Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Serba Serbi

Asal Usul Sirup Marjan,dari Kegagalan Bisnis Susu hingga Jadi Ikon Ramadan

Penulis : Mutmainah J - Editor : A Yahya

28 - Feb - 2026, 15:42

Placeholder
Sirup marjan. (Foto: Shopee)

JATIMTIMES - Ramadan telah tiba, membawa suasana yang berbeda di setiap sudut rumah. Menjelang waktu berbuka, dapur mulai ramai, meja makan ditata lebih rapi dari biasanya, dan keluarga berkumpul menanti azan magrib. Aneka hidangan manis pun disiapkan untuk mengembalikan energi setelah seharian berpuasa. Di antara kurma dan takjil lainnya, segelas sirup dingin kerap menjadi pilihan utama untuk melepas dahaga.

Di momen inilah nama Marjan sering kali hadir dalam ingatan banyak orang. Bukan sekadar minuman, sirup ini telah lama menjadi bagian dari tradisi Ramadan di Indonesia. Iklan-iklannya yang khas, botolnya yang mudah dikenali, hingga rasanya yang identik dengan suasana berbuka membuat Marjan seolah tak terpisahkan dari bulan suci. Namun di balik kepopulerannya, tersimpan kisah panjang tentang perjalanan bisnis dan ketekunan sang pendirinya.

Baca Juga : Hadapi Arus Mudik Lebaran, Pemprov Jatim Percepat Perbaikan Jalan Rusak

Lahir dari Tangan Muhammad Saleh Kurnia

Dilansir dari laman resmi PT Lasallefood Indonesia serta berbagai sumber lainnya, Sirup Marjan lahir dari gagasan seorang pengusaha keturunan Tionghoa bernama Muhammad Saleh Kurnia. Ia mendirikan pabrik minuman melalui PT Suba Indah pada tahun 1975, sebelum kemudian perusahaan tersebut dijual dan diakuisisi.

Menariknya, Marjan bukanlah produk pertama yang dibuat Kurnia. Pada awal berdirinya, PT Suba Indah justru memproduksi susu. Namun, produk tersebut kurang mendapat sambutan pasar. Kegagalan itu tidak membuatnya menyerah. Ia kemudian mengalihkan fokus usaha ke produksi sirup, hingga akhirnya lahirlah Marjan Bouduin pada 1975.

Keputusan itu terbukti tepat. Produk sirup tersebut mendapat respons positif dari masyarakat dan perlahan berkembang menjadi salah satu merek terkemuka di Indonesia.

Jiwa Dagang Sejak Kecil

Muhammad Saleh Kurnia lahir pada 1 Desember 1934. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan dunia usaha. Orang tuanya memiliki toko kelontong yang menjual barang pecah belah dan pakaian jadi, mirip konsep grocery store.

Namun, saat Kurnia berusia sembilan tahun, toko keluarganya terbakar akibat situasi pada masa pendudukan Jepang. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, keluarganya pindah ke Jakarta dan kembali merintis usaha kecil di kawasan Gang Lebar, Pintu Besar.

Di sanalah Kurnia belajar berdagang secara langsung sambil membantu orang tuanya. Pengalaman ini menjadi fondasi penting dalam perjalanan bisnisnya.

Awal Berdirinya Hero Supermarket

Pada era 1950-an, Kurnia bersama kakaknya, Wu Guo Chang, mendirikan usaha berbentuk CV dengan nama CV Hero. Usaha ini dirintis dengan modal kerja keras, keuletan, dan gaya hidup hemat.

Bisnis tersebut terus berkembang hingga pada 1973 resmi menjadi PT Hero Supermarket. Gerai pertamanya berdiri di Jalan Falatehan No. 23, Kebayoran Baru, Jakarta.

Pada era 1970-an hingga 1980-an, Hero dikenal sebagai salah satu supermarket paling sukses dan menjadi pionir konsep supermarket modern yang buka pada hari Minggu. Dengan dukungan ratusan karyawan, perusahaan ini fokus pada pengembangan teknik perdagangan dan pengelolaan sumber daya manusia.

Keberadaan jaringan Hero inilah yang turut membantu mempercepat distribusi dan pertumbuhan Sirup Marjan di pasar ritel.

Baca Juga : Keutamaan Salat Tarawih Malam ke-11 Ramadan: Diampuni Dosa dan Kembali Suci Seperti Bayi Baru Lahir

Ide Bisnis Minuman yang Berbuah Manis

Gagasan untuk mendirikan pabrik minuman datang dari rekan Kurnia, Phang Kang Hoat. Saat itu, industri minuman dalam negeri masih terbatas dan pasar Indonesia banyak bergantung pada produk impor.

Dalam autobiografinya yang berjudul Perintis Ritel Modern Indonesia: Memoar Pendiri Grup HERO (2003), Kurnia menceritakan bagaimana ia melihat peluang besar di industri minuman lokal. Meski sempat gagal dengan produk susu, ia tidak berhenti mencoba.

Peralihan ke bisnis sirup menjadi titik balik. Sejak peluncurannya, Marjan mampu bersaing meski sudah ada pemain lain di pasar.

Diakuisisi dan Berkembang Pesat

Disadur dari laman resminya, Sirup Marjan kini diproduksi oleh PT Lasallefood Indonesia yang berdiri pada 2002 setelah mengakuisisi bisnis dari PT Suba Indah.

Sejak diambil alih, perusahaan tersebut mencatat pertumbuhan signifikan. Dalam kurun waktu sekitar 18 tahun, skala usahanya disebut meningkat hingga 50 kali lipat. Produk-produknya menjadi unggulan di pasar ritel maupun sektor layanan makanan.

Marjan pun diposisikan sebagai sirup premium dengan klaim menggunakan 100 persen gula asli.

Dari Produk Lokal ke Ikon Ramadan

Kini, Sirup Marjan bukan sekadar minuman pelengkap berbuka puasa. Ia telah menjelma menjadi bagian dari tradisi Ramadan di Indonesia. Kampanye iklannya yang konsisten setiap tahun semakin menguatkan citranya sebagai “sirupnya Ramadan”.

Perjalanan panjang dari kegagalan bisnis susu hingga menjadi merek legendaris menunjukkan bahwa kesuksesan sering kali lahir dari ketekunan dan keberanian mencoba hal baru. Kisah Muhammad Saleh Kurnia menjadi bukti bahwa visi, kerja keras, dan kemampuan membaca peluang pasar dapat melahirkan produk yang bertahan lintas generasi.


Topik

Serba Serbi Marjan ramadan marjan ramadan Muhammad Saleh Kurnia



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

A Yahya