Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Serba Serbi

Sering Diucapkan saat Lebaran, Apa Arti Minal Aidin Wal Faizin? Ternyata Bukan Mohon Maaf Lahir dan Batin

Penulis : Mutmainah J - Editor : Yunan Helmy

30 - Mar - 2025, 11:00

Placeholder
Ilustrasi mengucapkan minal aidin wal faizin saat Lebaran. (Foto: Freepik)

JATIMTIMES - Minal aidin wal faizin adalah kalimat yang sering kali diucapkan umat Islam ketika Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran sambil bermaaf-maafan.

Namun, ungkapan tersebut masih banyak disalahartikan oleh sebagian orang sebagai “mohon maaf lahir dan batin”. Sebab, saat Lebaran, kalimat “minal aidin wal faizin” kerap diucapkan berdampingan dengan “mohon maaf lahir dan batin”.

Baca Juga : Tradisi Unik Lebaran di Berbagai Negara, Ada Yang Dirayakan sampai 3 Hari

Lantas, apa sebenarnya makna  ucapan minal aidin wal faizin saat Lebaran? Berikut penjelasan lengkapnya. 

Arti Minal Aidin Wal Faizin

Menukil buku Dakwah Cerdas: Ramadhan, Idul Fitri, Walimatul Hajj dan Idul Adha karya Dra Udji Asiyah MSi, dijelaskan kalimat "minal aidin wal faizin" merupakan bahasa Arab. Meski begitu, ungkapan ini tidak populer di Arab sebagai ucapan saat hari raya.

Terkait pengertian "minal aidin wal faizin" di Indonesia juga mengalami pergeseran. Atau maknanya sudah tidak sesuai.

Kata "minal aidin" memiliki arti golongan yang kembali. Sementara "wal faizin" artinya golongan yang menang. Sehingga arti kalimat minal aidin wal faizin adalah "semoga kita semua termasuk golongan yang kembali (fitrah, suci) dan termasuk orang yang meraih kemenangan (melawan hawa nafsu)".

Kalimat "minal aidin wal faizin" tidak berdiri sendiri, melainkan diawali dengan "ja'alanallah". Maka kalimat lengkapnya adalah "ja'anallahu minal 'aidin wal faizin" yang artinya semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali (fitrah) dan menjadi pemenang.

Sehingga penggunaan kalimat minal aidin wal faizin yang disambung dengan "mohon maaf lahir batin" tidak tepat. Hal tersebut tidak benar dalam kaidah bahasa, karena seakan-akan minal aidin wal faizin memiliki arti mohon maaf lahir dan batin.

Sejarah Minal Aidin wal Faizin

Dalam sejarah, hari perayaan Idul Fitri pertama kali dilakukan pada 624 Masehi atau tahun kedua Hijriah. Pada waktu itu bertepatan dengan selesainya Perang Badar yang dimenangkan oleh kaum Muslim. Hal ini merupakan peristiwa yang berkaitan erat dengan kalimat minal aidin wal faizin.

Perang Badar terjadi pada 17 Ramadan. Pada perang tersebut, Rasulullah memperoleh kemenangan yang dramatis atas kafir Quraisy. Pasalnya, Rasulullah hanya memiliki pasukan yang kecil dan jumlahnya kalah jauh dibandingkan dengan jumlah pasukan lawan.

Namun, Allah memberikan bantuan yang berdampak kepada kemenangan yang diraih oleh Rasulullah. Hal ini tentu sebuah peristiwa yang membanggakan sekaligus menyenangkan. Sebagai bentuk syukur atas kemenangan yang telah diraih oleh pasukan Islam, kemudian muncullah kalimat minal aidin wal faizin.

Nabi pernah bersabda yang artinya: “Sesungguhnya Allah mengganti kedua hari raya itu dengan hari raya yang lebih baik, yakni Idul Fitri dan Idul Adha.”

Setelah kemenangan besar tersebut, kaum Muslim pada Hari Raya Idul Fitri secara tidak langsung merayakan dua kemenangan besar yang bisa mereka syukuri. Pertama adalah kemenangan melawan kafir di Perang Badar. Kedua adalah kemenangan melawan hawa nafsu yang telah usai ketika merayakan Hari Raya Idul Fitri.

Baca Juga : Bolehkah Puasa di Hari Kedua Idul Fitri? Ini Waktu Terbaik Pelaksanaan Puasa Syawal

Hari Raya Idul Fitri memiliki makna yang berkaitan erat dengan tujuan yang akan dicapai dari kewajiban berpuasa tersebut. Tujuannya adalah bertakwa. Maka dari itu, orang-orang yang berhasil meninggalkan bulan Ramadan dengan berpuasa satu bulan penuh, maka ia adalah orang yang telah meraih kemenangan, maka dari itu, orang-orang kerap mengucapkan kalimat minal aidin wal faizin.

Ucapan Hari Raya yang Disunahkan

Melansir laman almanhaj, ucapan yang sebaiknya diucapkan ketika hari raya adalah "taqabbalallahu minnaa wa minkum". Kalimat ini memiliki arti "semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian".

Berkata Al Hafidh Ibnu Hajar dalam "Al Mahamiliyat" dengan isnad yang hasan dari Jubair bin Nufair berkata :

كَانَ أَصحَابُ رَسٌوْلُ اللّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا الْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيْدِ يَقُوْلُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضِ تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَمِنْكَ

Artinya: "Para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya : Taqabbalallahu minnaa wa minka (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu)".

Ibnu Qudamah dalam "Al-Mughni" menyebutkan bahwa Muhammad bin Ziyad berkata: "Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan selainnya dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka bila kembali dari shalat Id berkata sebagiannya kepada sebagian yang lain:

تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَمِنْكَ

Latin: "taqabbalallahu minnaa wa minka".

Itulah penjelasan mengenai arti sebenarnya dari minal aidin wal faizin yang sering diucapkan saat Lebaran. Semoga bermanfaat! 


Topik

Serba Serbi Lebaran ucapan Lebaran Idul Fitri bermaaf-maafan



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Yunan Helmy