JATIMTIMES - Dalam sejarah Jawa, makam bukan sekadar ruang kematian. Ia berfungsi sebagai arsip kekuasaan, penanda legitimasi, dan medan kontestasi ingatan kolektif.
Di Ponorogo, Makam Setono sebagai kompleks pemakaman keluarga Bathoro Katong menempati posisi penting sebagai simpul antara sejarah politik, spiritualitas lokal, dan proses pembentukan identitas wilayah. Di balik kompleks sakral tersebut hadir figur Pangeran Sedakarya, adipati Ponorogo keempat, seorang bangsawan pekerja keras yang memadukan etos pemerintahan pragmatis dengan kesadaran historis yang mendalam.
Baca Juga : Kodim 0818 Bakal Lanjutkan Bangun Jembatan Garuda di 7 Titik Kabupaten Malang
Pembangunan dan pemugaran makam leluhur, khususnya makam Panembahan Batoro Katong, pendiri Kadipaten Ponorogo, bukanlah tindakan pasif atau sekadar wujud bakti keluarga. Ia merupakan proyek ideologis yang bertujuan menata ulang hubungan antara penguasa dan rakyat, antara masa lalu dan masa kini, serta antara dunia kasatmata dan dunia adikodrati.
Dalam konteks inilah peran Pangeran Sedakarya perlu dibaca sebagai penguasa yang bekerja melalui kebijakan ekonomi dan sosial, sekaligus sebagai aktor spiritual yang memahami bahwa legitimasi Jawa bertumpu pada terciptanya keselarasan kosmis.

Genealogi Kekuasaan: Dari Raden Katong ke Pangeran Sedakarya:
Pangeran Sedakarya adalah putra dari Pangeran Dodol dan merupakan bagian dari trah langsung pendiri Kadipaten Ponorogo, sebuah garis keturunan yang sejak awal memadukan legitimasi darah Majapahit, mandat politik Islam, dan kosmologi Jawa pedalaman. Dalam silsilah keluarga, Pangeran Sedakarya menempati posisi sebagai generasi keempat dari pendiri Ponorogo, sekaligus pewaris warisan politik dan spiritual yang telah dibangun sejak akhir abad ke-15.
Garis nasab ini bermula dari Raden Katong, yang dalam tradisi babad dan ingatan lokal dikenal dengan gelar Kanjeng Panembahan Batoro Katong. Babad Ponorogo secara konsisten menempatkan Batoro Katong sebagai putra Prabu Brawijaya V, raja Majapahit pada fase akhir kekuasaan kerajaan tersebut, yang dalam kajian historiografi mutakhir dapat diidentifikasi sebagai Dyah Kertawijaya, penguasa sah Wangsa Rajasa yang naik takhta pada tahun 1447 M.
Mengenai asal-usul ibunya, tradisi babad mencatat dua versi yang hidup berdampingan. Versi pertama menyebutkan bahwa ibu Batoro Katong adalah Putri Champa, yang mengaitkan darah keturunannya dengan jaringan elite pesisir dan dunia Islam awal di Asia Tenggara. Versi kedua, sebagaimana tercatat dalam Babad Demak Pesisiran, menyebut bahwa ibu Batoro Katong adalah putri dari wilayah Ponorogo, yang menegaskan akar lokal dan legitimasi teritorialnya di kawasan Wengker.
Dengan demikian, Batoro Katong tidak dapat dipahami sebagai tokoh pinggiran pasca runtuhnya Majapahit, melainkan sebagai bagian dari inti dinasti yang lahir dari krisis internal kerajaan terbesar di Jawa. Ia membawa warisan politik, genealogis, dan simbolik Majapahit ke wilayah perbatasan selatan, sekaligus meletakkan fondasi baru bagi pembentukan Kadipaten Ponorogo sebagai entitas kekuasaan yang sah secara dinasti dan kosmologis.
Batoro Katong atau Raden Katong dilahirkan dari lingkungan istana Majapahit yang sedang mengalami pergeseran ideologis besar. Pada masa Dyah Kertawijaya, istana tidak lagi menjadi benteng eksklusif Hindu-Buddha, melainkan ruang negosiasi antara tradisi lama dan pengaruh Islam yang kian menguat. Istri-istri raja berasal dari Campa dan Cina, sebagian telah memeluk Islam, dan sejumlah putra istana dibesarkan dalam lingkungan Muslim. Dari rahim politik adaptif inilah lahir generasi bangsawan Majapahit-Islam, termasuk Raden Katong.
Sebagai bagian dari rekayasa kekuasaan dinasti Dyah Kertawijaya, Raden Katong ditempatkan di wilayah Wengker atau Ponorogo, sebuah kawasan pedalaman yang secara strategis penting namun belum sepenuhnya tersentuh Islam pesisir. Dalam tradisi Babad Ponorogo, pengangkatan ini kemudian diteguhkan kembali oleh Raden Patah, Sultan Demak Bintoro, sehingga Raden Katong memegang dua sumber legitimasi sekaligus: darah Majapahit dan mandat negara Islam Demak. Dari sinilah ia membangun Ponorogo sebagai kadipaten baru dengan struktur pemerintahan, basis agraris, dan simbol-simbol Islam yang disesuaikan dengan kosmologi lokal.
Dari Batoro Katong, garis keturunan berlanjut kepada Panembahan Agung, yang dalam tradisi lokal dipandang sebagai penerus langsung kekuasaan pendiri. Panembahan Agung berperan sebagai figur transisional yang menjaga stabilitas pasca-penaklukan, memperkuat struktur kadipaten, serta memastikan bahwa legitimasi Batoro Katong tidak berhenti sebagai kharisma personal, melainkan diwariskan secara genealogis. Pada fase ini, kekuasaan Ponorogo mulai dilembagakan sebagai dinasti lokal Islam di pedalaman Jawa Timur.
Nasab tersebut kemudian diteruskan kepada Pangeran Dodol, ayah Pangeran Sedakarya. Dalam beberapa tradisi lokal, Pangeran Dodol juga dikenal sebagai Panembahan Agung II, penanda kesinambungan simbolik dengan generasi sebelumnya. Pemerintahannya berlangsung dalam situasi yang tidak sepenuhnya stabil, terutama akibat tekanan ekonomi dan melemahnya sektor pertanian. Meski demikian, Pangeran Dodol tetap menjadi mata rantai genealogis penting yang menghubungkan generasi pendiri negara dengan generasi pembaru berikutnya.
Dari Pangeran Dodol inilah lahir Pangeran Sedakarya, Adipati Ponorogo keempat, yang mewarisi tidak hanya jabatan politik, tetapi juga kesadaran historis sebagai cicit Bathoro Katong. Ia tumbuh dalam kultur keluarga pendiri, di mana ingatan tentang pembukaan hutan, penaklukan elite lama, dan pendirian negara Islam pedalaman diwariskan sebagai etos kepemimpinan. Kesadaran nasab ini membentuk karakter Sedakarya sebagai penguasa yang menempatkan kerja keras, kedekatan dengan rakyat, dan penghormatan terhadap leluhur sebagai bagian dari legitimasi kekuasaan.
Dengan demikian, Pangeran Sedakarya tidak dapat dipahami semata sebagai pejabat administratif Ponorogo, melainkan sebagai pewaris proyek sejarah panjang yang bermula dari runtuhnya Majapahit, berlanjut pada rekayasa politik Islam Demak, dan mengkristal dalam bentuk negara agraris pedalaman bernama Ponorogo. Di dalam dirinya bertemu darah rajawi Majapahit, mandat negara Islam, serta kosmologi Jawa yang menempatkan leluhur, makam, dan silsilah sebagai sumber utama kewibawaan politik.
Sebagai bangsawan yang lahir dalam keluarga founding father Ponorogo, Sedakarya tumbuh dalam kultur politik yang menekankan kesinambungan nasab, kesetiaan pada leluhur, dan tanggung jawab moral terhadap rakyat. Pendidikan yang ia terima berlangsung dalam lingkaran keluarga bangsawan, dengan penekanan pada etika kepemimpinan, laku spiritual, serta pemahaman adat dan tradisi lokal.
Pergantian kekuasaan dari Pangeran Dodol kepada Pangeran Sedakarya berlangsung dalam situasi krisis. Pemerintahan pendahulunya dinilai tidak stabil, terutama pada sektor ekonomi yang menjadi fondasi utama kehidupan masyarakat Ponorogo. Pertanian sebagai tulang punggung penghidupan rakyat mengalami kemunduran, yang pada gilirannya melemahkan struktur pemerintahan kadipaten secara keseluruhan. Dalam tradisi politik Jawa, kegagalan ekonomi tidak dipahami semata sebagai persoalan teknis administrasi, melainkan sebagai tanda terganggunya keselarasan kosmis antara penguasa, rakyat, dan alam.
Naiknya Sedakarya ke tampuk kekuasaan dengan demikian bukan hanya suksesi dinasti, melainkan koreksi moral dan politik atas pemerintahan sebelumnya.

Pangeran Sedakarya dan Hubungan Kekerabatan dengan Senapati Mataram
Dalam silsilah bangsawan Jawa abad ke-16, Pangeran Sedakarya bukanlah figur pinggiran yang kebetulan muncul di tengah kemunduran Kadipaten Ponorogo. Ia berdiri di simpul genealogis penting yang menghubungkan trah Katongan, Wangsa Kajoran, dan lingkar awal elite Mataram Islam. Posisi ini hanya dapat dipahami apabila Sedakarya ditempatkan secara tepat dalam jaringan kekerabatan Panembahan Agung Ponorogo dan Panembahan Agung Kajoran.
Secara genealogis, ayah Pangeran Sedakarya, yakni Pangeran Dodol, merupakan saudara kandung Panembahan Agung Kajoran. Keduanya adalah putra Sayid Kalkum, tokoh yang dalam berbagai tradisi juga dikenal sebagai Pangeran ing Wot Galeh atau Panembahan Agung Ponorogo. Dengan demikian, Pangeran Sedakarya dan Panembahan Agung Kajoran merupakan sepupu sedarah, berasal dari satu garis keturunan yang sama sebagai cicit Sunan Ampel melalui jalur Pangeran Tumapel.
Sayid Kalkum sendiri menempati posisi unik dalam sejarah Jawa. Ia adalah figur yang menyatukan dua sumber legitimasi besar: pertama, legitimasi spiritual Wali Songo sebagai cicit Sunan Ampel; kedua, legitimasi politik lokal melalui perkawinannya dengan putri Panembahan Batoro Katong, pendiri Kadipaten Ponorogo. Dari rahim perkawinan inilah lahir dua cabang penting: satu cabang melanjutkan kekuasaan teritorial Ponorogo, yang diwakili oleh garis Pangeran Dodol dan Pangeran Sedakarya; cabang lain berkembang sebagai wangsa religio-politik, yakni Wangsa Kajoran, yang dipimpin oleh Panembahan Agung Kajoran atau Sunan Kajoran.
Panembahan Agung Kajoran, yang sebelumnya bernama Pangeran Maulana Mas, memilih jalan berbeda dari sepupunya di Ponorogo. Ia meninggalkan pusaran kekuasaan teritorial dan menempatkan dirinya sebagai figur spiritual-politik. Namun perbedaan jalan ini tidak memutus hubungan darah. Justru sebaliknya, hubungan kekerabatan inilah yang membuat Sedakarya tidak dapat dilepaskan dari jaringan Kajoran dan, secara tidak langsung, dari lingkar elite Mataram yang sedang tumbuh.
Posisi Sedakarya menjadi semakin signifikan ketika Panembahan Agung Kajoran menjalin perkawinan strategis dengan dua putri Sunan Pandanaran II atau Sunan Tembayat. Perkawinan ini menegaskan Wangsa Kajoran sebagai poros penghubung antara Ponorogo, Tembayat, Pajang, dan wilayah pedalaman Jawa Tengah. Dari perkawinan tersebut, Panembahan Agung Kajoran menurunkan sejumlah anak yang memainkan peran penting dalam sejarah politik Jawa.
Salah satu putrinya yang paling menentukan adalah Raden Ayu Kajoran, yang dipersunting oleh Panembahan Senapati, pendiri Mataram Islam. Perkawinan ini bukan sekadar ikatan personal, melainkan penyatuan dua garis legitimasi: Wangsa Kajoran yang berakar pada Sunan Ampel dan Sunan Tembayat, dengan kekuasaan baru Mataram yang sedang mencari pijakan genealogis dan spiritual. Dengan perkawinan ini, Panembahan Senapati menjadi menantu Panembahan Agung Kajoran.
Dari rahim Raden Ayu Kajoran dan Panembahan Senapati lahir dua tokoh penting, yaitu Adipati Rio Menggala Ponorogo dan Adipati Jayaraga Ponorogo. Kedua tokoh ini menandai kembalinya darah Kajoran dan Katongan ke wilayah Ponorogo, bukan sebagai penguasa lokal lama, melainkan sebagai bagian dari jaringan kekuasaan Mataram. Namun yang lebih penting, fakta ini menempatkan Sedakarya dalam posisi kekerabatan yang sangat dekat dengan inti kekuasaan Mataram.
Secara genealogis, Sedakarya merupakan keponakan Panembahan Agung Kajoran, sementara Panembahan Senapati adalah menantu Kajoran. Dengan demikian, Sedakarya memiliki hubungan kekerabatan langsung dengan pendiri Mataram, meskipun tidak melalui ikatan perkawinan. Ia bukan bawahan dan bukan pula pejabat asing, melainkan bagian dari satu keluarga besar yang sama, terhubung oleh darah Sunan Ampel dan jaringan Wali Songo.
Hubungan ini menjelaskan mengapa figur Sedakarya dalam tradisi babad tidak pernah digambarkan sebagai musuh kosmologis Mataram, melainkan sebagai penguasa lokal yang berusaha mempertahankan keseimbangan lama di tengah perubahan zaman. Ia mewarisi etos Katongan yang menekankan stabilitas desa, pertanian, dan penghormatan terhadap leluhur, sekaligus berada dalam orbit genealogis wangsa yang kelak mendominasi politik Jawa.
Dalam konteks ini, Sedakarya berdiri sebagai figur transisi. Ia bukan sekadar adipati Ponorogo yang aktif bekerja memulihkan ekonomi rakyat, tetapi juga representasi cabang Katongan yang tidak sepenuhnya melebur ke dalam proyek negara baru, berbeda dengan cabang Kajoran yang memilih jalur perkawinan dan spiritualitas sebagai strategi bertahan. Upaya Sedakarya membangun kembali pertanian, perdagangan, dan pusat spiritual di Kedung Senthul dapat dibaca sebagai ikhtiar mempertahankan martabat trah Katongan di tengah menguatnya wangsa-wangsa baru yang masih satu darah dengannya.
Dengan demikian, hubungan antara Pangeran Sedakarya dan Senapati Mataram bukan hubungan politik langsung, melainkan hubungan kekerabatan struktural. Sedakarya adalah bagian dari keluarga besar yang sama, keponakan Panembahan Agung Kajoran, sementara Senapati adalah menantu Kajoran. Dari titik inilah sejarah Ponorogo, Kajoran, dan Mataram bertaut, bukan melalui penaklukan semata, tetapi melalui nasab, perkawinan, dan legitimasi spiritual yang berakar pada satu sumber tua: darah Wali Songo dan memori kekuasaan Jawa lama.

Konsolidasi Kekuasaan dan Etos Kerja Seorang Adipati
Sejak awal pemerintahannya, Pangeran Sedakarya dikenal sebagai penguasa yang “tancap gas”. Ia melakukan konsolidasi internal, memperkuat jaringan elite lokal, dan yang terpenting, turun langsung ke masyarakat. Program tilik desa menjadi instrumen utama kebijakan sosialnya. Sedakarya tidak memerintah dari kejauhan; ia hadir di ladang-ladang, di balai desa, dan di tengah persoalan riil rakyatnya.
Dalam setiap kunjungan desa, Adipati Sedakarya tidak hanya bersilaturahmi, tetapi juga memberikan bimbingan penyuluhan pertanian. Ia memahami bahwa stabilitas politik bertumpu pada ketersediaan pangan. Ketika rakyat giat bekerja dan hasil pertanian meningkat, legitimasi penguasa pun menguat.
Dampak kebijakan ini terasa cepat. Babad Ponorogo mencatat bahwa dalam masa pemerintahannya, sandang, pangan, dan papan menjadi lebih terjangkau. Kehidupan masyarakat berangsur stabil. Dalam tradisi Jawa, kondisi semacam ini dipahami sebagai tanda ratu adil: penguasa yang mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan negara dan kesejahteraan rakyat.
Baca Juga : Kuto Bedah di Malang Ternyata Bekas Pusat Pemerintahan Tumapel yang Ditaklukkan VOC
Namun, bagi Sedakarya, membangun Ponorogo tidak berhenti pada urusan duniawi. Ada dimensi lain yang ia anggap sama pentingnya: merawat ingatan leluhur.

Makam sebagai Proyek Sakral dan Politik Ingatan
Sebagai bangsawan Jawa yang menempatkan laku batin sebagai fondasi kepemimpinan, Pangeran Sedakarya meyakini bahwa kekuatan politik tidak pernah berdiri sendiri. Kekuasaan, dalam pandangannya, harus berakar pada restu leluhur, keteraturan kosmos, dan keseimbangan antara dunia kasatmata dan dunia gaib. Keyakinan inilah yang mendorongnya menggagas pembangunan dan penataan ulang kompleks makam para pendiri Kadipaten Ponorogo sebagai proyek sakral sekaligus politik.
Bagi Sedakarya, makam bukan sekadar tempat penguburan, melainkan ruang legitimasi. Di sanalah ingatan kolektif dirawat, silsilah ditegaskan, dan keberlanjutan kekuasaan disandarkan. Karena itu, pembangunan makam tidak dilakukan sebagai proyek elite semata. Ia mengerahkan kerja bakti masyarakat, melibatkan rakyat dari berbagai desa. Kerja kolektif ini mengandung makna ganda: secara teknis mempercepat pembangunan, secara simbolik menautkan rakyat langsung dengan warisan sejarah leluhur mereka. Rakyat tidak hanya menjadi objek kekuasaan, melainkan turut menjadi penjaga memori Ponorogo.

Wangsit Leluhur dan Keputusan Sakral
Tradisi tutur Ponorogo menempatkan proyek ini dalam bingkai spiritual yang kuat. Dikisahkan bahwa pada suatu malam, ketika Sedakarya melakukan tirakat di makam kakek-buyutnya, Raden Katong (Bathoro Katong), ia menerima sebuah wangsit. Dalam pengalaman batin tersebut, leluhurnya berpesan bahwa kemuliaan seorang penguasa dan keberlangsungan keturunannya hanya dapat terjaga apabila ia mampu memahami dan menghormati asal-usulnya. Pesan tersebut memerintahkan agar Sedakarya membangun kraton bagi para leluhur dan menata wiwara sopta, tujuh lapis pembatas sakral, sebagai penanda sekaligus pengaman ruang suci.
Wangsit ini tidak ditafsirkan secara serampangan. Sedakarya bermusyawarah dengan para sesepuh, tokoh agama, dan elite adat. Dari proses inilah lahir keputusan kolektif untuk menata kembali makam para pendiri Ponorogo, dimulai dari makam Panembahan Batoro Katong sebagai pusat sakral utama. Keputusan ini sekaligus menandai kembalinya stabilitas pemerintahan setelah masa sebelumnya mengalami kemunduran ekonomi dan melemahnya wibawa kekuasaan.

Makam Batoro Katong sebagai Pusat Kosmos
Bagian terpenting dari proyek ini adalah makam Batoro Katong yang terletak di kawasan Kedung Sentul, sebuah kedung atau bekas aliran sungai dalam yang pada masa awal berfungsi sebagai sendang tempat bersuci dan berwudu, serta berada tidak jauh dari masjid. Pemilihan lokasi ini tidak bersifat kebetulan. Menurut Babad Ponorogo, Batoro Katong sendiri berwasiat agar dimakamkan di tempat tersebut, sebagai penanda kesatuan antara air, kesucian ritual, dan proses dakwah Islam awal di Ponorogo.
Di atas makam inilah Sedakarya membangun bangunan menyerupai kraton kecil, berbentuk dapur griya limasan tanpa sungsun, dengan sebuah mahkota di puncaknya. Bentuk ini penting: bukan joglo agung yang hierarkis, melainkan limasan yang membumi, mencerminkan watak pendiri Ponorogo sebagai pemimpin dakwah dan pengayom rakyat.
Seluruh material bangunan menggunakan kayu jati yang dibiarkan dalam kondisi pasah, tidak dihaluskan sepenuhnya, melainkan hanya diratakan dengan bekas kapak atau pethelan. Pilihan ini bukan cerminan keterbatasan teknis, melainkan pernyataan estetika sekaligus ideologis bahwa kekuasaan yang sah tidak menuntut kemewahan berlebihan, tetapi menegaskan keteguhan, kejujuran material, dan keselarasan dengan alam. Para tukang bangunan didatangkan dari Demak sebagai pusat awal tradisi Islam Jawa, sementara para pengukir berasal dari Jepara yang sejak lama dikenal sebagai wilayah dengan tradisi seni ukir kayu yang mapan. Perpaduan ini mempertemukan tradisi Islam pesisir dengan kosmologi pedalaman Jawa.
Di dalam bangunan makam terdapat saka guru, tiang utama yang menjadi pusat simbolik sekaligus penanda ruang paling sakral. Di titik inilah jasad Batoro Katong ditempatkan. Ruang inti ditutup dengan gebyok, membatasi area sakral tertinggi dari ruang luar. Di luar saka guru, dimakamkan putra-putra Batoro Katong dan keturunan terdekatnya.
Penataan ini mencerminkan hierarki genealogis dan kosmologis Jawa: pusat untuk pendiri dan sumber legitimasi, lingkar luar untuk keturunan dan pelanjut kekuasaan. Ruang bukan sekadar wadah, melainkan bahasa politik yang mengajarkan siapa yang menjadi asal dan siapa yang menjadi penerus.

Gapura sebagai Tahapan Spiritual
Sebagai pelengkap struktur sakral, Sedakarya membangun tiga lapis gapura utama, yang kelak berkembang menjadi tujuh gapura dalam kompleks Makam Setono. Gapura-gapura ini tidak sekadar berfungsi sebagai pintu masuk fisik, melainkan sebagai tahapan spiritual. Setiap lapisan menuntut perubahan sikap: dari dunia profan menuju ruang suci, dari kesibukan duniawi menuju kesadaran sejarah dan spiritualitas.
Melalui sistem gapura ini, tubuh manusia didisiplinkan: kendaraan harus ditinggalkan, kepala harus ditundukkan, langkah diperlambat. Dengan demikian, setiap orang yang memasuki makam dipaksa mengalami transformasi batin sebelum berhadapan dengan leluhur pendiri Ponorogo.

Sakit, Konflik Gaib, dan Wafatnya Sang Adipati
Namun proyek sakral ini tidak mencapai penyelesaian sempurna. Di tengah proses pembangunan, Pangeran Sedakarya tiba-tiba jatuh sakit. Penyakit itu tidak dapat disembuhkan dengan cara-cara biasa. Dalam tradisi lisan, sakit ini dikaitkan dengan konflik adikodrati antara Sedakarya dan dua makhluk gaib: Samber Nyawa, penjaga Kedung Sentul, dan Patri Nyawa, penjaga Gua Sigala-gala.
Kedua makhluk ini dikisahkan sebelumnya tunduk kepada Batoro Katong. Namun Sedakarya menolak menjalin persekutuan dengan mereka. Penolakan ini menegaskan sikap ideologis Sedakarya: kekuasaan tidak boleh disandarkan pada kontrak gaib, melainkan pada legitimasi sejarah dan moral. Konflik inilah yang dipercaya menyebabkan sakitnya Sang Adipati.
Pangeran Sedakarya wafat dalam keadaan menjalankan tugas sakralnya. Ia dimakamkan di gedong luar makam Batoro Katong, tepat di sisi makam buyutnya. Penempatan ini sarat makna: ia menandai kesinambungan garis darah sekaligus pengorbanan seorang penguasa yang gugur dalam upaya menjaga keseimbangan kosmos dan kehormatan leluhur.
Menurut Babad Ponorogo, setelah wafatnya Sedakarya, kedua makhluk gaib tersebut tidak dimusnahkan, melainkan ditundukkan dan diberi tugas menjaga kawasan sakral. Patri Nyawa ditempatkan sebagai penjaga gapura, sementara Samber Nyawa tetap menjaga Kedung Sentul dan Gua Sigala-gala. Dengan demikian, kekacauan kosmis tidak dihapus, tetapi ditata dan dikendalikan.
Logika penataan inilah yang kemudian menjelma dalam ruang fisik dan lanskap sakral Ponorogo sebagai upaya menjinakkan berbagai kekuatan, baik gaib maupun sosial, melalui pengaturan ruang, penggunaan simbol, dan peneguhan hierarki. Dari titik inilah Makam Setono tidak dapat dibaca semata sebagai tempat penguburan, melainkan sebagai teks sejarah yang merekam cara kekuasaan bekerja melalui mekanisme sakralitas.

Sedakarya dan Politik Perlawanan Sunyi
Dalam perspektif historiografi kritis, Pangeran Sedakarya bukan tokoh heroik dalam pengertian militeristik. Ia tidak memimpin perang besar atau pemberontakan terbuka. Perlawanan yang ia jalankan bersifat sunyi dan struktural: melawan kemerosotan ekonomi, melawan erosi legitimasi sejarah, dan melawan kekuatan adikodrati yang dianggap mengancam tatanan moral.
Ideologi yang membentuk tindakannya berakar pada kosmologi Jawa-Islam, yang menekankan keselarasan antara manusia, alam, dan Tuhan. Spiritualitas diwujudkan melalui tirakat dan penghormatan leluhur, sementara sejarah dijadikan fondasi legitimasi kekuasaan.
Dengan membangun dan menata makam Bathoro Katong, Sedakarya menegaskan bahwa kekuasaan yang sah harus berakar pada sejarah. Ia mengikat masa kini dengan masa lalu, rakyat dengan leluhur, serta dunia profan dengan ruang sakral. Dalam kesenyapan makam Setono, politik Ponorogo menemukan bentuknya yang paling tahan lama.

Catatan Akhir: Makam sebagai Teks Sejarah yang Hidup
Makam Bathoro Katong dan Makam Setono bukan monumen bisu. Ia adalah teks sejarah yang hidup, dibaca ulang oleh setiap generasi. Di dalamnya terpatri kisah pendirian kadipaten, perjuangan sosial-ekonomi, konflik kosmis, dan laku spiritual seorang adipati.
Pangeran Sedakarya melalui proyek sakral ini mewariskan lebih dari sekadar bangunan. Ia mewariskan cara pandang tentang kekuasaan, bahwa membangun negeri berarti merawat rakyat, menghormati leluhur, dan menjaga keseimbangan kosmos. Dalam sejarah awal Ponorogo, jejaknya mungkin sunyi tetapi menentukan, sebuah fondasi yang membuat kota ini bertahan dalam arus zaman.
