Lokasi candi yang pernah ditemukan di Penarukan, Kepanjen. Ada asumsi candi tersebut merupakan persemayaman dari abu Ken Arok. (Istimewa)
Lokasi candi yang pernah ditemukan di Penarukan, Kepanjen. Ada asumsi candi tersebut merupakan persemayaman dari abu Ken Arok. (Istimewa)

MALANGTIMES - Menelisik sejarah Desa Penarukan, Kepanjen, yang dulunya disebut Dungulan, akan banyak hal yang membuat kita terperangah. Walau belum ada atau kurangnya literatur yang menguatkan mengenai hal-hal yang terpendam di desa yang kini terbilang padat penduduk ini.

Melalui berbagai penuturan para sesepuh desa, sebut saja Kamituwo Ketanen Mbah Mustari (1912-1997) yang pernah menuturkan, bahwa Penarukan dari penuturan kakek buyutnya, merupakan wilayah yang menyimpan kekayaan luar biasa. Konon, di wilayah Penarukan masa silam pernah ditemukan berbagai peninggalan bersejarah dari peninggalan Singhasari.

Baca Juga : Disebut Tak Sopan, Ustaz Abdul Somad Komentari Lirik Lagu Aisyah Istri Rasulullah

Hal ini dibuktikan dengan adanya penemuan serupa candi yang lokasinya di dekat Sungai Brantas. Candi yang sempat ditemukan tersebut, sayangnya kembali diuruk. Hanya arca dari lubang atap candi yang diambil dan dikoleksi oleh seorang kolektor benda purbakala asal Kepanjen. Tidak jauh dari lokasi candi, tersembunyi dalam aliran sumber air di pinggiran Kali Brantas, terdapat sebuah goa yang disebut Urung-urung.

Urung-urung, konon merupakan tempat pertapaan. Dimana, dulu, masih menurut berbagai penuturan pernah ditemukan berbagai harta karun masa lalu. Uang gobog, lempengan tembaga, perhiasan dari emas sampai pada artefak-artefak kuno. Sayangnya, seluruh harta karun Penarukan yang kemungkinan merupakan wilayah Kagenengan, tempat persemayaman dan  perabuan Ken Arok Raja Singhosari, tidak terlacak rimbanya lagi.

Berbagai temuan harta karun serta candi terpendam di wilayah Penarukan apabila dikaitkan dengan Kagenengan dan disandarkan pada Kitab Pararaton dan Negara Kertagama, akan terlihat ada keterkaitannya. Kagenengan atau bisa diartikan dengan tempat yang tergenang. Sebagai tempat Ken Arok bersemayam, memperlihatkan bahwa nama wilayah tersebut berkaitan dengan bencana alam saat itu.

Kitab Pararaton menceritakan adanya banjir besar dan gunung meletus. Pun dari Kitab Negarakretagama didapat cerita yang sama pada pupuh 37-39. Diperkuat dengan cerita sejarah Kerajaan Jenggala, gunung meletus dan banjir besar saat itu sampai mengalihkan arah alur Sungai Porong. Efek peristiwa bencana alam tersebut juga dipercaya yang melahirkan berbagai nama desa saat itu sampai sekarang. Dungulan, Kampung Ledok dan Kampung Pendem, juga nama Desa Kedung Pedaringan.

Aliran banjir di masa silam tersebut, mengalir ke kampung Ledok. Ledok sendiri merupakan wilayah dengan cerukan di antara wilayah lainnya. Dari aliran tersebut, dimungkinkan tercipta suatu Kedung yang terjadinya hanya satu bulan. Hingga lahirlah nama Dungulan (Penarukan saat ini, red). 

Karena besarnya banjir, aliran air terus mencari wilayah  yang lebih rendah. Sehingga sampai di Sungai Petung dan membentuk kedung yang dinamakan Kedungpedaringan. Sedangkan di Ledok, air banjir yang mengering menjadi lumpur terciptalah kampung Pendem.

Baca Juga : Meninggal Usai Sebulan Dirawat, Keluarga Minta Pelayat Tak Hadiri Pemakaman Glenn Fredly

Di areal itulah candi beserta harta karun berupa emas,  tembaga,  artefak kuno pernah ditemukan. Di areal itu pula secara gambaran peristiwa masa lalu, mirip dengan wilayah Kagenengan, tempat perabuan Ken Arok. 

Tidak pelak, muncul asumsi bahwa Penarukan yang kini merupakan salah satu kelurahan di Kepanjen, dulunya adalah Kutaraja. Asumsi ini juga didasarkan pada fakta yang kini ada. Bahwa Penarukan,  Kepanjen dijadikan ibu kota Kabupaten Malang. Bukan wilayah lainnya yang dianggap sebagai Kagenengan.  

Dari berbagai sumber.