Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Serba Serbi

Katanning, Kehidupan Kampung Melayu di Australia 

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : A Yahya

28 - Feb - 2024, 14:31

Placeholder
Tampak suku Melayu yang tinggal di Katanning turut serta dalam The Katanning Harmony Festival pada Maret 2017. (Foto: YouTube)

JATIMTIMES - Katanning adalah sebuah wilayah kota kecil yang terletak jauh dari pusat kota Sydney sejauh 3000 KM, Australia. Tak seperti layaknya warga Australia, Katanning rupanya menjadi tempat bernaungnya etnis komunitas Kampung Melayu di Benua Australia.

Melansir YouTube Jelajah Bumi, wilayah Katanning ini menjadi rumah bagi sekitar 4.500 penduduk Melayu. Sebagian besar berasal dari Cocos Island, sebuah pulau kecil di tengah Samudra yang merupakan bagian dari Australia. Namun mayoritas penduduk Katanning menganut agama Islam, sementara sebagian lainnya mengikuti agama Kristen.

Baca Juga : Mengenal Christmas Island, Pulau Dekat Indonesia yang Dihuni Mayoritas Muslim

Meskipun hidup di Australia, masyarakat Melayu di Ketaning tetap menjunjung tinggi identitas mereka sebagai orang Melayu. Bahkan Bahasa Melayu menjadi bahasa komunikasi sehari-hari, ditambah dengan beberapa penduduk yang menggunakan bahasa Inggris.

Katanning, dengan kehidupan kampung Melayu di daratan Australia, membanggakan populasi karakter kehidupan yang sederhana dan menjunjung tinggi budaya toleransi.

Meski zaman modern telah merambah wilayah ini, berbagai hal adat dan tradisi tetap mempertahankan keindahan hunian kampung Melayu. Baik perayaannya, kulinernya maupun wisata alamnya masih bernuansa Melayu. 

Katanning bukan hanya sekadar kota kecil; ia adalah rumah bagi bangsa Melayu yang solid dan bersatu. Sejak tahun 1973 hingga 1990, banyak masyarakat Melayu dari Kepulauan Cocos, yang memiliki keturunan dari Semenanjung Malaka dan Sumatera, dipindahkan ke Ketaning oleh pemerintah Australia.

Alasan pemilihan Katanning sebagai tempat migrasi adalah karena kebutuhan akan tenaga kerja di sektor pertanian yang berkembang pesat.

Katanning kini telah menjadi kota yang diakui di mata dunia, dengan 50 kelompok etnis berbeda yang hidup berdampingan secara harmonis di Australia.

Kehidupan kampung Melayu terlihat dalam setiap aspek, mulai dari pakaian tradisional hingga prosesi pernikahan yang mencerminkan kekayaan budaya Indonesia dan Malaysia.

Baca Juga : Sejarah dan Makna di Balik Hari Raya Galungan 

Di sisi lain, perekonomian Katanning difokuskan pada industri pertanian dan peternakan yang terkenal. Selain itu, kebersihan dan tata ruang yang baik.

Meskipun jauh dari hiruk pikuk, Ketaning menawarkan keindahan alam yang memikat, menjadikannya tempat yang nyaman dan damai untuk dihuni.

Katanning juga dikenal sebagai pusat pertanian, peternakan, dan landasan kereta besar yang vital dari Australia Selatan. Komunitas Melayu di sini tidak hanya mempertahankan tradisi mereka, tetapi juga memberikan pengaruh yang kuat dalam setiap festival dan perayaan di kota ini.

Sementara itu, restoran Melayu yang menyajikan hidangan khas seperti nasi lemak, rendang, dan sate menjadi tempat populer di sepanjang kota. Bagi para wisatawan, Katanning bukan hanya tempat untuk menikmati kekayaan budaya, tetapi juga keindahan alam.

Misalnya beragam kekayaan budaya adalah hadirnya festival bunga Great Southern Treasure hingga konser taman dalam festival Harmoni. Waktu terbaik untuk berkunjung ke Katanning antara bulan Januari hingga Maret dan September hingga Desember. Karena di bulan-bulan ini ada beragan festival yang bisa disaksikan oleh wisatawan. 


Topik

Serba Serbi katanning kampung melayu australia sydney



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya