Oleh: Abror Rosi, Sekretaris Umum HMI Cabang Jember Periode 2016-2017
Milad ke-79 HMI yang digelar HMI Cabang Bondowoso kemarin terasa hangat. Banyak senyum. Banyak nostalgia. Tapi di balik itu, saya yakin semua yang hadir juga merasakan sesuatu hal, yaitu kegelisahan. Kegelisahan yang disampaikan para alumni dengan bahasa yang rapi. Halus. Tapi sebenarnya cukup menampar jika dihayati.
Baca Juga : Pimpin Apel Pagi, Mbak Wali Serahkan SK Kenaikan Pangkat, Tekankan Integritas dan Kode Etik ASN
Saya merasakan semua rangkaian ucapan alumni itu sebagai pesan cinta. Tapi cinta yang resah dan penuh kegelisahan. Berdasarkan itu semua, maka izinkan saya menitipkan beberapa catatan penting untuk pengurus cabang, komisariat dan bahkan juga sesama alumni.
Bukan untuk menggurui. Tapi saya mencoba membantu merangkum pernyataan-peryataan alumni sebagai subtansi dari perayaan milad kemarin. Saya bantu tulis sebagai bahan evalusi dan proyeksi. Tidak semua masukan dan saran bisa disampaikan dalam tulisan ini. Dikarekan bersifat non teknis dan menjaga kode etik.
Koordinator Presidium KAHMI Bondowoso, Mujiati, menyampaikan bahwa HMI Bondowoso harus segera berbenah. Menjadikan evaluasi sebagai pijakan. Memang kalimat ini sederhana. Tapi kenapa ayunda yang kadang warungnya jadi sasaran empuk kader-kader kelaparan itu menyampaikannya nyaris dengan tetesan air mata? sepertinya maknanya sangat dalam. Karena ajakan berbenah biasanya tidak lahir dari kondisi yang baik-baik saja. Lahir dari kesadaran. Ada yang perlu segera dibenahi. Artinya ada yang mulai melenceng.
Atau mungkin, ada yang mulai diabaikan. Evaluasi yang ayunda Muji maksud tentu bukan sekadar laporan kegiatan. Tapi soal arah. Soal keberanian bertanya pada diri sendiri, bahwa HMI Bondowoso sedang ke mana. Sedang untuk siapa. Dan sedang berdiri di posisi apa.
Pesan itu terasa makin tajam ketika Ady Kriesna mengatakan agar HMI tidak menjadi organisasi yang asing di kampus dan terasing di masyarakat. Susunan kata-kata dalam orasi ilmiah Ady Kriesna tentu bukan tanpa sebab. Miris memang kalau itu diasumsikan sebuah peringatan keras.
Peringatan itu bahkan harus diucapkan dengan lantas dan sangat jelas. Sepertinya itu adalah sebuah alarm. Kriesna ingin membangkitkan kesadaran bahwa HMI lahir dari kampus. Tumbuh dari kegelisahan sosial. Kalau hari ini HMI tak lagi dikenal di kampusnya sendiri, jarang hadir dalam diskursus intelektual dan tak dirasakan denyutnya oleh masyarakat, maka wajar jika alumni mulai khawatir.
Lalu Fricas Abdillah bicara soal mata air perkaderan. Ini inti. Ini jantung. Kalau perkaderan kering, HMI tinggal nama. Kanda Fricas yang selama ini dikenal sebagai sosok yang tegas, seakan ingin mengutarakan fakta yang tidak bisa ia dipungkiri, bahwa jumlah anggota aktif HMI saat ini terus tergerus. Makin sedikit.
Padahal proses rekrutmen tidak sedang tersendak. Perkembangan kampus-kampus di Bondowoso makin menjamur. LK 1 sebagai pintu awal perkaderan tetap rutin terlaksana. Bahkan ada komisariat yang mampu melakukan rekrutmen dua kali dalam satu periode kepengurusan.
Pertanyaannya, ke mana kader-kader itu setelahnya. Ini bukan soal kuantitas semata. Ini soal daya hidup organisasi. Ketika kader masuk lalu perlahan menghilang, artinya ada yang bocor dalam mesin organisasi. Bisa jadi followup-nya yang lemah. Bisa jadi ruang aktualisasinya yang sempit. Atau bisa jadi, HMI Cabang Bondowoso tidak bisa menjadi rumah yang membuat kader betah bertumbuh.
Sementara sesepuhnya anggota KAHMI, Kakanda Abrori, mengingatkan soal idealisme dan intelektualitas. Dua hal yang hari ini sering diuji. Bahkan digoda. Zaman bergerak cepat. Pragmatismenya kejam. Kalau kader HMI kehilangan idealisme, maka intelektualitas akan menjadi dingin. Kalau kehilangan nurani, maka logika bisa berubah jadi alat pembenaran.
Di sinilah HMI seharusnya berdiri, menjaga keseimbangan, menjadi bagian dari civil society, menjadi kontrol sosial, bukan sekadar penonton atau pelengkap kekuasaan.
Saat mengurai kalimat demi kalimat yang diucapkan alumni, sebenarnya saya ingin menyampaikan pandangan pribadi. Membuka historis kekhawatiran saya dan beberapa teman saat ada wacana pemekaran Cabang Persiapan Bondowoso-Situbondo dari Cabang Jember sekiar 10 tahun silam. Namun saya urungkan. Nasi sudah jadi bubur. Sebaiknya mari kita bumbui bubur ini dengan optimisme. Mari kembali ke pembahasan.
Pertama, segera evalusi sistem follow up perkaderan. Sebab, follow up adalah fase krusial dalam kontrol kader untuk memaksimalkan potensi, sekaligus mengubah pola pikir dari peserta latihan kader menjadi penggerak roda organisasi. Mungkin teman-teman alumni mantan anggota BPL yang jauh labih kompeten memperinci hal ini.
Kedua, upaya menguatkan budaya literasi dan diskusi. Budaya baca buku, diskusi, penulisan gagasan dan aksi atau gerakan di kampus harus menjadi menu makanan sehari-hari. Karena itu pintu awal untuk mengenal teori, mengetahui sejarah, mengasah daya kritis dan menumbuhkan kepekaan sosial. Jika budaya itu benar-benar dilestarikan, maka kader dipastikan akan merasa terpanggil untuk mewarnai dinamika kampus. Akan menjadi sorotan saat diskusi presentasi di dalam ruang kelas. Menjadi problem solver atas persoalan isu-isu kemahasiswaan yang sedang terjadi.
Dengan pola seperti itu, atmosfer kampus sebagai miniatur pemerintahan dan negara akan benar-benar dirasakan sebelum terjun ke tengah-tengah masyarakat. Di sisi lain, kader HMI akan menjadi magnet bagi mahasiswa kupu-kupu untuk juga ikut berhimpun. Ini konteks komisariat.
Ketiga, memperluas ruang aktualisasi kader sesuai potensi minat dan bakatnya. Kader tidak untuk diseragamkan. Terkecuali soal ideologi seperti nilai keislaman dan keindonesian, nilai dasar perjuangan dan independensi. Mereka datang dengan latar belakang berbeda, minat, bakat, dan kapasitas yang berbeda-beda.
Maka tugas HMI bukan memaksa semua prosesnya berjalan di jalur komisariat jika bidang-bidang dalam kepengurusan banyak memiliki keterbatasan. Bila mampu, rangsang kader-kader untuk menciptakan wadah atau komunitas sesuai dengan bakatnya. Sajikan etalase eksternal agar setiap kader bisa tumbuh dengan bermodalkan bakatnya.
Baca Juga : Tiket Kereta Arus Balik Lebaran 2026 Mulai Dijual, Ini Jadwal Lengkap dan Cara Pembatalannya
Potensi kader, baik di bidang akademik, kepemimpinan, olahraga, seni, dan kewirausaan, harus diupayakan diberi tempat. Ketika dinamika komisariat dan cabang tidak maksimal dalam memberikan ruang aktualisasi, ruang kompetisi, maka dorongan kuat distribusi kader ke unit kegiatan mahasiswa maupun komunitas di luar harus dimaksimalkan.
Di luar lingkungan HMI dan kampus bertebaran komunitas baca dan diskusi, komunitas seni, sosial, olahraga, pecinta lingkugan dan lain-lain. Di titik inilah HMI dituntut fleksibel, tanpa kehilangan nilai. Adaptif, tanpa meninggalkan jati diri sebagai kader.
Keempat, alumni perlu hadir lebih aktif sebagai pendamping, bukan hanya penonton yang sesekali mengkritik dari jauh. Ketika masa keanggotaan selesai, tanggung jawab tidak serta-merta berakhir. Dari penggerak harian menjadi penopang yang menguatkan dari belakang.
Di titik inilah peran alumni seharusnya dimaknai. Yang diharapkan tidak hanya membawa kritik. Menyampaikan penilaian. Lalu pergi. Kader tidak kekurangan kritik. Yang mereka butuhkan justru teman berpikir. Selama ini, diakui atau tidak, sebagian alumni hadir hanya dalam tiga momentum: ketika ada acara seremonial, ketika ada masalah, yang dua ini masih bagus, yang miris yang ke tiga, adanya hanya karena kepentingan suatu pekerjaan.
Pendampingan alumni bukan untuk mengendalikan. Bukan mengambil alih peran adik-adik HMI. Tapi mengingatkan ketika mulai melenceng. Menguatkan ketika semangat mulai goyah. Sebab banyak persoalan organisasi hari ini bukan karena kader tidak mampu, melainkan karena mereka kekurangan penunjuk arah.
HMI Bondowoso masih memiliki kader yang cerdas dan berani. Yang kurang adalah jembatan antar generasi. Alumni seharusnya menjadi jembatan itu. Ketika alumni hadir sebagai pendamping, kritik akan berubah menjadi energi. Menjadi koreksi yang membangun. Menjadi nasihat yang bisa diterima dengan lapang dada. Pada akhirnya, masa depan HMI tidak hanya ditentukan oleh seberapa militan kader hari ini, tetapi juga oleh seberapa ikhlas alumni membersamai, menjaga dan merawatnya.
HMI Bondowoso masih punya energi. Punya harapan besar. Tapi harapan itu hanya akan hidup jika kegelisahan ini dijadikan bahan bakar perubahan. Bukan sekadar dibicarakan di forum milad, lalu dilupakan begitu acara selesai. Kami para alumni tidak menuntut kesempurnaan. Kami hanya berharap satu hal, HMI Bondowoso tetap punya rumah, di kampus, di masyarakat, dan di hati kader-kadernya sendiri.
*Seluruh isi artikel opini/tulisan lepas merupakan tanggung jawab penulis secara hukum dan moral. Media tidak bertanggung jawab atas akurasi atau dampak yang ditimbulkan
