Tokoh Muhammadiyah Din Syamsuddin usai menghadiri  acara Muktamar XVIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Malang, Jumat (3/8/2018). (Pipit Anggraeni)
Tokoh Muhammadiyah Din Syamsuddin usai menghadiri acara Muktamar XVIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Malang, Jumat (3/8/2018). (Pipit Anggraeni)

MALANGTIMES - Tokoh Muhammadiyah Din Syamsuddin meminta para alim ulama tak mendikte masyarakat terkait pemilihan calon presiden pada 2019. Hal itu dia sampaikan saat usai menjadi keynote speaker dalam acara Muktamar XVIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Jumat (3/8/2018).

Baca Juga : Ini Jawaban Ustaz Yusuf Mansur saat Ditanya Apakah Dukung Anies Baswedan Maju Pilpres 2024

Menurut Din, para ulama berhak dan memiliki kebebasan dalam membuat ijtima terkait nama yang pas untuk menjabat sebagai presiden Indonesia dalam pemilihan tahun depan. Namum ketika ijtima itu berbeda antara satu ulama dengam yang lain, maka tidak seharusnya dipermasalahkan. "Kalau ada perbedaan, itu adalah hal yang wajar. Maka jangan sampai konflik," katanya kepada wartawan.

Ketua Majelis Ulama (MUI) periode 2005-2015 ini juga mengimbau agar masyarakat tak terpaku dengan hasil ijtima dari masing-masing ulama. Sebab, para ulama pada dasarnya memberi pencerahan kepada masyarakat. Hasilnya pun tak dapat dijadikan sebagai patokan secara absolut dalam proses pemilihan. "Terlebih berembel-embel logo. Jangan sampai itu menjadi penilaian absolut bagi masyarakat," imbuhnya.

Tak hanya itu. Din juga menyampaikan jika nama-nama calon presiden yang sudah mencuat di kalangan masyarakat selama ini memiliki sisi positif masing-masing. Sehingga sangat disayangkan jika dari hasil ijtimak, masyarakat menyimpulkan adanya sisi hitam dari salah satu nama yang tak terpilih.

Baca Juga : Dewan Dorong Pemkot Malang Salurkan Bantuan Sembako bagi Warga Terdampak Covid-19

"Saya rasa tidak ada sisi putih saja. Baik Pak Jokowi ataupun Pak Prabowo memiliki sisi putih dan hitam dan itu tidak harus jadi permasalahan hingga menyulut konflik," urainya lagi. (*)