Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Serba Serbi

Beda Orang Beda Zaman, Gusti Puger Luruskan Sejarah Kiai Sala dan Ki Gede Sala

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Yunan Helmy

19 - Aug - 2023, 19:38

Placeholder
Putra Sunan Pakubuwono XII dan budayawan Keraton Surakarta KGPH Puger. (Foto: Aunur Rofiq/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Keraton Kasunanan Surakarta masih menjadi simbol Kota Solo meskipun zaman sudah berganti. Keraton warisan Dinasti  Mataram Islam itu tak pernah sepi pengunjung, meski kini statusnya sudah tidak istimewa lagi setelah bergabung dengan NKRI. 

Keraton Surakarta yang dulu negara berdaulat berganti menjadi daerah istimewa dan kini terdegradasi sebagai simbol budaya. Namun semua sepakat, keraton  besejarah itu harus tetap dijaga karena merupakan penjaga kebudayaan Jawa.

Baca Juga : Tokoh Bersahaja itu Berpulang

Di balik Benteng Baluwarti Keraton Surakarta yang megah itu, terdapat banyak  bangunan yang menyimpan cerita bersejarah. Salah satunya adalah makam  Ki Gede Sala. 

Yang cukup mengejutkan, makam ini berada di pojok benteng keraton. Lokasinya berada di gang sempit perkampungan di dalam Baluwarti. 

Ki Gede Sala merupakan tokoh yang diyakini menjadi cikal bakal berdirinya Kota Solo, sebutan lain dari Kota Surakarta. Sebelum Keraton Mataram dipindah dari Kartasura ke tempat di Surakarta sekarang ini, Desa Sala dulunya merupakan hutan rawa dan belum terdapat banyak pemukiman warga. 

Saat itu, Ki Gede Sala tinggal di desa tersebut dan ia mungkin adalah kepala desa. Penamaan Desa Sala berkaitan dengan pohon sala yang banyak dijumpai di daerah tersebut.

Makam Ki Gede Sala di dalam Baluwarti Keraton Surakarta itu sering didatangi peziarah dari dalam dan luar Kota Solo. Ziarah juga dilakukan oleh Pemerintah Daerah Surakarta setiap akan peringatan Hari Jadi Kota Surakarta. 

Namun belakangan terkuak, tokoh yang dimakamkan di pasarean itu ternyata bukanlah Ki Gede Sala, melainkan orang lain yang bernama Kiai Sala.

KGPH Puger, putra Sunan Pakubuwono XII, meluruskan sejarah ini. Ia mempertegas meski sama-sama bernama Sala, Ki Gede Sala dan Kiai Sala bukanlah orang yang sama. Kiai Sala adalah tokoh yang hidup di zaman Keraton Pajang yang dipimpin Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir). Sedangkan Ki Gede Sala adalah tokoh yang hidup pada zaman Keraton Kartasura era pemerintahan Sunan Pakubuwono II. Dua tokoh ini berbeda era dan tidak pernah bertemu pada satu zaman.

“Kiai Sala itu hidup masa Pajang dan Ki Gede Sala itu hidup masa Kartasura. Kan adoh (jauh) banget. Lha wong Pajang itu kerajaan sebelum Mentaok. Mentaok lalu jadi Mataram, Mataram lalu ke Plered dan Kartasura. Kan adoh banget. Pajang itu abad 16 akhir dan Kartasura itu abadnya 17 akhir. Jadi, jaraknya dua tokoh itu 100 tahun. Setelah Kiai Sala, baru 100 tahun kemudian ada Ki Gede Sala,” jelas Gusti Puger.

Gusti  Puger menegaskan, tokoh yang dimakamkan di dalam Baluwarti Keraton Surakarta itu adalah Kiai Sala. Catatan mengenai makam Kiai Sala itu ada dalam catatan arsip Keraton Surakarta.

Di masa lampau, jasad Kiai Sala dimakamkan di tempat yang saat ini berdiri bangunan sitinggil. Saat perpindahan keraton dari Kartasura ke Surakarta, jasad Kiai Sala dipindahkan ke makam yang sekarang karena makam yang lama itu akan dibangun bangunan sitinggil.

Sebelumnya,  Geger Pacinan yang terjadi pada tahun 1741 menyebabkan kehancuran bangunan Keraton Kartasura. Sunan Pakubuwono II memutuskan untuk memindahkan keraton ke daerah timur Kartasura, yaitu Desa Sala. Kebijakan pemindahan itu diambil karena renovasi keraton dan pembangunan keraton baru setelah dihitung biayanya sama besarnya. Raja  akhirnya memilih kebijakan opsi kedua, yaitu memindahkan keraton ke tempat yang baru.

Awalnya terdapat tiga tempat alternatif keraton baru, yaitu daerah Kadipolo, Sonosewu, dan Desa Sala. Desa Sala akhirnya dipilih karena letaknya yang strategis dan dekat dengan Bengawan Solo sebagai akses mobilitas. Sunan Pakubuwono II kemudian membeli tanah Desa Sala tersebut dari Ki Gede Sala.

“Karena akan dibangun oleh keraton, maka jasad Kiai Sala dipindah ke dalam Baluwarti. Yang di sitinggil bagian atas itu ada bekas atau petilasan makam beliau dan orang tetap ziarah ke sana.  Makam beliau dipindahkan supaya tidak mengganggu upacara kerajaan. Pemindahan makam ini ada dalam catatan keraton. Dan makam di pojok  Baluwarti itu terdapat tulisan Nawa yang diukir di batu. Tulisannya itu Kiai Sala,” terang Gusti Puger.

Gusti Puger menambahkan, setelah kampungnya yang bernama Desa Sala dibeli oleh Pakubuwono II, Ki Gede Sala diberi uang yang sangat besar dan diangkat sebagai birokrat kerajaan. Sebagai pejabat kerajaan, Ki Gede Sala ditugaskan di wilayah Kerajaan Surakarta dan ditransmigrasikan

Transmigrasi yang dijelaskan Gusti Puger menarik untuk dianalisis. Pada zaman itu, Keraton Surakarta adalah negara berdaulat yang memiliki wilayah kekuasaan hampir di seluruh tanah Jawa. Sebagai pejabat kerajaan, bisa jadi Ki Gede Sala pada waktu itu ditugaskan di wilayah luar atau wilayah mancanegara Keraton Surakarta.

Penugasan di wilayah luar itu cukup kuat untuk menjabarkan mengapa makam Ki Gede Sala tidak berada di dalam area Baluwarti. Keraton Surakarta juga tidak memiliki catatan di mana Ki Gede Sala dimakamkan.

 “Ki Gede Sala ditransmigrasikan setelah menerima uang 1.000 ringgit dan tanahnya dipakai oleh negara. Ki Gede Sala setelah itu jadi petinggi kerajaan, tapi kuburane neng endi yo ora enek sing ngerti. Kuburane yo manut karo keluargane. Makam Ki Gede Sala itu tidak ada dalam catatan keraton. Yang ada catatan itu pemindahan makam Kiai Sala,” lanjutnya.

Baca Juga : Tradisi Nyadran Sakral di Pelang Lor, Warga Saling Lempar Nasi 

Gusti Puger berharap dengan pemaparan ini, maka sejarah akan menjadi jelas. Yakni tokoh yang dimakamkan di pojok Baluwarti keraton itu adalah Kiai Sala, bukan Ki Gede Sala. Selama ini banyak orang memahami makam di pojok Baluwarti itu adalah Makam Ki Gede Sala.

“Tulisan latin Ki Gede Sala di kawasan makam itu sebenarnya salah. Harusnya segera dibenarkan. Di makam itu kan ada tulisan Jawa yang terukir di batu. Tulisan itu Jawa itu tulisan Kiai Sala,” tegasnya.

Bukti kuat bahwa Kiai Sala hidup di zaman Keraton Pajang adalah cerita mengenai aksinya menyelamatkan jasad Raden Pabelan. Raden Pabelan adalah seorang playboy di zaman Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir). Pabelan adalah putra Tumenggung Mayang, salah seorang bupati di Kerajaan Pajang. Peristiwa ini mungkin terjadi di sekitaran pertengahan abad ke-15.

Raden Pabelan, putra Tumenggung Mayang itu, berwajah tampan rupawan tapi bandel. Pabelan juga suka mengganggu anak istri orang. Ketampanan pemuda ini jadi buah bibir. Banyak gadis Pajang terpesona karena Pabelan memang menjadi idaman.

Diam-diam ulah Pabelan membuat ayahnya pusing. Penyebabnya sang anak lelaki ini tidak mau menikah dan sukanya hanya main-main mengganggu perempuan.

Raden Pabelan akhirnya dieksekusi oleh Joko Tingkir setelah membuat onar dan menggemparkan seisi kerajaan. Joko Tingkir marah setelah Pabelan tertangkap basah berkencan dengan putrinya yang bernama Putri Kedaton. Setelah dieksekusi, jasad Pabelan dibuang ke Bengawan Solo.

Berhari-hari jasad Raden Pabelan terombang-ambing di Bengawan Solo yang saat itu bernama Sungai Laweyan. Jasad sang pemuda tampan itu kemudian diselamatkan Kiai Sala. Kiai Sala kemudian menyempurnakan jasad Pabelan dengan memakamkannya secara layak di tempat yang saat ini berada di pojok benteng Alun-Alun Keraton Surakarta.

Konon dimakamkannya Pabelan di tempat tersebut merupakan permintaan yang diterima Kiai Sala melalui komunikasi gaib. Dalam komunikasi gaib itu, Kiai Sala yang baik hati mendengar bahwa Pabelan telah mengakui perbuatannya yang tidak benar. Kepada Kiai Sala, Pabelan kemudian meminta agar jasadnya dimakamkan di sebelah barat Bengawan Solo.

“Pabelan berkata kepada Kiai Sala, tulong kuburku kekno neng sebelah barat Bengawan Solo. Suatu hari nanti, akan ada negara besar di wilayah tersebut,” ungkap Gusti Puger.

Apa yang dikatakan Pabelan itu kemudian benar-benar menjadi kenyataan. Selang sekitar seratus lima puluh tahun kemudian sejak kematiannya, tempat Pabelan dimakamkan yang berupa rawa-rawa itu berubah menjadi sebuah negara besar. Negara besar itu adalah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang didirikan Sunan Pakubuwono II. 

Hingga kini, makam Raden Pabelan tetap di tempat yang sama. Jasadnya tidak dipindah meskipun di sekeliling tempat ia tidur abadi telah menjadi pusat pertokoan.

Selain makam Pabelan, masih di kawasan Baluwarti Keraton Surakarta, tepatnya di kawasan makam Kiai Sala, juga ada makam Kiai Carang dan Nyai Sumedang. 

Cerita lisan yang berkembang, dua tokoh terakhir itu merupakan teman seperguruan Ki Gede Sala saat menyebarkan agama Islam di Desa Sala. Cerita ini muncul karena makam tiga tokoh itu berdiri berdampingan.

Terkait makam dua tokoh terakhir, yaitu Kiai Carang dan Nyai Sumedang, Gusti Puger menyampaikan dengan penjelasan berbeda. Menurut Gusti Puger, dua orang ini adalah tokoh yang hidup setelah zaman Kiai Sala yang hidup di zaman Kerajaan Pajang. Dua tokoh ini yaitu Kiai Carang dan Nyai Sumedang  hidup di masa-masa awal Kerajaan Mataram Islam.

 “Nyai Sumedang Larang adalah pasukan wanita yang hidup di zaman Sultan Agung. Beliau itu adalah underbound-nya Sultan Agung. Pada waktu itu mungkin terjadi perang dan beliau wafat dan dimakamkan di situ. Jadi, makam kedua tokoh itu sudah ada sebelum makam Kiai Sala dipindahkan dari Baluwarti ke tempat itu,” pungkas Gusti Puger.


Topik

Serba Serbi Kerajaan Mataram Islam Kerajaan Pajang Kiai Sala Kiai Gede Sala Gusti Puger



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Yunan Helmy