MALANGTIMES - Menteri memiliki kedudukan strategis dalam pemerintahan Indonesia. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara serta untuk menjamin terselenggaranya tugas pemerintahan, di Pasal 17 disebutkan presiden dibantu menteri-menteri negara. Artinya, orang yang duduk dalam kursi kementerian selama ini bukan sekadar mendapat kepercayaan, namun juga diakui kemampuannya.
Baca Juga : Tiga Tenaga Kesehatan Positif Covid-19 di Kota Malang Sembuh
Di Indonesia, pemilihan menteri selalu dilakukan dalam berbagai kesempatan. Antara lain putra daera. Nah, putra daerah dari berbagai penjuru negeri pun memiliki kesempatan menduduki kursi tersebut.
Dari sekian banyaknya nama dalam kabinet yang berbeda, tercatat nama-nama menteri yang berasal dari Malang. Mereka pun memiliki pengaruh yang besar dan tercatat dalam lembaran sejarah negeri ini. Siapa saja mereka?
Pertama ada KH Masjkur. Tokoh perjuangan nasional ini namanya banyak dikenal oleh berbagai kalangan. Selama masa perjuangan, pria yang lahir di Singosari, Kabupaten Malang, itu memiliki pengaruh besar untuk melepaskan Indonesia dari cengkeman Belanda dan Jepang di Indonesia, utamanya di Malang sendiri.
KH. Masjkur
Sehingga Masjkur dipercaya untuk menduduki jabatan sebagai menteri agama di Indonesia dalam beberapa periode. Pendiri Pondok Pesantren Misbahul Wathan Singosari itu pun secara berturut-turut menjabat sebagai menteri agama pada Kabinet Amir Syarifuddin (1947), Kabinet Presidensil Moh. Hatta (1948), Kabinet VII Negara RI, Kabinet Darurat dan Komisariat PDRI (1949), Kabinet Hatta (1949) dan Kabinet Peralihan RI.
Meski begitu, Masjkur sebelumnya sempat mudur dari jabatannya tersebut. Namun pada masa Kabinet Ali (1953-1955), dia kembali menduduki jabatannya tersebut. Menariknya, pria yang wafat pada usia 89 tahun itu selalu aktif dalam upaya gerilya mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Bukan hanya itu. KH Majkur dikenal sebagai panglima Laskar Sabilillah. Dia juga pernah menduduki berbagai posisi penting lainnya. Yaitu ketua Dewan Presidium Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, anggota Syou Sangkai (DPRD) pada masa pendudukan Jepang, anggota PPKI dan konstituante yang merumuskan dasar negara, dan pada periode 1978-1983 sempat menjadi wakil ketua DPD RI.
Menteri selanjutnya yang juga lahir di Malang adalah Jenderal TNI (Purn) Rudini yang menjabat sebagai menteri dalam negeri dalam Kabinet Pembangunan V (1988-1993). Ia merupakan seorang jenderal bintang empat yang memulai karir politiknya dalam jajaran pemerintah Orde Baru dan bertahan hingga era reformasi.
Menteri Dalam Negeri Kabinet Pembangunan, Jenderal TNI (Purn.) Rudini
Pria kelahiran 15 Desember 1929 ini pernah menjabat sebagai panglima Kodam XIII/Merdeka (1978), panglima Kostrad (1981) dan kepala Staf Angkatan Darat (1983-1986). Dia juga dipercaya sebagai ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) (1999-2001) yang bertugas sebagai penyelenggara Pemilu 7 Juni 1999.
Selanjutnya ada Menteri Tenaga Kerja (1983-1988) Laksamana TNI (Purn) Sudomo yang yang juga lahir di Malang pada tahun 1926. Petinggi militer di masa Orde Baru ini pun juga sempat menjabat sebagai menko polkam pada tahun 1988-1993. Sudomo juga pernah menjadi ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) (1993-1998).
Menteri Tenaga Kerja (1983-1988), Laksamana TNI (Purn.) Sudomo
Kemudian ada Tungki Ariwibowo yang merupakan menteri perindustrian dan perdagangan periode 1993-1998. Sebelumnya, pria kelahiran Malang itu menjabat sebagai staf Departemen Perindustrian (1967-1972), direktur Direktorat Jenderal Logam dan Mesin Departemen Perindustrian (1972-1975), ketua Tim Koordinator Kawasan Industri dan Wakil Ketua Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam, serta wakil ketua Tim Koordinasi Pembangunan Provinsi Riau.
Menteri Perindustrian dan Perdagangan Tungki Ariwibowo
Tokoh selanjutnya adalah Abdul Malik Fadjar, Muhammad Tholchah Hasan, hingga Muhadjir Effendy. Ketiga nama ini memang bukan tokoh yang lahir di Malang. Namun ketiganya sosok yang berpengaruh di Kota Malang dalam periode yang berbeda.
Abdul Malik Fajar
Abdul Malik Fadjar sendiri pernah menjabat sebagai menteri agama Indonesia periode 1998 hingga 1999. Dia kemudian menjadi menteri pendidikan nasional pada Kabinet Gotong Royong serta menteri koordinator bidang kesejahteraan takyat Indonesia pada 2004. Kini, ia dipercaya sebagai salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) dalam masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Baca Juga : Tanggap Covid-19, Fraksi PKS DPRD Kota Malang Bagikan Ratusan APD ke Petugas Medis
Sebelumnya, Malik Fadjar merupakan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada periode 1983 hingga 2000. Ia adalah lulusan tahun 1972 dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Malang.
Muhammad Tholchah Hasan
Selanjutnya adalah Menteri Agama pada Kabinet Persatuan Nasional Muhammad Tholchah Hasan (1999-2001). Pria kelahiran Tuban, Jawa Timur, itu lama menetap di Malang dan meraih gelar sarjana di Universitas Merdeka Malang. Sebelum ditunjuk menjadi menteri, politikus dari Partai Kebangkitan Bangsa ini menjabat sebagai rektor di Universitas Islam Malang (Unisma) sampai dengan 1998.
Muhadjir Effendy
Terakhir adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy. Pria kelahiran tahun 1956 ini sudah lama menetap di Kota Malang. Sebelum menggantikan Anies Baswedan, pria berkacamata tersebut merupakan rektor Universitas Muhammadiyah Malang tiga periode, yaitu tahun 2000 hingga 2016. (*)
