MALANGTIMES - Beberapa petani tomat di Kota Batu mengeluh akibat harganya anjlok hingga Rp 500 per kilogramnya.
Baca Juga : Pertama Kalinya di Malang Ada Studio Apartemen Luas Harga Termurah Hanya di Kalindra
Karena harganya yang anjlok itu petani memilih untuk tidak dipanen atau membongkar.
Seperti halnya Pujianto petani yang memiliki lahan di Dusun Sumbersari Desa Sumberejo Kecamatan Batu.
Ia memilih untuk membongkar tomat yang sudah siap untuk dipanen.
“Bahkan sebagian petani memilih untuk membongkar tanaman tomat yang masih berbuah ketimbang memanen,” ungkap Pujianto, Kamis (15/11/2018).
Alasannya rela membongkar tanaman tomat yang masih berbuah lebat itu untuk dibuat pupuk di sawahnya ketimbang memanennya.
Sebab jika dipanen justru tidak mendapat untung.
“Bahkan bisa tambah buntung karena harga jualnya hanya Rp 500 per kilogram atau sekitar Rp 25 ribu perkotak dengan berat 60 sampai 70 kilogram,” imbuhnya.
Jika dipanen, lanjut Pujianto, untuk proses panen butuh tenaga membayar pegawai.
Baca Juga : Tips Aman Ambil Uang di Mesin ATM Saat Pandemi Covid-19
Belum lagi untuk membeli kotak kayu atau peti yang biasa di gunakan untuk tempat buah tomat yang harganya sekitar 12 ribu per peti.
Menuru Pujianto, idealnya petani masih bisa mendapat untung jika harga tomat minimal Rp 2 ribu perkilo.
Namun jika harga tomat sampai dibawah Rp 1.000 sudah bida dipastikan petani bakal merugi.
Terlebih dari biaya awal yang dikeluarkan untuk membeli bibit menanam sampai merawat cukup besar biaya yang dikeluarkan. Karena itu ia memilih untuk memanfaatkan jadi pupuk.
Terpisah, Samsul petani Kelurahan Sisir Kecamatan Batu lebih memilih untuk membiarkan tomat berada di lahan pertaniannya hingga mati.
“Ini saya biarkan sekalian mati saja. Percuma kalau dipanen harganya murah gak sebanding sama modalnya,” kata Samsul.
