Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Serba Serbi

Sunan Prapen dan Ramalan Kejayaan Mataram yang Tak Terbantahkan

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Dede Nana

18 - May - 2024, 08:54

Sketsa: Sunan Giri Prapen dan penggambaran awal Desa Mataram yang beribu kota di Kotagede.(Foto: Ist)
Sketsa: Sunan Giri Prapen dan penggambaran awal Desa Mataram yang beribu kota di Kotagede.(Foto: Ist)

JATIMTIMES - Di momen libur akhir pekan, kompleks Makam Raja Kotagede di Kotagede, Yogyakarta menjadi tempat yang ramai. Peziarah dari berbagai pelosok negeri mengalir menuju tempat ini untuk menghormati dan mendoakan para raja-raja Mataram Islam pertama dan kedua serta kerabat mereka. 

Dengan mengenakan pakaian adat Jawa lengkap, mereka memasuki kompleks ini dengan penuh rasa khusyuk dan penghormatan, mengikuti tradisi yang telah berlangsung berabad-abad.

Baca Juga : Turun ke Jalan, Jurnalis Blitar Gelar Aksi Tolak Revisi UU Penyiaran

Saat memasuki area pemakaman, mereka didampingi oleh seorang abdi dalem keraton yang setia, membimbing mereka melalui setiap langkah dalam ritual ziarah ini. Para peziarah berhenti di pusara makam Panembahan Senopati, pendiri Mataram Islam, dan ayahnya Ki Ageng Pamanahan. Di tengah keheningan yang hampir sakral, mereka melantunkan doa-doa untuk kesejahteraan roh para leluhur yang dihormati ini, serta memohon berkah dan perlindungan.

Namun, kepadatan ini tidak hanya disebabkan oleh peziarah dari daerah sekitar. Di antara mereka, terdapat pula rombongan khusus dari Madiun, yang datang dengan tujuan ziarah yang lebih spesifik. Mereka memilih untuk berkunjung ke makam Retno Dumilah, permaisuri Senopati, yang juga dimakamkan di kompleks ini. Meskipun jaraknya cukup jauh, keinginan mereka untuk berbagi dalam momen keagungan dan kesucian ini tak terbendung.

Kompleks Makam Raja Kotagede, atau yang dikenal sebagai Pasarean Hastana Kitha Ageng, menjadi saksi bisu dari aliran emosi dan spiritualitas yang mengalir deras dari ribuan peziarah yang berdatangan.

Dikelilingi oleh tembok batu bata, dengan tembok timur yang menyatu dengan Masjid Agung Kotagede, kompleks ini terbuka untuk semua yang ingin datang dan berziarah, terutama pada hari-hari tertentu yang sarat makna seperti hari raya Idul Fitri. Sebagai titik temu antara masa kini dan masa lalu, kompleks ini tetap menarik minat masyarakat, memupuk penghormatan yang tak terlupakan bagi leluhur dan tradisi agung mereka.

Di tengah gemuruh suara langkah kaki dan getaran doa yang terdengar di udara, aktivitas ziarah di kompleks Makam Raja Kotagede di Kotagede, Yogyakarta, menjadi pemandangan yang tak terlupakan. Setiap peziarah membawa harapan, kekhusyukan, dan rasa hormat yang mendalam saat mereka memulai perjalanan spiritual mereka.

Saat sampai di makam, langkah pertama mereka adalah membakar dupa, menghembuskan harum wangi yang menyebar ke sekitar. Sementara asap tipis naik ke langit biru, mereka membaca Al Fatihah dengan suara merdu, memohonkan rahmat dan keberkahan bagi para leluhur yang mereka ziarahi. Setelah itu, dengan mata tertutup rapat dalam konsentrasi, mereka bersemedi, menciptakan ruang untuk menyatu dengan kehadiran spiritual yang ada di sekeliling mereka.

Di bawah sinar matahari yang lembut, gerakan-gerakan mereka menjadi serasi dengan bunyi gemericik air dan kicauan burung yang mengisi udara. Setiap gerakan, setiap doa, setiap detik yang dilewati di tempat ini terasa seperti sebuah pengalaman yang magis dan penuh makna. Dalam momen-momen ini, peziarah tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga menemukan kedamaian dan kekuatan dalam koneksi spiritual mereka dengan leluhur dan kebesaran yang lebih tinggi.

Saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat, para peziarah meninggalkan kompleks tersebut dengan hati yang penuh ketenangan dan rasa puas. Mereka membawa pulang kenangan yang tak terlupakan dari pengalaman ziarah yang kaya akan spiritualitas dan kehormatan. Bagi mereka, setiap langkah yang diambil di kompleks Makam Raja Kotagede adalah sebuah langkah menuju kedamaian dan pencerahan yang lebih dalam dalam perjalanan rohani mereka.

Itulah makam raja Mataram di Kotagede, sebuah peninggalan megah dari kerajaan Mataram Islam dan tempat peristirahatan terakhir dari Panembahan Senopati. Senopati, yang juga dikenal sebagai Danang Sutawijaya, adalah tokoh yang monumental dalam sejarah Jawa karena berhasil "menggulingkan" kekuasaan Pajang dan Joko Tingkir untuk kemudian membangun kekaisaran Mataram Islam yang kuat dan stabil.

Namun, di balik keperkasaan Senopati, ada figur yang tak kalah pentingnya, yaitu Sunan Giri Prapen. Sunan Prapen, yang merupakan tokoh agama dan pemimpin spiritual di Giri, memberikan dukungan moral dan spiritual kepada Senopati dalam perjuangannya merebut kekuasaan. Melalui nasihat, doa, dan dukungan moralnya, Sunan Prapen turut berperan dalam memastikan keberhasilan Senopati dalam meraih posisi penguasa Jawa yang agung.

Meskipun tak selalu mencuat dalam sejarah secara terang-terangan, peran Sunan Giri Prapen dalam kejayaan Senopati sebagai penguasa Jawa adalah salah satu contoh nyata dari keterkaitan antara kekuasaan politik dan otoritas spiritual pada masa itu. Dengan kerjasama yang kokoh antara kekuasaan dunia dan spiritualitas, mereka berhasil menciptakan fondasi yang kokoh bagi kekaisaran Mataram yang menjadi salah satu kekuatan dominan di Nusantara pada zamannya

Sunan Prapen, nama yang mengilhami kekaguman dan kisah kebesaran dalam sejarah Kerajaan Giri Kedaton, memerintah dari tahun 1548 hingga 1605 Masehi. Dialah penguasa keempat dari dinasti yang mulia ini, turun temurun dari keturunan Sunan Giri dan Sunan Dalem.

Lahir dengan nama Muhammad Fadlullah, Sunan Prapen dijuluki juga dengan gelar Raden Mas Pratikal atau Sunan Giri IV. Lukisan potretnya menggambarkan kearifan dan kebesaran seorang pemimpin yang memerintah dengan bijak dan keadilan.

Meskipun memerintah sebagai seorang raja, Sunan Prapen juga dikenal sebagai seorang Waliyullah, seorang pendakwah yang gigih, dan penyebar ajaran Islam yang tulen. Ia merupakan salah satu dari Wali Songo yang mengabdikan hidupnya untuk menyebarkan kebenaran Islam di Nusantara.

Keilmuannya tidak terbatas pada ranah keagamaan saja. Sunan Prapen juga dikenal sebagai seorang pujangga besar di masanya. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah kitab Musarar, yang kemudian menjadi dasar penyusunan Jangka Jayabaya, sebuah naskah yang dipercayai sebagai ramalan masa depan.

Jangka Jayabaya merupakan sebuah karya dalam tradisi Jawa yang diyakini ditulis oleh Raja Jayabaya dari Kerajaan Kediri. Karya ini terkenal di kalangan masyarakat Jawa dan diwariskan secara turun-temurun oleh para pujangga. Sumber utama Jangka Jayabaya ditemukan dalam kitab Musasar yang digubah oleh Sunan Prapen dari masa Giri Kedaton. Meskipun terdapat banyak keraguan mengenai keasliannya, bait pertama kitab Musasar dengan jelas menyebutkan bahwa Jayabaya adalah penulisnya.

Namun, jasa Sunan Prapen tidak hanya terbatas pada bidang agama dan kebudayaan. Dia juga memiliki keahlian dalam pembuatan keris, yang membuatnya dihormati sebagai seorang mpu keris. Salah satu karyanya yang paling melegenda adalah keris Angun-angun, yang tidak hanya menjadi senjata yang mematikan tetapi juga menjadi simbol kekuatan dan keanggunan dalam tradisi seni bela diri Nusantara.

Setelah wafatnya pemimpin ketiga Kedatuan Giri pada tahun 1548, Sunan Seda-Ing-Margi, tampuk kepemimpinan digantikan oleh saudaranya sendiri, yang kemudian dikenal dengan nama anumerta Sunan Prapen, mengacu pada tulisan nisan di tempat makamnya.

Menurut catatan sejarawan Samuel Wiselius dalam karyanya yang berjudul "Historisch" pada tahun 1570, Sunan Prapen juga dikenal dengan nama Sunan Raden Mas Pratikal selama masa pemerintahannya.

Sunan Prapen tidak hanya menjadi pemimpin, tetapi juga tokoh agama yang sangat berpengaruh di Kedatuan Giri. Selama masa kepemimpinannya yang berlangsung dari tahun 1548 hingga 1605, ia memberikan kontribusi besar dalam pengembangan dan penyebaran agama Islam. Jejak dakwahnya tidak hanya terbatas di Jawa Timur dan Jawa Tengah, tetapi juga meluas ke sepanjang pantai pulau-pulau Nusantara bagian timur.

Sunan Prapen terkenal sebagai tokoh yang sangat aktif, tidak hanya di Jawa tetapi juga sampai ke pulau-pulau Nusantara. Di Lombok, ia dipercaya oleh masyarakat Sasak telah berperan dalam penyebaran Islam di sana. Konon, penduduk Lombok dipaksa untuk memeluk agama baru, yang menyebabkan Raja Lombok memindahkan istananya ke Selaparang. Kemungkinan, keterlibatan Sunan Prapen juga berkaitan dengan upaya penyebaran Islam di Bali, sebagaimana diceritakan dalam Kidung Pamancangah.

Pada paruh kedua abad keenam belas, Giri atau Gresik mencapai puncak kejayaannya sebagai pusat peradaban pesisir Islam dan pusat ekspansi Jawa di bidang ekonomi dan politik di Indonesia Timur. Kisah setempat mencatat bahwa setahun setelah mulai berkuasa, Sunan Prapen membangun sebuah keraton yang menjadi lambang kebesaran Islam di Jawa pada masa itu.

Sunan Prapen memilih untuk tidak terlalu terlibat dalam politik pedalaman Jawa Tengah. Fokus utamanya adalah memperluas pengaruh spiritual dan kekayaan, sambil mengembangkan hubungan perdagangan melalui jalur laut ke arah timur. Dalam catatan tarikh Jawa dari tahun 1548 hingga 1552, tercatat perjalanan raja Giri ke Kediri sebagai bagian dari upaya ekspansi ini.

Meskipun begitu, nama Sunan Prapen tetap dianggap menjadi tokoh kunci dalam pembentukan Kerajaan Mataram Islam. Ini karena ramalannya yang terbukti sangat akurat, bahkan mencapai tingkat seratus persen. Keakuratannya dalam meramal tidak hanya mengukuhkan reputasinya sebagai pemimpin spiritual yang dihormati, tetapi juga memberinya pengaruh yang signifikan dalam arus peristiwa politik pada masa itu.

Baca Juga : Beredar Kabar, Polda Jatim Selidiki Dugaan Korupsi Pabrik Pupuk dan Alih Fungsi Lahan di Jember

Ramalan Sunan Prapen tentang lahirnya Negara Mataram yang dipimpin keturunan Ki Ageng Pamanahan, telah dicatat dalam dua naskah penting, yaitu Babad Tanah Djawi dan Serat Kandha. Dalam kedua naskah tersebut, ramalan tersebut dipercayai sebagai bukti kebijaksanaan dan kebijakan spiritual Sunan Prapen yang luar biasa. Dalam Babad Tanah Djawi (70-72), digambarkan peristiwa penting berikut: Sultan Pajang (Sultan Hadiwijaya/Joko Tingkir) beserta seluruh tentaranya berangkat ke Giri untuk memohon restu dari Sunan Prapen, yang bertindak sebagai penguasa di Giri. Raja Pajang datang bersama Ki Ageng Mataram (Pamanahan) dan bupati-bupati dari berbagai daerah Jawa.

Saat tiba di Giri, Sunan Prapen keluar dari istana untuk disambut dengan penghormatan dan puja-puji. Raja Pajang, lebih dekat dengan Sunan Prapen, diumumkan sebagai Sultan Adiwijaya dari Pajang dengan restu sang raja pendeta, Sunan Prapen. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1581. Setelah itu, mereka makan bersama dan Sunan Prapen memberikan khotbah. Setelah para bupati selesai makan, sisa makanan dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan.

Disaat peristiwa makan itu, Pamanahan membiarkan dirinya didahului orang lain dan hal ini menarik perhatian Sunan Prapen. Pada saat yang sama, Sunan Prapen memanggil Pamanahan dan memberikan ramalan yang mengejutkan: "Keturunan Ki Gede Mataram akan memerintah seluruh rakyat Jawa, bahkan Giri pun akan patuh pada Mataram." Pamanahan mengucapkan terima kasih dan menawarkan kerisnya, tetapi ditolak. Kemudian, sang raja pendeta memerintahkan untuk menggali sebuah danau yang diberi nama Patut.

Setelah kembalinya rombongan dari Giri Kedaton, reaksi atas ramalan Sunan Prapen menggelora. Di Pajang, putra Sultan Hadiwijaya terkejut mendengar ramalan tersebut. Ia segera ingin menghentikan perkembangan Mataram, merasa bahwa hal tersebut akan mengancam kedudukan Pajang. Namun, Sultan Hadiwijaya, atau yang lebih dikenal sebagai Joko Tingkir, menolak untuk melanggar keputusan Tuhan. 

Baginya, ramalan itu merupakan bagian dari takdir yang sudah ditetapkan, dan ia tidak mau bertentangan dengan kehendak ilahi. Dalam keputusan Sultan Hadiwijaya tersebut tergambar ketegasan dan kepasrahan kepada kekuatan yang lebih tinggi. Meskipun ada ancaman terhadap kedudukan Pajang, Sultan Hadiwijaya memilih untuk menerima ramalan tersebut sebagai bagian dari rencana Tuhan. Ia memahami bahwa perlawanan terhadap takdir hanya akan membawa kerugian dan bencana.

Keputusan Sultan Hadiwijaya untuk tidak bertindak menunjukkan kedalaman iman dan kebijaksanaannya sebagai seorang pemimpin. Meskipun mungkin sulit bagi putranya untuk menerima ramalan yang mengancam posisi kekuasaan keluarganya, Sultan Hadiwijaya tetap berpegang teguh pada keyakinannya. Ia mengajarkan kepada putranya tentang arti penerimaan terhadap ketetapan takdir dan kebijaksanaan dalam menghadapi cobaan yang tidak terduga.

Reaksi Sultan Hadiwijaya juga mencerminkan sikap bijaksana dalam berpolitik. Meskipun Mataram mungkin menjadi ancaman bagi Pajang, Sultan Hadiwijaya memilih untuk tidak mengambil tindakan yang akan memperburuk hubungan antara kedua kerajaan. Sebaliknya, ia memilih untuk tetap menjaga stabilitas dan kedamaian di antara kedua pihak.

Sumber lain dalam Serat Kandha (508-523), tidak terlihat perbedaan cerita yang signifikan. Namun, tulisan tersebut lebih rinci dan kaya akan detail. Ki Pamanahan datang dengan 100 orang, sementara pengikutnya membawa 1.000 orang bersenjata. Sultan Pajang bahkan naik gajah. Hal ini menegaskan bahwa Sultan Pajang telah diakui oleh rakyat Demak sebagai raja, sehingga ia memohon pengukuhan dari Sunan Giri.

Suasana khidmat terpancar di hadapan para bupati di ujung timur Pulau Jawa. Sultan Pajang duduk di atas permadani di sebelah kanan raja pendeta. Bupati Mataram menunjukkan kesopanan yang luar biasa, terutama dalam persiapan selamatan setelah penobatan. Daun-daun pisang yang membungkus nasi dilipat dengan rapi dan tempatnya dibersihkan dengan teliti, menunjukkan perhatian pada detail.

Setelah itu, Sunan Giri Prapen menyampaikan ramalannya, dan Ki Gede Mataram mencium kaki sang raja pendeta. Kemudian, prosesi penobatan berlangsung kembali. Jika dibandingkan kedua cerita tersebut, ada perbedaan yang mencolok. Dalam Serat Kandha yang lebih tua, Raja Pajang awalnya tampil lebih revolusioner karena dipilih langsung oleh rakyat.

Kedua kisah tersebut menggambarkan kewibawaan luar biasa yang diemban oleh raja pendeta Giri, Sunan Prapen, yang hampir dianggap seperti seorang dewa oleh para pengikutnya. Keagungan beliau tercermin dalam partisipasi rakyat dalam proyek penggalian danau yang dilakukan secara bersama-sama. Oleh karena itu, diperkirakan bahwa inti cerita berasal dari lingkungan Giri yang memuja Sunan Prapen.

Pada tahun 1575, sebuah babak baru dalam sejarah Mataram Islam dimulai dengan meninggalnya Ki Gede Mataram (Ki Ageng Pamanahan), seorang tokoh penting dalam pemerintahan Desa Mataram. Sebelum menghembuskan napas terakhir, Ki Gede Mataram menyerahkan kepemimpinan Desa Mataram kepada putranya, Danang Sutawijaya, sementara urusan suksesi kekuasaan diserahkan kepada Ki Juru Martani, seorang abdi dalem keraton yang dipercaya.

Sehari setelah Ki Gede Mataram meninggal dunia, Ki Juru Martani beserta seluruh keluarga dari Mataram pergi menghadap Raja Pajang Sultan Hadiwijaya, yang juga dikenal sebagai Joko Tingkir. Mereka menunggu di bawah pohon beringin kurung di Alun-alun Pajang. Sultan Pajang memanggil Ki Juru Martani dan menerima berita duka atas wafatnya Ki Gede Mataram.

Setelah menerima laporan tersebut, Sultan Hadiwijaya menunjuk Danang Sutawijaya sebagai petinggi kerajaan dan pemimpin baru Desa Mataram. Dengan gelar baru, Senapati Ing Alaga Sayidin Panatagama, Senopati, seperti yang biasa dipanggil, mulai memimpin Desa Mataram. Di masa awal kepemimpinannya, Senopati belum menggunakan gelar Panembahan. Gelar tersebut baru digunakan setelah Senopati berhasil menguasai Pajang beberapa tahun kemudian.

Sebagai penguasa baru di bawah kekuasaan Pajang, Senopati diberikan keistimewaan, termasuk tidak perlu menghadap Sultan di Istana Pajang dalam tahun pertama kekuasaannya. Dia diberi keleluasaan untuk membangun daerah kekuasaannya agar semakin maju dan besar. Seperti yang diramalkan oleh Sunan Giri Prapen, bahwa Senopati akan menjadi seorang raja besar, ramalan tersebut menjadi kenyataan. Dengan ambisi dan kecerdikannya, Senopati berhasil mengubah Desa Mataram menjadi Kerajaan Mataram yang semakin berkembang dan menguasai Jawa. Mataram kemudian memberontak dan memisahkan diri dari Pajang, mendeklarasikan diri sebagai Kerajaan Mataram Islam.

Perang antara Pajang dan Mataram dimulai dengan hukuman mati yang diterima oleh Raden Pabelan, keponakan Senopati. Pabelan, yang terkenal sebagai seorang playboy, dihukum mati setelah menjalin cinta dengan Sekar Kedathon, putri Joko Tingkir. Merasa dipermalukan, Joko Tingkir menghukum mati Pabelan. Sementara itu, Senopati terpantau lama tidak menghadap Joko Tingkir di Pajang, sehingga Mataram dan Senopati dicap sebagai makar.

Kesultanan Pajang akhirnya menyerang Mataram, dengan Joko Tingkir memimpin pasukannya dengan gagahnya. Namun, saat perang terjadi, Gunung Merapi meletus, menimbulkan kekacauan di tengah-tengah pertempuran. Di tengah situasi yang kacau, Senopati dikatakan memukul Bendil Kiai Bicak yang kemudian mengeluarkan daya magis, membuat pasukan Pajang pusing dan muntah-muntah. Pajang akhirnya kalah dalam pertempuran tersebut.

Setelah pertempuran, Joko Tingkir dan pasukannya mampir ke makam Sunan Tembayat di Klaten. Namun, mereka tidak dapat masuk ke dalam makam, yang dianggap sebagai pertanda buruk bagi Joko Tingkir. Tak lama setelah itu, Joko Tingkir jatuh dari gajahnya dan kesehatannya terus menurun. Dengan perasaan yang sedih, Joko Tingkir memanggil anak-anaknya, termasuk Pangeran Benowo, putra mahkota Pajang. Kepada Benowo, Joko Tingkir berpesan agar tidak menaruh dendam kepada Senopati.

Setelah kematian Joko Tingkir, Mataram Islam semakin berkembang. Senopati berhasil menyatukan banyak wilayah yang sebelumnya terpisah dari Mataram. Di bawah kepemimpinan Panembahan Senopati, Mataram menjadi sebuah kerajaan yang besar dan berpengaruh di Jawa.

Dengan berlalunya waktu, kebenaran ramalan Sunan Prapen mulai terungkap dengan jelas. Mataram, yang pada awalnya hanya sebuah desa kecil di Jawa Tengah, tumbuh dan berkembang menjadi sebuah kekaisaran yang besar dan berpengaruh di Nusantara. Ramalan yang pernah diprediksi oleh Sunan Prapen tentang kejayaan Mataram akhirnya menjadi kenyataan yang tidak dapat disangkal.Pada masa pemerintahan Sultan Agung, daerah pesisir seperti Surabaya dan Madura berhasil ditaklukkan. Antara tahun 1613 hingga 1645, wilayah kekuasaan Mataram Islam meluas mencakup Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian Jawa Barat.

Kisah perjalanan Mataram dari sebuah desa kecil hingga menjadi negara besar yang diperhitungkan tidak hanya mencerminkan kecerdasan strategis pemimpinnya, tetapi juga merupakan bukti dari kekuatan takdir yang tidak dapat ditolak. Sunan Prapen, dengan visinya yang luas, telah memberikan petunjuk yang berharga bagi masa depan Mataram, meskipun pada saat itu mungkin belum sepenuhnya dipahami oleh semua pihak.

Ketika melihat ke belakang, kita dapat melihat bagaimana peristiwa-peristiwa yang terjadi selama berabad-abad di Nusantara telah membentuk garis waktu yang membawa Mataram menuju puncak kejayaannya. Dengan kebijaksanaan, keberanian, dan tekad yang kuat, para pemimpin Mataram mampu mengatasi segala rintangan dan tantangan yang mereka hadapi di sepanjang perjalanan mereka.


Topik

Serba Serbi sunan giri prapen mataram kisah sunan prapen


Bagaimana Komentarmu ?


JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Dede Nana