Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Kesehatan

Bahaya Asap Rokok Mengintai Anak Meski Orang Tua Tak Merokok di Rumah, Ini Penjelasan Dokter

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

22 - Apr - 2025, 09:17

Placeholder
Ilustrasi seorang pria merokok. (Foto: Shutterstock)

JATIMTIMES - Bahaya asap rokok ternyata tak hanya berhenti saat batang rokok padam. Sisa-sisa racun dari rokok bisa menempel di banyak benda di sekitar kita, bahkan dalam jangka waktu sangat lama. Tak hanya membahayakan si perokok, racun ini juga bisa menimbulkan risiko serius pada anak-anak dan bayi, meski sang perokok tak merokok di dalam rumah. 

Dokter spesialis anak sekaligus pendiri Tentang Anak, dr. Mesty Ariotedjo Sp.A, MPH mengungkap fakta mengejutkan soal lamanya racun rokok bisa bertahan di tubuh maupun benda-benda di sekitar perokok. 

Baca Juga : Penguasa yang Tak Mau Patuh: Politik, Simbol, dan Perlawanan Halus Brotodiningrat

"Tau ga, kalau asap rokok menempel di liur sampai 5 hari, di rambut sampai 10 hari, di baju selama 19 bulan, di sofa selama berbulan-bulan bahkan tahun setelah tidak merokok," tulis dr. Mesty dalam unggahan X @mestyariotedjo. 

Ia menegaskan, mandi atau sekadar ganti baju tidak cukup untuk menghilangkan semua racun yang mungkin masih menempel dan bisa membahayakan keluarga di rumah. 

"Jangan harap dengan mandi/ganti baju menghilangkan semua racun yang berpotensi melukai keluargamu!" tegasnya. 

Senada dengan dr. Mesty, dokter umum sekaligus Certified Nutrition & Health Coach, dr. Dion Haryadi, menjelaskan lebih dalam mengenai tiga jenis paparan asap rokok, yakni first-hand smoke, second-hand smoke, dan third-hand smoke. 

"Ini adalah residu beracun dari asap rokok yang tertinggal di sekitar kita, di lantai, furniture, sampai ke baju dan mainan anak," jelas dr. Dion. 

Menurutnya, third-hand smoke atau residu rokok yang menempel di benda bisa kembali ke udara dan terhirup oleh siapa pun, terutama anak-anak dan bayi yang jauh lebih rentan. 

Lebih lanjut, dr. Dion memaparkan hasil studi yang membandingkan kandungan racun rokok di tiga jenis rumah. Yakni rumah non-perokok, rumah perokok yang merokok di luar, dan rumah perokok yang merokok di dalam rumah. "Hasilnya, rumah non-perokok itu hampir nggak ada residu beracunnya,"
ungkapnya. 

Namun yang mengejutkan, residu beracun di rumah perokok yang merokok di dalam rumah bisa 3 hingga 20 kali lipat lebih tinggi dibanding rumah perokok yang merokok di luar rumah. 

Tak hanya itu, studi tersebut juga mengukur kadar cotinine dalam urin bayi yang tinggal di masing-masing rumah. Cotinine adalah zat hasil pemecahan nikotin di tubuh manusia, yang menandakan seberapa besar paparan terhadap nikotin. 

"Ekstrim, bayi yang hidup bersama rokok rumahan, itu bisa sampai 45 kali lipat lebih tinggi," ujarnya. 

Baca Juga : Sidang Paripurna, Mas Dhito Ajukan 3 Ranperda ke DPRD Kabupaten Kediri

Ia menambahkan, rata-rata kadar cotinine pada bayi di rumah perokok aktif berada di angka 15, setara dengan paparan pada perokok ringan atau second hand smoker. Dan sebaliknya, bayi di rumah non-perokok memiliki kadar cotinine mendekati nol. 

Yang patut jadi perhatian, kata dr. Dion, bayi yang tinggal di rumah perokok yang hanya merokok di luar rumah pun masih tetap bisa terpapar, meski tingkatnya jauh lebih rendah. 

"Untuk orang tua yang tidak merokok di dalam rumah, bayinya sebenarnya tetap masih terpapar racun rokok, walaupun levelnya masih di bawah manusia yang merokok di dalam rumah," katanya. 

Menurut dr. Dion, upaya ekstra tetap dibutuhkan, seperti mengganti pakaian setelah merokok, tidak merokok di mobil, serta membersihkan rumah dan mainan anak secara rutin. 

"Karena residu beracunnya bisa menempel di lantai, di sofa dan ketika bayi bermain merangkak di sana, ya dia bisa terpapar terhadap racun tersebut," lanjutnya. 

Meski begitu, dr. Dion juga memberikan apresiasi kepada orang tua yang sedang berusaha berhenti merokok dan menjaga anak-anak mereka dari paparan racun. 

"Opini pribadi kepada orang tua yang sedang berusaha untuk berhenti merokok dan sangat menjaga untuk tidak merokok di dekat bayi, respect," tulisnya. 

Baik dr. Mesty maupun dr. Dion sama-sama menekankan bahwa cara terbaik melindungi anak-anak dari bahaya asap rokok adalah dengan tidak merokok sama sekali, dan menjauhi paparan dari perokok. Semoga informasi ini bermanfaat.


Topik

Kesehatan Rokok racun rokok bayi kesehatan bayi perokok



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Sri Kurnia Mahiruni