Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Hiburan, Seni dan Budaya

Soekarni, Pemuda Blitar yang Bawa Bangsa Indonesia ke Pintu Gerbang Kemerdekaan

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Nurlayla Ratri

29 - Oct - 2023, 11:26

Placeholder
Soekarni Kartodiwirjo

JATIMTIMES- Kabupaten Blitar ditunjuk Pemprov Jatim sebagai tuan rumah pelaksanaan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-95 Tahun 2023. Peringatan Sumpah Pemuda ditandai dengan upacara di Alun-alun Kabupaten  Blitar di Kanigoro, Sabtu (28/10/2023).

Dalam amanatnya, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa ditunjuknya Kabupaten Blitar sebagai tuan rumah peringatan Sumpah Pemuda tak lepas dari sejarah. Blitar punya seorang pemuda luar biasa yang berperan besar dalam proses perjuangan pra kemerdekaan. Pemuda asli Blitar itu bernama Soekarni Kartodiwirjo.

Baca Juga : Peduli Adik-Adik Pejuang Sembuh, FIFGROUP Salurkan Bantuan ke Rumah Singgah Sahabat Nusantara

Soekarni Kartodiwirjo adalah tokoh pejuang kemerdekaan dan Pahlawan Nasional Indonesia. Gelar Pahlawan Nasional Indonesia disematkan oleh Presiden Joko Widodo pada 7 November 2014 kepada perwakilan keluarga Soekarni di Istana Negara Indonesia.

Soekarni adalah pahlawan nasional kelahiran Blitar. Ia lahir pada Kamis Wage di Desa Sumberdiren, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Namanya jika dijabarkan berarti "Su" artinya lebih sedangkan "Karni" artinya banyak memperhatikan dengan tujuan oleh orangtuanya agar Sukarni lebih memperhatikan nasib bangsanya yang kala itu masih dijajah Belanda.Soekarni merupakan anak keempat dari sembilan bersaudara yang berhasil memenuhi harapan orang tuanya, tampil sebagai pejuang dan ikut mengantar bangsa Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan.

Kiprah Soekarni dalam perjuangan sejatinya tidak terlalu mengherankan karena ia terlahir dari keluarga pejuang. Ayah Soekarni yaitu Dimoen Kartodiwirjo adalah keturunan dari Eyang Onggo, juru masak Pangeran Diponegoro, pemimpin Perang Jawa 1825-1830. Ibu Soekarni bernama Pidjah yang berasal dari Kediri. Bisa dikatakan pada waktu keluarga Soekarni berada dalam kategori ekonomi berkecukupan. Ayah Soekarni pada waktu itu membuka usaha jagal sapi dan toko daging di pasar Garum dan usahanya sangat laris.

Lahir dari keluarga dengan ekonomi mapan, menjadikan Soekarni tumbuh sebagai pemuda pribumi berpendidikan. Soekarni masuk sekolah PHIS Mardi Siswo di Blitar, sekolah khusus untuk pribumi yang didirikan Raden Kartowibowo.

Sebagai anak muda, Soekarni terkenal kenakalannya karena sering berbuat onar. Dia sering berkelahi dan hobi menantang orang Belanda. Dia pernah mengumpulkan 30-50 orang teman-temannya dan mengirim surat tantangan ke anak muda Belanda untuk berkelahi. Lokasi tempat perkelahian itu adalah di kebun raya Blitar, dekat sebuah kolam. Anak-anak Belanda menerima tantangan itu dan terjadilah tawuran. Kelompok Sukarni memenangkan perkelahian itu dan anak Belanda yang kalah dicemplungkan ke kolam.

Perkenalan Soekarni dengan dunia pergerakan nasional yang memperjuangkan kemerdekaan  Indonesia dimulai ketika ia berusia 14 tahun, tahun-tahun dia masuk menjadi anggota perhimpunan Indonesia Muda tahun 1930.  Semenjak itu dia berkembang menjadi pemuda militan dan revolusioner. Soekarni juga sempat mendirikan organisasi Persatuan Pemuda Kita.

Ketika di MULO, Soekarni dikeluarkan dari sekolah karena berulah mencari masalah dengan pemerintah kolonial Belanda. Bukannya surut, kejadian ini justru membuat semangat belajar Soekarni malah semakin membara. Dia bersekolah ke Yogyakarta,  dan kemudian ke Jakarta pada sekolah kejuruan guru. Atas bantuan Ibu Wardoyo (kakak Bung Karno), Soekarni disekolahkan di Bandung dan mengambil jurusan jurnalistik.Pada masa-masa di Bandung inilah, konon Soekarni pernah mengikuti kursus pengkaderan politik pimpinan Soekarno. Disinilah dia bertemu dan mengikat jalinan persahabatan dengan Wikana, Asmara Hadi dan SK Trimurti.

Tahun 1934 Soekarni berhasil menjadi Ketua Pengurus Besar Indonesia Muda, sementara itu Belanda mulai mencurigainya sebagai anak muda militan. Tahun 1936 pemerintah kolonial melakukan penggerebekan terhadap para pengurus Indonesia Muda, tetapi Soekarni sendiri berhasil kabur dan hidup dalam pelarian selama beberapa tahun.

Tidak lama sebelum Jepang  masuk, Soekarni ditangkap Belanda di Balikpapan dan kemudian dibawa ke Samarinda . Namun, setelah Jepang masuk, Soekarni berserta beberapa tokoh pergerakan lain seperti Adam Malik dan Wikana malah dibebaskan oleh Jepang. Awal-awal pendudukan Jepang, Soekarni sempat bekerja di kantor berita Antara yang didirikan oleh Adam Malik (yang kemudian berubah jadi Domei). Pada masa Jepang ini, Soekarni juga bertemu dengan Tan Malaka. Tan Malaka-lah yang menjadi otak pembentukan partai Murba dan dia jugalah yang menyarankan kepada anggota Murba lainnya agar Soekarni yang menjadi Ketua Umum.

Baca Juga : Usai Rekonstruksi, Jembatan Cinta Siap Dikunjungi

Tahun 1934, bersama Chairul Saleh, Soekarni memimpin Asrama Angkatan Baru Indonesia di Menteng 31.. Di tempat itu Soekarni makin giat menggembleng para pemuda untuk berjuang demi kemerdekaan Indonesia. Seperti diketahui, pada kurun selanjutnya, Menteng 31 dikenal sebagai salah satu pusat penting yang melahirkan tokoh Angkatan 45.

Mendengar berita kekalahan Jepang, kelompok pemuda dengan kelompok bawah tanah di bawah pimpinan Sutan Syahrir, bersepakat bahwa inilah saat yang tepat untuk memproklamirkan kemerdekaan. Soekarni, Wikana dan kelompok pemuda lainnya mendesak Soekarno dan Hatta, tetapi mereka berdua menolak. Akhirnya terjadilah perdebatan sengit yang berakhir dengan penculikan kedua tokoh tersebut, dengan tujuan menjauhkan Soekarno-Hatta dari "pengaruh" Jepang. Kedua pemimpin itu "diasingkan" ke Rengasdengklok oleh kelompok pemuda yang dipimpin oleh Soekarni.

Akhirnya semua pihak kemudian bersepakat bahwa proklamasi kemerdekaan akan segera dilakukan pada 17 Agustus 1945. Selanjutnya, Soekarni mengemban amanat kemerdekaan serta bahu membahu bersama kelompok pemuda lainnya dalam meneruskan berita tentang kemerdekaan ini. Soekarni membentuk Comite Van Aksi (semacam panitia gerak cepat) pada 18 Agustus 1945  yang tugasnya menyebarkan kabar kemerdekaan ke seluruh Indonesia. Khusus untuk para pemudanya dibentuk API (Angkatan Pemuda Indonesia) dan untuk buruh dibentuk BBI (Barisan Buruh Indonesia) yang kemudian melahirkan laskar buruh dan laskar buruh wanita.

Di zaman RI berkedudukan di Yogyakarta, Soekarni menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Persatuan Perjuangan (PP) di bawah ketua Tan Malaka. PP beroposisi dengan pemerintah dan menolak perundingan pemerintah terhadap Belanda. Aksi PP ini membuat Soekarni dijebloskan ke penjara pada tahun 1946. Selanjutnya Soekarni juga mengalami penahanan di Solo, Madiun dan Ponorogo (daerah komunis Muso) pada masa pemerintahan Amir Syarifudin (1947/1948)

Semenjak partai Murba terbentuk pada bulan November 1948 sampai wafatnya, Soekarni menjabat sebagai ketua umum. Dia juga duduk sebagai anggota Badan pekerja KNI Pusat. Dalam pemilihan Umum yang pertama (1955) Sukarni terpilih sebagai anggota Konstituante.

Sejak tahun 1961 Soekarni ditunjuk sebagai Duta Besar Indonesia di Peking, ibu kota RRT (Republik Rakyat Tiongkok) dan kembali ke tanah air pada bulan Maret 1964. Tapi berlawanan dengan harapan, partai Murba malah dibekukan oleh Orde Lama tahun 1965 dan Soekarni beserta pemimpin Murba lainnya di penjara.

Pada masa Orde Baru, Soekarni dibebaskan dan larangan Murba dicabut (direhabilitasikan 17 Oktober 1966). Kemudian Soekarni ditunjuk sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA, 1967) yang merupakan jabatan resmi terakhir. Tokoh yang mendapat Bintang Mahaputera kelas dua dan empat ini wafat pada tanggal 7 Mei 1971 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan upacara kenegaraan.


Topik

Hiburan, Seni dan Budaya Soekarni Blitar Sumpah Pemuda Khofifah



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Nurlayla Ratri