Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Hiburan, Seni dan Budaya

Meski Sepi Penonton, Ki Subur Dalang Pribumi Tetap Setia Mainkan Pagelaran Wayang Potehi

Penulis : Eko Arif Setiono - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

18 - Jun - 2021, 15:15

Placeholder
Sugio Waluyo alias saat memamerkan wayang potehi.(Eko Arif S/ JatimTIMES)

KEDIRITIMES - Aroma wangi dupa menyeruak di areal Klenteng Tjoe Hwie Kiong, dipadu suara Gembreng, Kecer, Simbal, Rebab, Terompet dan Tambur menambah kesakralan pertunjukan Wayang Potehi yang dimainkan dari dalam Tobong (kotak) yang berukuran 4x4 meter.

Permainan pengantar musik oleh seorang dalang satu asisten dan dua pemain musik ini merupakan awal dimulainya pertunjukan kesenian yang berasal dari dataran Cina.

Baca Juga : Warga Perum Permata Regency 1 Berteriak, Tolak Perbaiki Jalan dengan Biaya Swadaya

Beberapa saat setelah musik pengantar, sang dalang bernama Sugio Waluyo yang akrab disapa Ki Subur ini, kemudian memunculkan tokoh-tokoh dalam cerita wayang potehi yang sore itu dimainkan di depan Klenteng Tjoe Hwie Kiong yang berada di Jalan Yos Sudarso , Kelurahan Pakelan Kota Kediri masih berada di kawasan pecinan.

Pria kelahiran Surabaya 17 Mei 1962 tersebut merupakan salah satu dalang Wayang Potehi asli pribumi yang kini masih eksis. Dalam pertunjukannya bapak 4 anak ini berkeliling di beberapa daerah di Indonesia bahkan sampai ke Jepang dan Malaysia untuk bermain wayang potehi.

Subur menggelar pertunjukan Wayang Potehi di Klenteng Tjoe Hwie Kiong khusus memperingati hari lahir Mak Co, ia tampil mulai pukul 14.00 - 16.00 wib dan pukul 17.00 - 19.00 wib. Dengan lakon cerita yakni Sie Kong dan Cap Pwe Lo Hwan Ong.

Selama 2 jam, Ki Subur mendalangi Wayang Potehi bersama tiga orang pembantunya. Dengan luwes dan cekatan ia memainkan jari-jarinya di dalam wayang dari balik panggung berukuran 4x4 meter.

Pria asal Surabya ini sudah belajar menjadi dalang Potehi sejak usia 10 tahun. "Sebenarnya belajar jadi dalang itu sejak 1972. Saat itu saya baru berusia 10 tahun," katanya.

Tantangan menjadi seorang dalang Potehi yakni dalam hal bersuara. Seorang dalang harus bisa mengeluarkan suara pria, setengah muda, sementara perempuanada yang tua muda dan anak kecil.

"Kalau saya biasanya pakai tim. Dalangnya saya, asisten satu orang, dua orang lainnya pemain musik. Minimal itu lima orang, tapi tetap disesuaikan juga dengan event-nya," terang Subur.

Kisah ia menjadi dalang Potehi bermula saat tinggal dan tumbuh besar di wilayah Pecinan Surabaya. Subur kerap kali mencari hiburan dengan menonton pertunjukan Wayang Potehi di sekitar rumahnya. Bakat menjadi dalang Wayang Potehi ini pun mengalir dari sang paman yang juga menjadi dalang. 

Subur banyak mempelajari kisah dan cerita Wayang Potehi dari buku-buku sejarah dan para seniornya. 

Menurutnya, salah satu kesulitan dalam memainkan Wayang Potehi ini adalah soal intonasi suara yang pas. Misalnya saja bagaimana ketika memainkan peran kepala pasukan perang, suaranya harus lantang dan berwibawa, berbeda ketika sedang memerankan rakyat jelata.

Baca Juga : Kisah Sahabat Rasul yang Mati di Medan Perang, Dikira Mati Syahid Ternyata Ahli Neraka

''Oleh karena itu, dalang mesti paham betul karakter setiap wayang," ungkapnya.

Subur juga  tidak mempermasalahkan ada tidaknya penonton wayang yang dimainkannya, seperti sore ini hanya ada dua gelintir orang menonton pertunjukan wayangnya. Sebab hakikatnya, Wayang Potehi adalah pertunjukan persembahan untuk para dewa.

"Jadi ada penonton maupun tidak, ya kita tetap main secara profesional," ujarnya.

Wayang Potehi, kata dia, bukanlah sekadar pertunjukan budaya. Namun oleh warga Tionghoa dianggap sebagai ritual doa dan persembahan.

"Dengan mempersembahkan Wayang Potehi kepada para dewa, pemesan berharap hajatnya dikabulkan, atau persembahan sebagai rasa syukur atas rezeki yang diterima," tuturnya.

Karena itu, setiap pembukaan Wayang Potehi selalu disertai ritual doa dengan menyebut nama pemesan. Subur mengaku mendapat beragam pesanan pertunjukan Wayang Potehi, dari yang hanya satu kali cerita berdurasi dua jam, sehari penuh, bahkan sebulan penuh, tergantung pemesan.

Wayang Potehi merupakan kesenian klasik yang berasal dari negeri Tiongkok. Kesenian Wayang Potehi sendiri telah ada sejak zaman kekaisaran Tiongkok. Potehi sendiri berasal dari kata poo yang berarti kain, tay yang berarti kantung dan hie yang berarti wayang.

Diperkirakan, kesenian tua ini berkembang di Indonesia melalui pedagang Tiongkok yang datang ke Indonesia sekitar abad ke-16.


Topik

Hiburan, Seni dan Budaya



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Eko Arif Setiono

Editor

Sri Kurnia Mahiruni