JATIMTIMES - Wilayah Kota Wisata Batu mengalami musim hujan sejak awal tahun. Cuaca tak menentu dalam beberapa pekan terakhir memicu sejumlah penyakit. Salah satunya demam berdarah dengue (DBD) yang ditemukan hingga puluhan kasus pada warga Kota Batu.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu menyampaikan temuan kasus DBD ini perlu menjadi perhatian agar tidak semakin menyebar. Pasalnya, sejak awal Januari sampai dengan 23 Februari 2025 tercatat ada sebanyak 23 kasus DBD.
Baca Juga : Studi Menarik, Begadang dan Kurang Tidur Bikin Susah Kenyang dan Lapar Terus

"Kasus ini ditemukan di beberapa wilayah di Kota Batu yang diketahui pada tahun 2024 lalu sudah pernah terjangkit DBD," ujar Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit, dan Penanganan Bencana Dinkes Kota Batu, dr Susana Indahwati, Minggu (23/2/2025).
Susana mengatakan, temuan tersebut menunjukkan kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat menjadi faktor penting untuk mengatasi DBD. Apalagi dengan kondisi cuaca yang tidak menentu seperti saat ini, hujan dan panas ini meningkatkan risiko nyamuk penyebar virus dengue berkembang biak cepat.
"Maka dari itu kewaspadaan terhadap kasus DBD harus ditingkatkan," katanya.
Tak Hanya DBD, Kasus Chikungunya Juga Serang Warga
Selain DBD, Dinkes Kota Batu juga menemukan ada 8 kasus Chikungunya yang ada di Desa Giripurno, RT47 RW 7, Kecamatan Bumiaji. Penyakit yang juga ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti ini memiliki gejala khas. Seperti mengalami nyeri dan bengkak pada persedian.
Untuk menekan DBD, Dinkes dan Puskesmas terus berupaya melakukan upaya pencegahan dan pengendalian dengan berbagai cara. Di antaranya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk waspada terhadap DBD dalam kegiatan lapangan maupun melalui media sosial.
Di samping itu, Dinkes menyediakan Abate, atau pestisida yang digunakan untuk membasmi jentik nyamuk penyebab DBD. Abate juga disediakan bagi masyarakat, bisa didapatkan dengan menghubungi Puskesmas/ Desa/Kelurahan terdekat.
Dikatakan Susana, DBD adalah penyakit yang sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim dan lingkungan. di musim hujan dan pancaroba adalah kondisi ideal nyamuk sebagai penular virus berkembang biak.
Baca Juga : RSUD Besuki Diduga Teledor, Tenaga Medis Berisiko Terinfeksi Penyakit Menular
Ia mengimbau masyarakat melakukan pemberantasan sarang naymuk (PSN) di lingkungan masing-masing minimal di rumah sendiri. Yakni dengan memantau dan memastikan tempat-tempat yang dapat menampung air di dalam ataupun luar rumah aman dari jentik.
Selain itu, sambungnya, masyarakat perlu menjaga daya tahan tubuh agar tidak mudah terserang penyakit dengan cara konsumsi makanan bergizi seimbang, kelola stress dan istirahat cukup. Disarankan, masyarakat segera memeriksakan diri ke sarana pelayanan kesehatan apabila mengalami demam lebih dari 3 hari untuk mencegah keparahan penyakit.
Susana juga meminta kepada masyarakat dalam wilayah sama dalam waktu berdekatan mengalami gejala nyeri dan bengkak pada persendian serta ditemukan jentik nyamuk, bisa segera melapor ke Puskesmas terdekat.
"Jika menemukan gejala itu, warga melaporkan pada Puskesmas terdekat serta harus melakukan PSN untuk mencegah penularan Chikungunya maupun DBD yang lebih luas," tutupnya.
