Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

CEO Telegram, Pavel Durov Ditangkap di Prancis: Apa yang Terjadi?

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Nurlayla Ratri

25 - Aug - 2024, 13:17

Placeholder
CEO Telegram Pavel Durov. (Foto: Instagram @durov)

JATIMTIMES - Pavel Durov, pendiri sekaligus CEO aplikasi perpesanan Telegram, ditangkap di Bandara Bourget, dekat Paris, pada Sabtu (24/8) malam. Penangkapan ini dilakukan oleh pihak berwenang Prancis berdasarkan surat perintah yang diterbitkan terkait penyelidikan yang sedang berlangsung. Informasi ini diungkapkan oleh media lokal Prancis, TF1 TV dan BFM TV, yang mengutip sumber anonim.

Durov, miliarder keturunan Rusia-Prancis, ditangkap saat sedang bepergian dengan jet pribadinya. TF1 melaporkan bahwa penangkapan ini berkaitan dengan penyelidikan yang berfokus pada kurangnya pengawasan konten di Telegram. 

Baca Juga : Resmi Dilantik Bersama Anggota Baru, Fraksi PKS DPRD Kota Malang Komitmen Kawal Isu Strategis

Melansir Reuters, Minggu (25/8), polisi menilai bahwa kurangnya pengawasan ini memungkinkan terjadinya aktivitas kriminal di aplikasi perpesanan tersebut. Penyidik menganggap bahwa Telegram, sebagai aplikasi perpesanan terenkripsi, memfasilitasi komunikasi tanpa pengawasan, yang diduga mempermudah kegiatan ilegal.

Durov kemungkinan akan menghadapi dakwaan pada hari Minggu (25/8), berdasarkan laporan dari media Prancis. Namun, hingga saat ini, Telegram belum memberikan pernyataan resmi terkait penangkapan CEO-nya. Begitu juga dengan Kementerian Dalam Negeri dan kepolisian Prancis yang belum mengomentari soal penangkapan Durov tersebut.

Diketahui, Telegram adalah salah satu aplikasi perpesanan yang paling banyak digunakan di dunia, dengan hampir satu miliar pengguna. Aplikasi ini memiliki pengaruh besar, terutama di wilayah Rusia, Ukraina, dan negara-negara bekas Uni Soviet. Di samping Facebook, YouTube, WhatsApp, Instagram, TikTok, dan WeChat, Telegram dipandang sebagai salah satu platform media sosial terkemuka.

Keunikan Telegram terletak pada enkripsinya yang kuat, yang memungkinkan pengguna berkomunikasi secara aman tanpa mudah diakses oleh pihak ketiga. Hal ini menjadikan Telegram populer di kalangan individu atau kelompok yang mencari privasi lebih dalam berkomunikasi. Namun, di sisi lain, fitur ini juga dikritik karena dianggap memfasilitasi aktivitas kriminal akibat kurangnya pengawasan.

Perjalanan Pavel Durov sebagai Pengusaha Teknologi

Pavel Durov, lahir di Rusia, mendirikan Telegram bersama saudaranya pada tahun 2013. Sebelumnya, ia mendirikan platform media sosial VKontakte, yang sangat populer di Rusia. 

Namun, pada tahun 2014, Durov meninggalkan Rusia setelah menolak permintaan pemerintah untuk menutup komunitas oposisi di VKontakte. Keputusannya untuk menolak perintah ini berujung pada penjualan VKontakte dan pengasingannya dari Rusia.

"Saya lebih suka bebas daripada menerima perintah dari siapa pun," kata Durov dalam sebuah wawancara dengan jurnalis AS, Tucker Carlson, pada April. 

Setelah meninggalkan Rusia, Durov mencari tempat baru untuk mendirikan kantor pusat perusahaannya, yang sempat berpindah-pindah dari Berlin, London, Singapura, hingga San Francisco.

Telegram dan Peran dalam Konflik Rusia-Ukraina

Baca Juga : Dua Pengendara Motor di Tulungagung Dilarikan ke RS Akibat Pohon Roboh

Setelah Rusia melancarkan invasinya ke Ukraina pada tahun 2022, Telegram menjadi salah satu sumber utama konten terkait perang yang tidak difilter, baik dari pihak Rusia maupun Ukraina. Banyak informasi tentang perang, baik yang akurat maupun menyesatkan, disebarkan melalui Telegram. 

Platform ini bahkan dijuluki sebagai "medan perang virtual" karena digunakan oleh kedua belah pihak untuk menyebarkan informasi dan propaganda.

Telegram menjadi alat penting bagi Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy, dan pejabat pemerintah Ukraina untuk menyampaikan pesan-pesan politik serta perkembangan terbaru tentang konflik tersebut. 

Di sisi lain, pemerintah Rusia juga menggunakan platform ini untuk kepentingan mereka. Telegram, yang memungkinkan pengguna menghindari pengawasan resmi, menjadi salah satu dari sedikit platform di mana warga Rusia masih bisa mengakses berita independen terkait perang, meskipun Kremlin terus memperketat pembatasan pada media independen di negara tersebut.

Kementerian Luar Negeri Rusia segera bereaksi atas penangkapan Durov di Prancis. Pihaknya menyatakan bahwa kedutaan besar Rusia di Paris sedang mengklarifikasi situasi terkait penangkapan ini dan meminta organisasi non-pemerintah Barat untuk menuntut pembebasan Durov. 

Sampai saat ini, belum ada kabar lebih lanjut mengenai langkah yang akan diambil oleh pemerintah Rusia dalam menangani kasus ini.


Topik

Peristiwa Telegram Pavel Durov Prancis



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Nurlayla Ratri