Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Opini

Catatan Pinggir: Lebaran, Bukan Sekadar Baju Baru

Penulis : Achmad Shampton, M.Ag - Editor : Redaksi

30 - Mar - 2025, 13:34

Placeholder
Ilustrasi saat bersilaturahmi Lebaran. (Foto: istimewa)

JATIMTIMES - Lebaran tiba. Orang-orang bersuka cita. Baju baru, makanan enak, silaturahmi. Pemandangan yang berulang setiap tahun. Tapi, benarkah esensi hari raya hanya sebatas itu?

Para bijak zaman dahulu telah mengingatkan. Hari raya, bagi yang beriman, adalah soal niat. Keridhaan Tuhan menjadi tujuan utama. Bukan sekadar pesta duniawi. Jika niat itu lurus, surga menjadi janji. Jika sebaliknya, arahnya bisa berbeda. Sebuah pilihan mendasar tentang ke mana hati berlabuh di hari yang fitri ini.

Baca Juga : Trik Masak Ketupat Hanya 40 Menit! Lengkap dengan Resep Makanan Pendampingnya

Ada kisah menarik tentang seorang alim yang memilih tidak mengenakan pakaian baru di hari raya. Bukan karena tak punya, tapi karena khawatir hati mereka yang tak seberuntung dirinya akan terluka. Sebuah kepekaan yang menusuk. Di tengah gegap gempita perayaan, ada hati yang perlu dijaga. Ada rasa yang perlu dipeluk. Bukankah esensi kemanusiaan justru terletak di sana?

Sebuah untaian kata juga terngiang: Lebaran bukan soal baju baru. Ia soal ketaatan yang bertambah. Bukan soal kenyang perut, tapi soal ampunan dosa. Bukan soal hawa nafsu yang dituruti, tapi soal tobat yang diterima. Sederhana, namun menohok. Mengingatkan bahwa yang esensial seringkali tersembunyi di balik yang kasat mata.

Imam Ali pernah ditanya, mengapa di hari raya beliau hanya makan roti tanpa lauk. Jawaban beliau sederhana namun dalam: setiap hari di mana kita tak berbuat dosa, itulah hari raya kita. Sebuah definisi yang melampaui kalender dan ritual. Kebebasan sejati adalah kebebasan dari belenggu dosa. Kesenangan hakiki adalah kedekatan dengan Sang Pencipta.

Bahkan tradisi memberi kelonggaran di hari Asyura pun mengarah pada pemahaman yang sama: berbagi, meringankan beban sesama. Seorang Habib sampai menyedekahkan pakaian keluarganya. Seorang miskin memberikan satu-satunya kainnya. Tindakan-tindakan kecil yang lahir dari hati yang besar. Mengingatkan bahwa ibadah tak selalu soal ritual vertikal, tapi juga horizontal: bagaimana kita memperlakukan sesama.

Maka, di hari raya ini, mari kita bertanya pada diri sendiri. Apa yang sebenarnya kita rayakan? Apakah hanya gemerlap duniawi, atau juga kemenangan spiritual? Apakah kita hanya memikirkan diri sendiri, atau juga mereka yang di sekitar kita?

Baca Juga : 9 Kota Tujuan Wisata Populer di Jawa Timur, Wajib Coba Kuliner Khasnya!

Lebaran, barangkali, adalah panggilan untuk kembali kepada fitrah kemanusiaan yang paling mendasar: kasih sayang, kepedulian, dan keinginan untuk berbagi. Bukan hanya bergembira, tapi juga membuat orang lain bergembira. Bukan hanya kenyang, tapi juga memastikan orang lain tak kelaparan.

Di balik baju baru dan hidangan lezat, mari kita cari makna yang lebih dalam. Esensi ibadah adalah memuliakan sesama. Memanusiakan manusia. Itulah mungkin "catatan pinggir" yang perlu kita renungkan di hari yang fitri ini.

*Opini ditulis Kepala Kantor Kemenag Kota Malang, KH. Achmad Shampton, M.Ag atau akrab disapa Gus Shampton


Topik

Opini Lebaran Achmad Shampton Gus Shampton kemenag kota batu



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Achmad Shampton, M.Ag

Editor

Redaksi