JATIMTIMES - Sorotan wali murid terkait kualitas buah dalam program Makan Bergizi Gratis atau MBG selama Ramadan mendapat tanggapan langsung dari Kepala SPPG Lowokwaru Tulusrejo 2 Kota Malang, Juffa Hannan. Ia memastikan, pemilihan buah dalam setiap paket telah melalui pertimbangan matang agar tetap layak konsumsi saat diterima siswa.
Menurut Juffa, faktor daya tahan menjadi perhatian utama, terutama pada momentum Ramadan ketika pola distribusi dan waktu konsumsi bisa berbeda dari hari biasa. Karena itu, buah seperti apel dan pir lebih sering dipilih lantaran relatif lebih tahan lama dan tidak mudah rusak selama proses pengiriman ke sekolah.
Baca Juga : SPPG di Lowokwaru Buka Rincian Harga MBG Ramadan di Kota Malang, Rp 8 Ribu hingga Rp 10 Ribu per Porsi
“Kalau untuk Ramadan, kami pilih buah yang lebih tahan lama seperti apel dan pir. Kalau memang untuk langsung dikonsumsi, biasanya anggur atau klengkeng,” ujar Juffa, Jum'at (27/2/2026).
Penjelasan tersebut sekaligus menjawab kekhawatiran sejumlah wali murid yang menilai kualitas buah dalam paket MBG perlu pengawasan lebih ketat. Mereka menyoroti risiko buah yang cepat busuk atau belum matang saat diterima siswa.
Juffa menegaskan, pihaknya tidak menutup diri terhadap kritik dan masukan. Evaluasi dilakukan setiap hari untuk memastikan kualitas dan kuantitas menu tetap terjaga. Ia juga membuka ruang komunikasi seluas-luasnya bagi sekolah maupun orang tua.
“PIC dari sekolah punya nomor saya pribadi. Jadi kalau ada keluhan atau saran, bisa langsung disampaikan. Setiap hari kami tampung dan evaluasi,” ungkapnya.
Selain persoalan buah, keluhan yang kerap muncul justru berkaitan dengan porsi makanan. Menurutnya, kebutuhan setiap siswa berbeda sehingga respons yang diterima pun beragam.
“Porsi ini memang variatif. Ada yang kebanyakan, ada yang kekurangan. Itu yang terus kami perbaiki,” imbuhnya.
Baca Juga : Keutamaan Salat Tarawih Malam ke-10 Ramadan: Raih Kebaikan Dunia dan Akhirat
Saat ini, SPPG Lowokwaru Tulusrejo 2 melayani 13 sekolah dengan total 2.678 siswa, mulai jenjang PAUD hingga SMP. Ribuan paket makanan didistribusikan setiap hari sesuai pembagian wilayah yang telah dikoordinasikan di tingkat kecamatan.
Dengan cakupan penerima manfaat yang cukup besar, pengawasan dan evaluasi rutin menjadi kunci. Pihak SPPG memastikan setiap masukan menjadi bahan perbaikan agar program MBG benar-benar memberi manfaat optimal bagi siswa.
“Kita membagikan sesuai wilayah yang kita cakup. Ini juga terus kita evaluasi dan menerima semua masukan,” ucapnya.
