Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Serba Serbi

Dari Perang Demak vs Majapahit ke Aliansi Keluarga: Sunan Kudus dan Hubungannya dengan Adipati Sengguruh serta Arya Balitar

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Yunan Helmy

12 - Mar - 2025, 19:20

Placeholder
Makam Adipati Sengguruh di Rejotangan, Tulungagung, saksi bisu perjuangan seorang pemimpin dan pendakwah Islam yang gugur dalam pertempuran di Sungai Brantas. (Foto: Aunur Rofiq/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Perang antara Kesultanan Demak dan Kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-15 merupakan titik balik dalam sejarah Nusantara. Konflik ini bukan sekadar perseteruan politik, tetapi juga refleksi dari perubahan sosial dan keagamaan yang tengah berlangsung. 

Ketika Majapahit memasuki masa kemunduran di bawah pemerintahan Girindrawarddhana, yang menyingkirkan Brawijaya V, Kesultanan Demak di bawah kepemimpinan Raden Patah tampil sebagai kekuatan Islam yang berupaya mengonsolidasikan pengaruhnya di Jawa.

Baca Juga : Profil Kim Soo Hyun, Aktor Korsel yang Terseret Kontroversi dengan Mendiang Kim Sae-ron

Di pihak Majapahit, Adipati Terung Raden Kusen berada dalam posisi dilematis. Sebagai saudara Raden Patah dari ibu yang sama, ia tetap setia kepada Majapahit dan memimpin pasukan dalam mempertahankan kerajaan tersebut. Di sisi lain, Demak mengerahkan kekuatan besar, termasuk para wali dan ulama, untuk menghancurkan sisa-sisa kekuasaan Hindu-Buddha di Jawa. Salah satu komandan perang yang terlibat dalam konflik ini adalah Sunan Ngudung, ayah dari Sunan Kudus.

Pada akhirnya, pasukan Demak berhasil menundukkan Majapahit sekitar tahun 1527. Raden Kusen, yang semula berada di pihak Majapahit, akhirnya mengalihkan kesetiaannya kepada Demak. Kesetiaan ini memberinya posisi sebagai adipati di Terung, sebuah wilayah strategis yang berada di bawah kendali Kesultanan Demak.

Serangan Ketiga: Saat Majapahit Goyah

Perlawanan Demak terhadap Majapahit bukan terjadi dalam satu malam. Dua serangan awal yang dilakukan pasukan santri belum mampu menembus benteng pertahanan kerajaan Hindu-Buddha terakhir di Jawa itu. Namun, segalanya berubah dalam serangan ketiga, ketika Sunan Kudus -Raden Ja’far Shadiq- memimpin langsung pasukan santri.

Kemenangan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh faktor psikologis dan spiritual. Salah satu titik balik utama dalam pertempuran ini adalah kehadiran adipati Terung, panglima Majapahit yang disegani. Ia diharapkan menjadi benteng terakhir yang mempertahankan Majapahit dari kehancuran. Namun, ketika mengetahui bahwa pemimpin pasukan lawan adalah menantunya sendiri, Raden Ja’far Shadiq, adipati Terung memilih untuk mundur ke barisan belakang. Keputusan ini menjadi pukulan telak bagi moral pasukan Majapahit.

Di sisi lain, pasukan santri yang dipimpin Sunan Kudus membawa serta pusaka-pusaka sakti yang menimbulkan ketakutan di pihak lawan. Konon, saat peti pusaka dari Palembang dibuka, hujan badai melanda medan perang. Ditambah dengan kemunculan pasukan gaib yang diyakini sebagai bentuk pertolongan spiritual, pasukan Majapahit semakin tercerai-berai.

Dengan pertahanan yang melemah, pasukan Demak merangsek masuk ke jantung Majapahit. Para senopati kerajaan berusaha memberikan perlawanan terakhir, tetapi gelombang pasukan santri yang bertempur dengan semangat jihad membuat mereka tak berdaya. Dalam hitungan hari, kerajaan yang pernah menjadi pusat peradaban Hindu-Buddha di Jawa ini runtuh, membuka jalan bagi Demak sebagai kekuatan Islam pertama di Nusantara.

Jatuhnya Majapahit bukan hanya akhir sebuah kerajaan, tetapi juga awal perubahan besar dalam peta politik Jawa. Sunan Kudus membawa pusaka-pusaka Majapahit ke Demak sebagai simbol penaklukan, tetapi sebelum diserahkan kepada sultan Demak, benda-benda sakti ini ditempatkan di Giri Kedhaton selama empat puluh hari untuk disucikan.

Sementara itu, adipati Terung yang memilih untuk tidak bertempur akhirnya bergabung dengan pemerintahan Demak. Namun, perang belum sepenuhnya berakhir. Sisa-sisa kekuatan Majapahit yang masih bertahan di Sengguruh (Malang Selatan) harus ditaklukkan. Arya Terung, putra adipati Terung, memimpin pasukan Demak dalam ekspedisi ini. Dalam pertempuran sengit, pasukan Demak berhasil menguasai Sengguruh, memaksa sisa prajurit Majapahit melarikan diri ke Pasuruan dan kawasan pegunungan Tengger.

Dua wilayah penting, Sengguruh dan Blitar, kemudian dijadikan bagian dari wilayah bawahan Demak. Arya Terung diangkat sebagai adipati Sengguruh. Sementara saudaranya, Arya Balitar, menjadi adipati Blitar. Dengan strategi ini, Demak tidak hanya menghancurkan Majapahit, tetapi juga memperluas pengaruhnya ke wilayah-wilayah bekas kerajaan Hindu-Buddha.

Sunan Kudus: Antara Dakwah dan Politik

Peran Sunan Kudus dalam ekspansi Islam di Jawa tidak terbatas pada dakwah. Ia memahami bahwa penyebaran Islam memerlukan strategi politik dan militer yang cermat. Keberhasilannya dalam menaklukkan Majapahit menunjukkan bagaimana dakwah Islam saat itu berjalan berdampingan dengan kekuatan politik.

Namun, meskipun Majapahit telah runtuh, transisi ke era Demak tidak berlangsung dengan mudah. Perlawanan dari sisa-sisa pasukan Majapahit di Pasuruan dan Tengger terus berlanjut. Selain itu, di dalam tubuh Demak sendiri, muncul berbagai pergolakan internal yang kemudian memengaruhi dinamika politik Islam di Jawa.

Historiografi Jawa merekam peristiwa ini dengan gaya yang khas: perpaduan antara fakta sejarah dan unsur mistis. Kisah Sunan Kudus dalam perang ini bukan sekadar catatan peperangan, tetapi juga legenda yang mengukuhkan Islam sebagai kekuatan baru di Nusantara. Di antara mitos dan realitas, perannya menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan panjang Islam di tanah Jawa.

Hubungan Sunan Kudus dengan Raden Kusen

Dalam konteks genealogis, Sunan Kudus memiliki keterkaitan erat dengan lingkaran elit Demak. Sunan Kudus, atau Ja’far Shadiq, dikenal sebagai ulama besar dan panglima perang Kesultanan Demak. Ia berasal dari keluarga ulama dan memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di Jawa.

Raden Kusen, sebagai adipati Terung, merupakan sosok berpengaruh yang memiliki hubungan erat dengan keluarga Kesultanan Demak. Ia menikah dengan Nyai Wilis, seorang perempuan dari garis keturunan Sunan Ampel. Dari pernikahan ini, lahirlah dua anak laki-laki: Arya Balitar dan adipati Sengguruh. Kedua anak ini kemudian tumbuh menjadi tokoh penting dalam sejarah Jawa pasca-runtuhnya Majapahit.

Ketika Majapahit akhirnya ditaklukkan, Demak mulai membangun struktur pemerintahan baru. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah dengan mengangkat tokoh-tokoh loyalis menjadi adipati di berbagai daerah. Arya Balitar dan @dipati Sengguruh termasuk di antara mereka yang mendapat posisi sebagai penguasa di bawah Kesultanan Demak.

Jaringan Perkawinan: Strategi Politik Sunan Kudus

Selain dikenal sebagai ulama dan panglima perang yang mengguncang Majapahit, Sunan Kudus juga membangun jaringan kekuasaan melalui pernikahan strategis. Tiga perempuan utama dalam hidupnya bukan hanya pendamping, tetapi juga simbol dari aliansi politik antara Demak dan penguasa-penguasa lokal yang dulunya berada di bawah Majapahit.

Salah satu pernikahan penting Sunan Kudus adalah dengan Dyah Ayu Uttari, putri Raden Husain alias Raden Kusen, adipati Terung. Pernikahan ini mempererat hubungan antara Sunan Kudus dengan keluarga adipati yang sebelumnya menjadi bagian dari sistem pertahanan Majapahit. Dyah Ayu Uttari juga merupakan saudara dari adipati Sengguruh dan Arya Balitar, dua tokoh yang berperan dalam proses transisi dari Majapahit ke Demak.

Baca Juga : Pemkab Malang dan DJP Tanda Tangani PKS OP4D untuk Optimalisasi Pajak

Pernikahan ini tidak hanya mempererat hubungan antara kalangan ulama dan bangsawan, tetapi juga memperkuat posisi Sunan Kudus dalam hierarki kekuasaan Demak. Dengan menjadi bagian dari keluarga besar Demak, Sunan Kudus memperoleh legitimasi politik yang lebih kuat dalam menjalankan misinya menyebarkan Islam di tanah Jawa. 

Dari pernikahannya dengan Putri Pecat Tanda Terung, putri Adipati Terung, Sunan Kudus dikaruniai tujuh orang anak, yaitu Nyi Ageng Pembayun, Panembahan Palembang, Panembahan Mekaos Honggokusumo, Panembahan Karimun, Panembahan Kali, Ratu Pradabinabar, dan Panembahan Joko.

Selain itu, Sunan Kudus  menikah dengan putri adipati Kanduruwan, yang memperluas pengaruhnya di kalangan aristokrasi Jawa. Pernikahan lainnya adalah dengan Dewi Ruhil, putri Sunan Bonang, yang meneguhkan hubungan antara Sunan Kudus dengan jaringan Wali Songo, terutama garis dakwah dari Sunan Ampel.

Sengguruh dan Arya Balitar: Adipati di Bawah Kekuasaan Demak

Setelah perang antara Demak dan Majapahit, Arya Balitar diangkat menjadi adipati Balitar. Sedangkan saudaranya, adipati Sengguruh, menjadi penguasa di Sengguruh. Keduanya memerintah di bawah otoritas Demak, menjalankan kebijakan Islamisasi yang telah menjadi arah baru dalam pemerintahan di Jawa.

Arya Balitar dan Adipati Sengguruh memiliki kedekatan dengan keluarga Kesultanan Demak. Sebagai keponakan Sultan Demak, mereka berada dalam lingkaran elite yang mendapat kepercayaan penuh dari penguasa Demak. Namun, situasi politik yang penuh intrik membuat mereka harus menghadapi tantangan besar.

Salah satu ancaman terbesar datang dari Adipati Nilosuwarno, penguasa Srengat yang tetap setia pada ajaran Hindu. Konflik antara Arya Balitar dan Adipati Nilosuwarno akhirnya memuncak dalam sebuah tragedi besar: Arya Balitar dan adipati Sengguruh dibunuh dalam perebutan kekuasaan. Peristiwa ini mencerminkan bagaimana transisi dari Majapahit ke Demak bukan hanya sekadar peralihan kekuasaan, tetapi juga pergulatan antara dua sistem kepercayaan yang berbeda.

Adipati Sengguruh dan adiknya,  Adipati Arya Balitar, bukan hanya pemimpin daerah, tetapi juga tokoh penting dalam dakwah Islam di pedalaman Jawa pada masa transisi Majapahit-Demak. Sebagai saudara sepupu Sultan Trenggana dan keturunan Sunan Ampel, mereka membawa pengaruh Islam ke wilayah pedalaman yang masih kuat dengan tradisi Hindu-Buddha. Namun, upaya mereka tidak selalu diterima dengan baik. Banyak penguasa lokal yang merasa terancam oleh perkembangan Islam, termasuk Adipati Srengat Nilasuwarno dan adipati Panjer.

Ketegangan antara dua kekuatan ini mencapai puncaknya ketika adipati Sengguruh dan adipati Arya Balitar kembali dari ziarah ke makam Sunan Giri. Saat melintasi Sungai Brantas, rombongan mereka yang hanya berjumlah sekitar 30 orang dikepung oleh pasukan gabungan adipati Srengat dan adipati Panjer yang berjumlah lebih dari seribu orang. Pertempuran sengit pun pecah di tengah arus sungai. Meskipun mereka berdua dikenal sakti dan mampu bertahan dalam pertempuran yang berlangsung hingga malam, jumlah musuh yang begitu besar akhirnya membuat mereka kewalahan. Adipati Sengguruh dan Adipati Arya Balitar gugur bersama para pengawalnya, hanya menyisakan Pangeran Arya Talun, putra Adipati Arya Balitar, yang berhasil selamat meski terluka.

Kematian dua tokoh ini tidak hanya menjadi akhir dari perjalanan mereka, tetapi juga awal dari kehancuran Kadipaten Sengguruh. Tak lama setelahnya, Raden Pramana, putra Patih Mahodara, bersama pasukan Kadipaten Dengkol dan Menak Supethak dari Garuda, menyerbu wilayah Sengguruh. Kadipaten di selatan Malang itu pun luluh lantak, terbakar hingga rata dengan tanah.

Namun, sejarah mencatat bahwa beberapa keturunan Adipati Sengguruh berhasil melarikan diri dan meneruskan perjuangan, termasuk Pangeran Arya Jeding, Pangeran Macanbang, Pangeran Arya Kandung, serta Pangeran Arya Banding yang kemudian dikenal sebagai Ki Ageng Terung.

Kisah heroik ini menjadi simbol perjuangan Islam di pedalaman Jawa, mencerminkan betapa beratnya transisi dari kekuasaan Majapahit ke Demak, terutama dalam hal penyebaran agama dan perubahan sosial. Hingga kini, makam adipati Sengguruh di Rejotangan, Tulungagung, menjadi saksi bisu dari perjalanan panjang sejarah Islam di tanah Jawa.

Jalinan Kekeluargaan dalam Dinamika Sejarah Nusantara

Kisah Sunan Kudus, adipati Sengguruh, dan Arya Balitar merupakan contoh nyata bagaimana hubungan kekeluargaan memainkan peran penting dalam dinamika politik di Nusantara.

Pernikahan, aliansi strategis, dan konflik internal menjadi elemen utama yang membentuk sejarah Jawa pada masa transisi dari Majapahit ke Demak. Sunan Kudus, dengan statusnya sebagai ulama dan panglima perang, memiliki keterikatan erat dengan keluarga bangsawan Demak, yang turut menentukan arah perkembangan Islam di Jawa.

Tragedi yang menimpa Adipati Arya Balitar dan Adipati Sengguruh mencerminkan betapa kerasnya pergolakan pada masa itu. Pembunuhan mereka oleh Adipati Nilosuwarno bukan hanya sekadar konflik politik lokal, tetapi juga bagian dari perubahan besar yang mengguncang struktur kekuasaan di Jawa.

Dengan demikian, sejarah hubungan Sunan Kudus dengan adipati Sengguruh dan Arya Balitar memberikan gambaran yang lebih luas tentang bagaimana transisi kekuasaan di Nusantara tidak terjadi dalam ruang hampa, tetapi merupakan hasil dari jaringan hubungan keluarga, politik, dan agama yang saling berkaitan.

Sejarah ini juga menegaskan bahwa perubahan besar dalam suatu peradaban sering kali melibatkan individu-individu yang memiliki hubungan darah dan kepentingan yang saling bertautan. Sunan Kudus, dengan segala perannya, menjadi bagian dari proses panjang yang menghubungkan era Majapahit dengan masa kejayaan Islam di Nusantara.


Topik

Serba Serbi Kesultanan Demak Kerajaan Majapahit Sunan Kudus adipati Terung adipati Sengguruh Arya Balitar



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Yunan Helmy