JATIMTIMES - Luka bakar kronis masih menjadi tantangan serius dalam dunia kesehatan, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Proses penyembuhannya yang panjang, risiko infeksi yang tinggi, serta keterbatasan pemantauan kondisi luka sering kali menurunkan kualitas hidup pasien.
Menjawab tantangan tersebut, sekelompok mahasiswa dari Universitas Negeri Malang menghadirkan Sensguard, sebuah inovasi plester pintar berbasis sensor dan kecerdasan buatan yang dirancang untuk memantau sekaligus mendukung penyembuhan luka bakar kronis secara real time.
Inovasi ini digagas oleh Novina Suryaningtyas selaku ketua tim, bersama tim pengembang yang terdiri atas Meutya Nuraini, Sasmita Bagus Sang Kesuma Ananta, Faridhatul Husnah, dan Marshanda Maulida. Kolaborasi lintas bidang ini menjadi kekuatan utama Sensguard, karena memadukan pendekatan teknologi, kesehatan, dan sains terapan dalam satu solusi yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan lapangan.
Sensguard bukan sekadar perban penutup luka. Inovasi ini mengintegrasikan teknologi sensor suhu, kelembapan, dan pH luka yang tertanam langsung pada balutan. Sensor suhu dan kelembapan berfungsi menjaga lingkungan luka tetap optimal, sementara sensor pH berperan sebagai indikator awal adanya infeksi atau gangguan penyembuhan. Seluruh data yang diperoleh kemudian diproses menggunakan metode Artificial Neural Network (ANN), sebuah pendekatan kecerdasan buatan yang mampu mengenali pola dan perubahan kondisi luka secara akurat. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem Sensguard memiliki tingkat akurasi hingga 95% dalam mengklasifikasikan kondisi luka, baik dalam kategori normal maupun berisiko. Angka ini menunjukkan potensi besar Sensguard sebagai alat bantu monitoring luka yang lebih presisi dibandingkan metode konvensional. Melalui aplikasi pintar yang terhubung dengan perangkat, data kondisi luka dapat dipantau langsung oleh pasien maupun tenaga medis, lengkap dengan grafik perkembangan serta rekomendasi perawatan yang dapat diakses secara real time.
Keunggulan Sensguard tidak berhenti pada aspek digital. Inovasi ini juga mengombinasikan hidrogel berbahan alami yang diperkaya dengan ekstrak binahong dan madu. Kedua bahan tersebut telah dikenal memiliki sifat antiinflamasi, antimikroba, serta mampu menjaga kelembapan luka faktor penting dalam mempercepat regenerasi jaringan. Dengan pendekatan ini, Sensguard tidak hanya berfungsi sebagai alat pemantau, tetapi juga secara aktif menciptakan lingkungan penyembuhan yang lebih ideal. Dalam praktiknya, Sensguard dirancang agar mudah digunakan. Setelah plester terpasang, pengguna cukup memindai kode melalui aplikasi dan menunggu data muncul secara otomatis. Jika sistem mendeteksi kondisi luka yang mengarah pada risiko infeksi atau kekeringan berlebih, aplikasi akan memberikan peringatan dini serta rekomendasi tindakan, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.
Lebih dari sekadar inovasi teknologi, Sensguard menawarkan paradigma baru dalam perawatan luka bakar kronis, yakni perawatan yang responsif, personal, dan berbasis data. Dengan kesiapan teknologi yang telah mencapai Technology Readiness Level (TRL) 6, Sensguard memiliki peluang besar untuk dikembangkan lebih lanjut menuju implementasi klinis yang lebih luas. Ke depan, pengembangan Sensguard diharapkan dapat berkontribusi nyata dalam menekan risiko komplikasi luka bakar kronis, mengurangi beban tenaga medis, serta meningkatkan kualitas hidup pasien. Inovasi ini menjadi bukti bahwa kolaborasi mahasiswa lintas disiplin mampu melahirkan solusi kesehatan yang tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga membumi dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Penulis : Novina Suryaningtyas, merupakan Mahasiswa Universitas Negeri Malang.
