JATIMTIMES - Mardigu Wowiek Prasantyo atau akrab disapa Bossman Mardigu tengah menjadi perbincangan hangat. Nama Bossman Mardigu menjadi trending dalam penelusuran Google hingga Sabtu (27/1/2024) lantaran terkena isu tak sedap.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, media sosial X (Twitter) tengah ramai dengan narasi bahwa Bossman Mardigu digerebek oleh warga sekitar rumah selingkuhannya. Dalam narasi yang disampaikan akun X @PartaiSocmed, Mardigu tengah berada di rumah wanita bernama Destaza Hidayat, dari sore hingga menjelang tengah malam.
Baca Juga : Mujahid bin Jabar, Tabi'in Ahli Tafsir yang Meninggal saat Sujud
Destaza sendiri adalah mantan istri Muhammad Hanif Wicaksono, pria yang dipenjarakan Mardigu atas tuduhan pencemaran nama baik dan pelanggaran UU ITE. Beberapa tahun terakhir, Bossman Mardigu dirumorkan tengah menjalin kedekatan dengan Destaza, hingga membuat masing-masing berpisah dengan pasangan sahnya.
Usut punya usut, pelapor yang mengatakan Mardigu sedang berduaan dengan Destaza, ternyata anak Destaza sendiri. Anak Destaza melaporkan jika ada pria selingkuhan ibunya di rumahnya sejak sore hingga tengah malam dan minta agar rumahnya dicek.
Kabar digerebeknya Mardigu pun ramai hingga menyebabkan viral di X hingga penelusuram Google. Lantas siapa sebenarnya sosok Bossman Mardigu?
Nama Mardigu mulai mencuat lantaran dikenal sebagai pengusaha. Ia dikenal sebagai pencipta cyronium, salah satu pilihan investasi berbasis cryptocurrency. Pria kelahiran Madiun itu membuat cryptocurrency bersama perusahaannya yang bernama PT Santara Daya Inspiratama.
Sebagai informasi, Cryptocurrency merupakan mata uang digital, seperti Bitcoin. Perkembangan Cryptocurrency pun cukup pesat sejak 2015. Menurut Mardigu, cyronium merupakan mata uang digital yang memiliki aset jaminan berupa koin dalam bentuk fisik. Dia menggunakan teknologi blockchain untuk mendukung adanya transparansi dalam investasi. Klaim Mardigu cyronium lebih stabil dan harganya tidak akan turun dratis seperti cryptocurrency lainnya. Namun kabarnya usaha Mardigu tersebut ditentang Bank Indonesia hingga tak mendapat izin.
Selain itu, di bidang bisnis, Mardigu juga disebut-sebut sebagai mentor bisnis Sandiaga Uno. Ia juga disebut termasuk sebagai pengusaha 32 perusahaan skala nasional dan regional. Sederet bisnisnya di antaranya adalah di bidang oil dan gas. Pendapatan Mardigu di bisnis tersebut diklaim mencapai US$200 juta.
Tak hanya itu, rupanya Mardigu juga merupakan Owner PT Titis Sampurna, PT Empora Gaharu, Narapatih Mind & Mental Clinic. Bahkan disebut, jika Mardigu mematikan aliran gasnya ke Singapura, maka separuh negara itu akan gelap gulita.
Selain dikenal sebagai pengusaha, rupanya bidang keilmuan Mardigu adalah pakar Micro Expressions. Hal itulah yang menjadi alasan dia menjadi salah satu pengamat teroris di tahun 2005-2010. Mardigu kerap tampil di media sebagai pengamat teroris, daripada seorang pengusaha. Dia juga mengaku sudah mewawancarai lebih dari 400-an teroris, termasuk Nurdin M Top.
Baca Juga : Indosat Klaim Layanan Mulai Normal, Usai Alami Gangguan Jaringan Semalam
Mardigu juga dikenal sebagai MMT (Modern Monetery Theory), seseorang yang menganut teori moneter modern. Di mana dalam pandangannya tentang kebijakan moneter, Mardigu mengaku anti IMF dan Bank Dunia.
Mardigu juga menentang dollar sebagai mata uang dunia yang dicetak semau-maunya tanpa oleh Amerika sejak 1971. Dia bahkan mendorong pemerintah untuk mencetak uang (printing money) berlandaskan proyek.
Pembawa acara terkenal Helmy Yahya menilai jika Mardigu adalah sosok lengkap. Sebab tak hanya sebagai pengusaha, pria kelahiran 1960 tersebut juga dikenal sebagai motivator dan penulis buku.
Banyak karya Mardigu yang mengulas tentang bisnis. Termasuk karyanya yang jadi best seller adalah Sadar Kaya. Bahkan bukan hanya bisnis, ia juga menulis novel.
Sejak 2016, Mardigu juga dikenal sebagai pengkritik pemerintah Jokowi. Berbagai kebijakan ekonomi di masa pemerintahan Jokowi dia kuliti. Khususnya soalnya kebijakan ekonomi Indonesia yang dinilai terlalu condong ke China.
Salah satu kementerian yang "dikritisi" Mardigu adalah kementerian BUMN yang kala itu dipimpin Rini Soemarno. Saat ini, Mardigu juga kerap menyinggung panasnya suasana politik di Indonesia. Kritisnya Mardigu inilah yang membuatnya disukai sekaligus dibenci banyak orang.
