JATIMTIMES - Suhu ekstrem yang melanda dunia membuat musim panas semakin berbahaya bagi manusia. Hampir seluruh manusia di bumi ini merasakan suhu panas yang meningkat. Keadaan ini disebabkan oleh perubahan iklim, seperti yang disebutkan dalam analisis terbaru dari Climate Central.
Melansir CNN International, para peneliti dari Climate Central telah menganalisis bahwa perubahan iklim mempengaruhi suhu lebih dari 200 negara dan wilayah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antara Juni dan Agustus, 98% dari seluruh penduduk dunia atau sekitar 7,95 miliar orang, mengalami suhu panas tinggi yang disebabkan oleh perubahan iklim.
Baca Juga : Pencarian 8 Nelayan Prigi yang Hilang di Pantai Gayasan Blitar Terkendala Ombak Besar
Andrew Pershing, penulis utama laporan perubahan iklim mengatakan bahwa suhu panas menjadi sangat tinggi di setiap negara yang mereka analisis. Termasuk wilayah di Belahan Bumi Selatan yang seharusnya saat itu adalah musim dingin. Bahkan dalam beberapa kasus, hampir mustahil terjadi perubahan iklim tanpa campur tangan manusia.
Sekitar setengah dari seluruh populasi manusia, yaitu sekitar 3,9 miliar orang mengalami peningkatan suhu panas tiga kali lipat selama lebih dari 30 hari. Negara-negara yang termasuk dalam cuaca ekstrem ini adalah beberapa negara bagian di Amerika Serikat seperti Hawaii, Arizona, New Mexico, Texas, Louisiana, dan Florida.
Namun panas lebih parah berdampak pada negara-negara miskin karena ditambah dengan polusi udara. Negara miskin mengalami tiga hingga empat kali lebih banyak musim panas dengan dampak perubahan iklim yang kuat, dibandingkan negara-negara besar ekonomi dunia.
Laporan ini memberikan gambaran dampak perubahan iklim pada kehidupan manusia yang jelas mengerikan. Pershing menyatakan bahwa ada kesenjangan besar antara statistik global yang digunakan oleh ilmuwan dengan pengalaman langsung orang di seluruh dunia.
Pesan besar yang bisa diambil dari musim panas ini adalah bahwa tidak ada tempat yang aman dari panas akibat perubahan iklim. "
Kita tidak bisa lagi bersembunyi atau melarikan diri dari dampaknya," ungkap ilmuwan.
Baca Juga : NASA Bagikan Foto Pendaratan Chandrayaan-3 India di Bulan
Pasalnya data dari Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa menyebut bahwa musim panas ini adalah musim paling panas dalam sejarah dunia.
Temperatur Juni, Juli, dan Agustus melebihi 1,5 derajat Celcius dari tingkat pra-industri. Angka tersebut merupakan pelanggaran ambang batas penting yang diperingatkan oleh ilmuwan, sebagai upaya untuk mencegah dampak perubahan iklim paling mengancam jiwa.
Ilmuwan menekankan bahwa paparan manusia terhadap panas akan terus meningkat, kecuali manusia mengurangi polusi pemanasan planet menjadi nol. Dengan menjaga tingkat pemanasan di bawah 1,5 derajat, maka manusia dapat meminimalkan dampak perubahan iklim yang lebih buruk di masa depan.
