JATIMTIMES - Dunia pernikahan bukan sekadar soal dekorasi indah atau pesta meriah. Di balik itu, ada proses panjang yang menuntut kesabaran, ketelitian, hingga kemampuan membaca emosi banyak orang.
Hal itulah yang dijalani Kiki Indah Permata, sekretaris umum Himpunan Perusahaan Penata Acara Pernikahan (Hastana) Indonesia, yang juga dikenal sebagai Owner Sidorabi Wedding Organizer.
Baca Juga : 1 Mei 2026 Libur atau Tidak? Ini Penjelasannya
Perjalanan Kiki di industri ini berawal dari aktivitas organisasinya sejak masa sekolah hingga kuliah. Ia mengaku telah terbiasa bekerja di lapangan dan mengasah kreativitas sejak dini.
“Dari dulu memang senang kerja kreatif dan kerja lapangan. Awalnya ikut event organizer orang sekitar tahun 2006, lalu 2008 mulai berani bikin sendiri sama teman-teman,” ungkap Kiki, Minggu (26/4/2026).
Namun langkah besarnya diambil pada 2010, saat ia mulai fokus masuk ke dunia wedding organizer. Tanpa ragu, Kiki langsung membangun usahanya sendiri.
Klien pertamanya pun berasal dari lingkaran terdekat. “Awal-awal yang pakai jasa saya ya teman-teman sendiri, lingkup terdekat,” katanya.
Seiring waktu, kepercayaan klien terus meningkat. Dari tim kecil beranggotakan sekitar delapan hingga sepuluh orang, kini usahanya berkembang dengan melibatkan hingga 50 orang.
Berbagai acara pernikahan pun telah ia tangani, termasuk momen penting keluarga pejabat daerah. Tak hanya di Malang, layanan Sidorabi juga menjangkau berbagai daerah.
Timnya kerap menangani pernikahan di sejumlah kota dan kabupaten di Jawa Timur hingga ke Bali, menyesuaikan kebutuhan klien, termasuk konsep pernikahan destinasi.
Berbicara mengenai pasar di Malang, Kiki melihat potensi yang besar. Ia menilai, meski dikenal sebagai kota yang relatif kecil, Malang menyimpan banyak kalangan berkecukupan.
“Banyak crazy rich yang tersembunyi di Malang. Untuk ukuran sini, anggaran Rp 1 miliar itu sudah sangat mewah,” kata Kiki.
Sementara itu, untuk paket pernikahan yang lebih umum, ia menyebut kisaran biaya tetap bisa disesuaikan. “Kalau di gedung atau hotel, paket aman biasanya mulai dari Rp 150 juta. Di bawah itu bisa, tapi harus ada penyesuaian,” jelasnya.
Sidorabi sendiri tidak membatasi segmen pasar. Selain menangani pernikahan di hotel dan ballroom, ia juga kerap dipercaya mengawal pesta rakyat yang digelar para pengusaha di daerah.
“Kita juga sering handle pesta rakyat dari juragan-juragan di desa. Itu punya pasar sendiri dan cukup besar,” tambah Kiki.
Menurut dia, perjalanan 16 tahun yang dijalaninya tidak selalu mulus. Kiki mengakui sempat merasa terlalu percaya diri sebelum pandemi Covid-19, menganggap bisnis pernikahan akan selalu stabil. Namun kondisi berubah drastis saat pandemi melanda.
“Sempat merasa bisnis ini tidak akan mati, tapi pandemi itu seperti sentilan keras buat saya,” kata Kiki kepada JatimTIMES.
Situasi tersebut memaksanya untuk beradaptasi dan berpikir lebih kreatif. Salah satu langkah yang diambil adalah membuat simulasi konsep pernikahan di era baru, dengan penyesuaian protokol kesehatan saat itu. Upaya tersebut menjadi cara agar industri tetap bisa berjalan di tengah keterbatasan.
Baca Juga : Bupati Sanusi Dorong IPNU dan IPPNU Kabupaten Malang Cermat Hadapi Dinamika Sosial
Meski demikian, Kiki tetap menjaga standar kerja timnya dengan ketat. Ia membatasi jumlah acara dalam satu hari demi menjaga kualitas layanan. “Maksimal tiga event dalam sehari. Kalau cuma ngejar margin tapi acaranya chaos, buat apa,” tegasnya.
Menurut dia, kunci utama dalam menjalankan bisnis wedding organizer bukan hanya soal teknis, tetapi juga kemampuan berkomunikasi. Latar belakangnya sebagai sarjana psikologi menjadi bekal penting dalam menghadapi berbagai karakter klien.
“Kita ini sering jadi mediator. Kadang komunikasi antara calon pengantin, orang tua, sampai antar besan itu tidak selalu baik. Jadi harus ekstra sabar dan mau mendengarkan,” jelas ibu satu anak ini.
Ia menambahkan, proses persiapan pernikahan sangat bergantung pada komunikasi yang baik. “Kuncinya tetap sama, komunikasi, sabar, dan mendengarkan,” ujar Kiki.
Meski penuh tantangan, Kiki mengaku tetap bertahan karena kecintaannya pada pekerjaan ini. Rasa lelahnya selalu terbayar saat melihat kebahagiaan klien di hari istimewa mereka.
“Capeknya hilang ketika lihat pengantin senyum, dekorasi jadi bagus, dan setelah acara mereka bilang terima kasih. Itu yang bikin kita mau ngulang lagi,” kata warga Kelurahan Bareng, Kecamatan Klojen ini.
Di tengah perubahan tren pascapandemi, Kiki juga melihat pergeseran dalam konsep pernikahan. Jika sebelumnya jumlah tamu bisa mencapai ribuan, kini lebih banyak pasangan memilih konsep yang lebih intim.
Meski begitu, kebutuhan akan kualitas tetap menjadi prioritas. “Orang sekarang lebih realistis, lebih mikir untuk saving, tapi tetap ingin acara yang berkesan,” katanya.
Ia juga menyoroti bahwa industri pernikahan memiliki dampak ekonomi yang luas, melibatkan banyak sektor. “Wedding itu bukan cuma WO atau hotel. Ada petani bunga, supplier bahan makanan, sampai pekerja harian. Jadi efeknya besar sekali,” ungkap Kiki.
Sebagai pelaku industri, Kiki menekankan pentingnya menjaga kualitas dan kepercayaan klien. Promosi dari mulut ke mulut pun masih menjadi strategi paling efektif. “Rekomendasi dari klien itu paling kuat. Orang lebih percaya pengalaman langsung,” ucap alumni Universitas Merdeka Malang ini.
Kini, setelah lebih dari 16 tahun berkecimpung di dunia event dan wedding, Kiki tetap berkomitmen untuk terus berkembang. Baginya, setiap pernikahan adalah cerita baru yang harus ditangani dengan sepenuh hati.
“Namanya kerja pakai passion, capek pasti. Tapi selama kita masih cinta sama prosesnya, pasti dijalani terus,” tutup Kiki.
