Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Pendidikan

Air Alkali dan Infused Water Kian Menjamur, Praktisi Alumni FSTeM UB Ungkap Mana Fakta Sains dan Mana Strategi Pasar

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

29 - May - 2026, 12:54

Placeholder
Alumni FSTeM UB dan Direktur PT Samudra Embun Anugerah, Drs Sunarno (Anggara Sudiongko/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Tren depot air minum isi ulang dengan label air alkali, infused water hingga air bermineral kini makin marak di tengah masyarakat. Di balik menjamurnya klaim kesehatan tersebut, muncul pertanyaan besar mengenai sejauh mana produk-produk itu benar-benar berbasis sains atau sekadar strategi pemasaran untuk menarik konsumen.

Direktur PT Samudra Embun Anugerah, Drs Sunarno, menilai masyarakat perlu memahami bahwa kualitas air tidak bisa hanya diukur dari istilah yang sedang populer di pasar. Menurut alumni Fakultas Sains, Teknologi dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB) itu, parameter ilmiah tetap menjadi dasar utama untuk menentukan apakah air layak dikonsumsi atau tidak.

Baca Juga : Rumah Sedekah NU Malang Sembelih Puluhan Hewan Kurban, Tebar Ratusan Paket

“Kadang saya minum air tertentu rasanya aneh. Itu sebenarnya masuk ke ilmu rasa. Yang membedakan air di lapangan itu salah satunya TDS atau Total Dissolved Solids, yaitu kadar zat terlarut di dalam air,” ujar Sunarno belum lama ini 

Ia menjelaskan, air mineral biasa memiliki kandungan zat terlarut yang relatif lebih tinggi dibanding air hasil teknologi reverse osmosis atau RO. Dalam proses RO, sebagian besar mineral disaring sehingga kadar TDS bisa turun drastis hingga sekitar 10 sampai 20 ppm. Perbedaan itulah yang membuat sebagian orang merasa air RO terasa hambar, sementara air mineral terasa lebih “berisi”.

Fenomena itu kemudian berkembang menjadi peluang pasar. Sejumlah depot dan produsen mulai menawarkan air alkali maupun infused water dengan berbagai klaim kesehatan, mulai dari membantu menetralkan asam lambung hingga menangkal radikal bebas.

Sunarno menyebut sebagian teknologi tersebut memang memiliki dasar kimiawi. Salah satunya terkait perubahan nilai redoks dan peningkatan pH dalam air.

“Kalau air alkali itu ada yang menggunakan media mineral sehingga pH-nya naik. Ada juga yang menggunakan proses elektrolisis. Secara kimia memang ada perubahan. Nilai redoksnya bisa minus sehingga diklaim mampu bereaksi dengan radikal bebas,” jelasnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa manfaat kesehatan air semacam itu masih terus diperdebatkan di dunia medis. Karena itu, masyarakat tidak seharusnya langsung percaya pada seluruh klaim tanpa melihat standar keamanan dan pengujian laboratorium.

Menurut Sunarno, persoalan paling penting justru bukan sekadar kandungan alkali atau mineral, melainkan kebersihan dan keamanan air dari kontaminasi bakteri. Ia menegaskan air isi ulang pada dasarnya bisa sehat dikonsumsi selama memenuhi parameter yang telah ditetapkan pemerintah.

“Air layak minum itu bukan cuma jernih. Parameter bakterinya harus nol. Itu yang penting,” katanya.

Ia memaparkan, proses pengolahan air minum yang baik seharusnya melalui beberapa tahapan penyaringan. Mulai dari sand filter untuk menyaring partikel tersuspensi, karbon aktif untuk menghilangkan bau dan warna, hingga mikrofilter untuk memutus bakteri. Setelah itu, air wajib melalui proses sterilisasi ultraviolet atau UV.

Baca Juga : Teach for Change: Kolaborasi Mahasiswa UB dan SSCM Suarakan Hak Pendidikan Anak melalui Kampanye “Satu Bangsa, Satu Hak untuk Belajar”

Namun, praktik di lapangan menurutnya masih banyak yang keliru. Salah satunya penempatan UV yang tidak tepat pada sistem depot isi ulang.

“Kalau UV-nya dipasang sebelum tandon, itu salah. Karena setelah masuk tandon, bakteri bisa tumbuh lagi. Idealnya UV itu dipasang saat proses refill atau inline sebelum air keluar ke konsumen,” tegasnya.

Ia menambahkan, masyarakat sering kali terkecoh dengan istilah-istilah pemasaran tanpa memahami apakah depot tersebut rutin melakukan pengujian laboratorium atau tidak. Padahal, pengukuran kualitas air tidak bisa hanya berdasarkan rasa maupun tampilan visual.

“Kalau bakteri itu tidak bisa diraba-raba. Harus tes laboratorium. pH juga harus dites. Jadi tidak cukup hanya percaya tulisan alkali atau mineral,” ungkapnya.

Sunarno juga menyinggung bahwa meningkatnya tren air kesehatan saat ini tak lepas dari perubahan pola konsumsi masyarakat urban yang makin sadar kesehatan, tetapi di sisi lain mudah terpengaruh promosi. Kondisi tersebut membuat industri air minum berlomba menciptakan diferensiasi produk agar tetap kompetitif.

Di tengah persaingan tersebut, ia menilai edukasi publik menjadi hal mendesak agar masyarakat tidak sekadar membeli label kesehatan, tetapi memahami standar ilmiah di balik produk yang dikonsumsi setiap hari.

“Yang penting itu sebenarnya airnya aman, higienis, dan memenuhi standar. Jangan sampai orang fokus ke istilah-istilah, tapi aspek kebersihan dan bakterinya justru diabaikan,” pungkasnya.


Topik

Pendidikan Air Alkali Infused Water Praktisi Alumni FSTeM UB Fakta Sains Strategi Pasar



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Sri Kurnia Mahiruni