mulut rentan mengalami penumpukan plak dan karang gigi. Kebiasaan mengonsumsi makanan manis dan lengket juga mempercepat pertumbuhan bakteri penyebab radang gusi. Kurangnya edukasi dan pengawasan orang tua dalam kebersihan mulut menjadi faktor utama terjadinya gusi bengkak akibat infeksi.
5. Trauma atau cedera pada gusi
Benturan, jatuh, atau luka pada area mulut dapat menyebabkan gusi bengkak dan berdarah. Anak yang aktif dan sering bermain berisiko mengalami cedera mulut yang menyebabkan pembengkakan gusi. Luka pada gusi juga dapat menjadi pintu masuk bakteri sehingga meningkatkan risiko infeksi.
6. Kondisi medis lainnya
Beberapa kondisi medis seperti leukemia, gangguan sistem kekebalan tubuh, atau penyakit kronis lainnya dapat menyebabkan pembengkakan gusi sebagai salah satu gejalanya. Pada kasus seperti ini, gusi bengkak biasanya disertai gejala lain seperti perdarahan yang tidak normal, kelelahan, dan mudah memar. Kondisi ini memerlukan evaluasi medis dan penanganan khusus.
Baca Juga : Resep Sirsak dan Madu untuk Terapi Kanker sebagai Pengobatan Alami
Apa saja obat yang tepat untuk mengobati gusi bengkak pada anak?
PAFI (Persatuan Ahli Farmasi Indonesia) telah melakukan penelitian lanjut mengenai penyebab utama dari gusi bengkak pada anak. Berikut adalah beberapa jenis obat yang umum digunakan untuk mengurangi gejala gusi bengkak pada anak serta membantu mengelola kondisi tersebut meliputi:
1. Paracetamol
Paracetamol adalah obat pereda nyeri yang efektif untuk mengurangi nyeri ringan hingga sedang, termasuk nyeri akibat gusi bengkak dan sakit gigi pada anak. Obat ini aman diberikan pada bayi usia 2 bulan ke atas dengan dosis yang disesuaikan berat badan dan usia anak. Paracetamol tersedia bebas di apotek dengan dosis yang dapat disesuaikan oleh apoteker. Paracetamol dapat digunakan sebagai pertolongan pertama untuk meredakan rasa sakit dan demam ringan yang menyertai gusi bengkak.
2. Ibuprofen
Ibuprofen termasuk golongan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) yang tidak hanya meredakan nyeri tetapi juga mengurangi peradangan pada gusi. Ibuprofen bekerja dengan menghambat produksi zat penyebab peradangan (prostaglandin). Obat ini bisa digunakan jika paracetamol kurang efektif, namun harus diberikan dengan hati-hati dan sesuai dosis yang dianjurkan oleh apoteker, terutama untuk anak-anak.
Selain mengonsumsi obat-obatan, beberapa cara lain untuk mengurangi gejala gusi bengkak pada anak adalah berkumur dengan air garam hangat. Larutan air garam (setengah sendok teh garam dilarutkan dalam segelas air hangat) efektif mengurangi pertumbuhan bakteri penyebab infeksi dan membantu meredakan nyeri serta pembengkakan pada gusi. Anak diajarkan berkumur selama beberapa detik lalu membuang airnya, dilakukan 2 kali sehari. Penting untuk selalu berkonsultasi dengan apoteker agar mendapatkan rekomendasi obat serta dosis yang sesuai.
Dapatkan informasi kesehatan serta layanan farmasi gratis dengan mengunjungi pafikabupatenindramayu.org melalui smartphone Anda.
